
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 85
Keesokan harinya, Rangga menemui Aulia di taman tempat biasa dia menghabiskan waktu istirahatnya. Dia menunggu sampai perempuan itu selesai makan, baru menghampirinya.
"Assalamualaikum, Aulia," salam Rangga begitu Aulia selesai membereskan tempat makanannya.
"Wa'alaikumsalam," balas perempuan bercadar merah marun.
"Bolehkah aku duduk di sana?" tanya Rangga sambil menunjuk kursi yang ditempati oleh Aulia.
"Boleh," jawab Aulia. Lalu, dia pun berdiri dan hendak pergi dari sana.
"Aku ingin bicara sesuatu yang penting dengan kamu," ucap Rangga dengan tangan yang menggantung di udara. Tadi, dia berniat menahan Aulia agar jangan pergi.
Aulia pun membalikan badan dan kini keduanya berdiri saling berhadapan. Rangga melihat ke arah wanita yang sedang menundukkan kepalanya. Dia rasanya ingin memeluk dan menangkup wajah pujaan hatinya ini seperti yang dulu sering dia lakukan.
"Apa yang ingin Kakak bicarakan?" tanya Aulia.
Hati Rangga bergetar, meski nada bicara Aulia tidak semanja dan semanis dahulu. Namun, kini suaranya terdengar lembut dan tegas di waktu yang bersamaan.
"Aku … aku masih mencintaimu! Maukah kamu kembali merajut kembali perasaan cinta kita yang sempat terputus? tanya Rangga dengan hati-hati.
__ADS_1
"Aku tidak ingin mengulangi dosa yang pernah kita buat dahulu," jawab Aulia.
"Tidak, bukan begitu. Maksud aku, kita menikah dan membangun rumah tangga bersama. Seperti impian kita dahulu," ujar Rangga.
Kini Aulia mengangkat wajahnya. Dia melihat kesungguhan dan harapan pada sorot mata Rangga. Pancaran netra yang sama seperti dahulu. Saat perasaan mereka masih menggebu-gebu akan cinta yang bergelora.
"Aku … aku tidak bisa menjawabnya untuk saat ini," balas Aulia dengan pelan.
Perempuan itu sendiri sedang pusing akan permintaan Alvan untuk menjadikan dirinya menjadi pasangan pendamping hidupnya. Kini, ditambah Rangga yang menawarkan untuk merajut kembali hubungan yang pernah putus dahulu.
"Aku akan selalu menunggu jawaban darimu. Aku tidak akan memaksa dirimu untuk kembali bersama dan mewujudkan impian kita dahulu. Meski begitu aku berharap kamu memberikan jawaban sesuai dengan yang aku harapkan," kata Rangga.
Aulia menganggukan kepala, lalu pergi meninggalkan Rangga sendirian di taman yang sepi itu. Hati Aulia merasa menghangat dan sedikit bergetar. Dia teringat kembali akan pembicaraannya dengan Rangga dahulu, saat mereka masih pacaran.
***
Flashback
"Membuat bolu kesukaan Kak Rangga," jawab Aulia sambil melirik sebentar pada laki-laki yang kini memeluk tubuhnya dari belakang.
Tangan Rangga sudah bertengger di dua benda bulat kesukaannya. Bibirnya juga menciumi tengkuk dan leher sang kekasih.
"Kak, tunggu aku sampai selesai membuat bolu dahulu," lirih Aulia yang sudah bisa merasakan tubuhnya meremang.
"Itu terlalu lama, Sayang." Rangga merengek karena di sudah tidak mendapatkan jatah dari Aulia. Sebab, gadis itu sedang datang bulan, semenjak satu minggu yang lalu. Kebetulan hari ini adalah di mana Aulia sudah dalam keadaan suci.
__ADS_1
Rangga dan Aulia mengarungi surga dunia dengan perasaan penuh gairah dan tidak ingat akan dosa-dosa yang sedang ditumpuk oleh mereka. Mulai dari pemanasan sampai mereka merasa puas, waktu yang diperlukan oleh mereka sekitar 1 jam lebih sedikit.
"Sayang, lihat ini! Aku sudah meminta seorang teman untuk merancang rumah impian seperti yang kamu inginkan." Rangga menunjukan sebuah gambar rancangan dari tablet kepada Aulia.
Gambar 3 dimensi yang menunjukan sebuah rumah yang memiliki halaman luas dan bangunan tingkat dua. Ruang-ruang di dalamnya juga tergambar secara terperinci. Sangat bagus, itu yang terlintas dalam pikiran Aulia.
"Aku sudah menyiapkan tempat dan uang untuk buat rumah ini sedang ditabung. Semoga bisnis yang sedang aku jalankan bisa berjalan lancar dan secepatnya bisa membangun rumah ini," kata Rangga.
"Aku sudah tidak sabar ingin segera menikah Kakak," balas Aulia dengan suara manja dan mempererat pelukannya pada Rangga.
"Sabar, sampai kamu lulus kuliah, ya, Sayang." Rangga mencium mesra bibir kekasihnya.
Flashback off.
***
"Astaghfirullahal'adzim. Astaghfirullahal'adzim. Ya Allah, lupakan ingatan aku akan kejadian itu," gumam Aulia dengan mata yang berkaca-kaca.
Banyak sekali kenangan Aulia dan Rangga yang tersimpan dalam kotak memorinya. Sebagian besar dari kenangan itu ingin dia lupakan. Namun, sepertinya itu terasa sulit, karena selalu saja tiba-tiba muncul ke permukaan.
"Ya Allah, Engkaulah yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi diri hamba-Mu yang lemah ini. Jangan biarkan aku kembali menjadi hamba yang jatuh dalam gelimang dosa zina. Tuntutlah diri ini menuju jalan yang Engkau ridhoi." Aulia terus berdoa berharap dia jangan kembali mengulang kesalahannya di masa lalu.
***
Rangga dan Alvan sudah mengutarakan keinginan mereka secara langsung untuk menjadikan Aulia sebagai seorang istri. Lalu, bagaimana dengan Gus Fathir? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Maaf teman-teman telat up date. Kondisi tubuh kurang fit.