
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 88
Ruang rawat inap itu kini ramai dikunjungi oleh orang-orang yang menjenguk Aulia. Pagi-pagi sudah ada Alvan dan Gus Fathir. Kakek Yusuf dan Nenek Halimah merasa senang karena keadaan Aulia kini lebih baik. Panasnya juga sudah turun, tadi suhu tubuh Aulia 39,1° celsius. Sekarang sudah menjadi 37,8° celsius.
"Aulia, aku siapin, ya?" Alvan langsung sigap saat ada seorang mengantarkan makanan untuk Aulia.
"Hey, kamu tidak sopan," kata Gus Fathir mencegah Alvan melakukan hal itu.
"Aku ini hanya mau membantu Aulia," ucap Alvan dengan tatapan penuh kesal pada saingan cintanya ini.
Kakek Yusuf dan Nenek Halimah pun turun tangan. Kakek Yusuf mengajak Alvan dan Gus Fathir untuk makan bersama di kantin rumah sakit. Sementara itu, Nenek Halimah membantu Aulia makan dan minum obat.
"Apa kamu sakit karena terlalu memikirkan pinangan dari mereka bertiga?" tanya Nenek Halimah saat menyuapi Aulia.
"Tidak tahu, Nek. Mungkin saja. Aulia kepikiran terus mana yang terbaik dari mereka bertiga," jawab Aulia dengan pelan.
"Kamu sudah shalat istikharah?" Nenek Halimah memegang tangan Aulia dan menggenggamnya dengan lembut.
"Sudah tiga hari ini setiap malam selalu melakukan shalat istikharah. Tapi, hati ini masih belum bertambat pada mereka," aku Aulia dengan nada sedih dan raut wajah yang sendu.
"Kamu jangan memaksakan diri. Serahkan semuanya kepada Allah. Dia-lah yang akan menuntun diri kamu dalam memutuskan pilihan jodoh," ujar Nenek Halimah.
Aulia pun mengangguk. Dia tahu kalau jodoh sudah di tuliskan oleh Allah. Dia hanya perlu berusaha untuk menjemputnya. Jika sudah tiba waktunya, maka semuanya pun pasti terjadi.
***
__ADS_1
Kakek Yusuf mengajak Alvan dan Gus Fathir makan di kantin. Ketiganya membeli nasi uduk dan teh manis. Setelah selesai Kakek Yusuf ingin mendengar alasan sebenarnya mereka bolos masuk kerja.
"Gus Fathir, kenapa bolos masuk kerja? Seharusnya Gus Fathir tahu akan tanggung jawab pada pekerjaan," tanya Kakek Yusuf sambil melihat ke arah laki-laki berpakaian kasual.
"Maaf, Ustadz Yusuf. Hari ini memang aku tidak libur, tetapi masuk nanti siang hari," jawab Gus Fathir dengan perasaan malu.
"Saya harap Gus Fathir tidak mengabaikan tanggung jawab sebagai pengajar. Jika tidak ada halangan yang benar-benar udzur dan tidak bisa diwakilkan," ucap Kakek Yusuf yang menohok hati duda tanpa anak ini.
'Hahaha, kasihan sekali Gus Fathir ini. Untung saja aku kerja di tempat sendiri. Jadi, tidak akan ada yang protes.' (Alvan)
Merasa tidak akan mendapat omongan dari Kakek Yusuf, pemuda itu tersenyum tipis. Namun, senyuman itu langsung hilang saat lelaki tua itu menatap ke arahnya.
"Alvan," panggil Kakek Yusuf.
"Iya, Kek," balas Alvan.
"Kamu itu seorang pemimpin. Seharusnya memberikan contoh yang baik pada karyawan kamu. Bagaimana bisa kamu membawa perusahaan menjadi lebih baik, jika pemimpinnya saja tidak bertanggung jawab. Sebaiknya kalian berdua kerjakan apa yang menjadi tanggung jawab kalian. Biarkan Aulia kami yang jaga, karena ini adalah tanggung jawab kami sebagai wali Aulia," tukas Kakek Yusuf.
Akhirnya, kedua laki-laki itu pun pamit kepada Aulia dengan berat hati. Terlihat jelas di wajah mereka. Apalagi Alvan yang tatapan matanya penuh dengan harap agar dibiarkan di sana ikut menjaganya.
"Tuan Alvan, kasihan Mario jika harus meng-handle semua pekerjaan. Bukannya hari ini Anda akan melakukan sidak terhadap para pegawai?" Aulia ingat akan jadwal laki-laki itu.
"Iya, ini juga mau pergi," kata Alvan dengan tidak rela.
Gus Fathir pun membacakan doa untuk Aulia. Doa ini dibaca sebanyak tujuh kali.
“As’alullāhal azhīma rabbal ‘arsyil ‘azhīmi an yassfiyaka."
(Artinya: “Aku memohon kepada Allah Yang Agung, Tuhan arasy yang megah agar menyembuhkanmu).
__ADS_1
“Allāhummasyfi Aulia. Allāhummasyfi Aulia. Allāhummasyfi Aulia.”
(Artinya: “Tuhanku, sembuhkan Aulia. Tuhanku, sembuhkan Aulia. Tuhanku, sembuhkan Aulia).
"Aamiin," balas semua orang di sana.
"Semoga nanti sore demamnya sudah turun dan besok sudah bisa pulang," ucap Gus Fathir dengan suaranya yang lembut.
"Aamiin. Terima kasih Gus Fathir, juga Tuan Alvan. Sudah menjenguk saya di sela-sela kesibukan kalian," tukas perempuan berjilbab kopi susu.
***
Seharian itu Aulia tidur dan bangun hanya saat akan sholat dan makan obat. Suhu tubuhnya juga sudah normal saat tengah hari. Ini membuat Kakek Yusuf dan Nenek Halimah merasa senang.
Saat Aulia selesai makan obat datang Rangga dengan seorang anak kecil perempuan, yang bernama Syafiyah. Gadis kecil itu merasa sangat senang bisa bertemu dengan Aulia lagi.
"Assalamu'alaikum, Bunda Aulia," salam gadis kecil itu dengan suaranya yang lucu dan mencium tangannya.
"Wa'alaikumsalam, Safiyah." Aulia membalas mencium kening dan mengusap kepala anak berumur dua tahun lebih ini.
"Safiyah langsung ingin menjenguk kamu, begitu tahu kamu sedang sakit," kata Rangga.
Aulia senang dengan Safiyah, anak balita yang lucu dan menggemaskan. Seandainya saja Rangga tidak mengadopsi anak itu, pastinya dia yang akan mengambilnya dari rumah panti asuhan.
"Terima kasih, Safiyah." Aulia pun memeluk tubuh mungil itu dengan senyum terus menghiasi wajahnya.
"Bunda Aulia, setiap hari aku berdoa kepada Allah agar Bunda Aulia dan papa bisa bersama selamanya sampai tua dan meninggal nanti," ucap Safiyah mengaku.
***
__ADS_1
Akan ke mana hati Aulia berlabuh? Akankah Rangga memanfaatkan Safiyah untuk mendapatkan sang pujaan hati? Tunggu kelanjutannya, ya!