Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 104. Jodoh Adalah Cerminan Diri


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 104


Untuk mau melancarkan perjodohan antara Amelia dan Rangga, maka Aulia pun memulainya dengan mendekatkan Safiyah dengan temannya itu. Ketika hari Sabtu dan Minggu anak itu berkunjung ke rumah, maka Aulia pun memanggil Amelia agar datang ke rumahnya. Niatnya untuk mendekatkan dua orang ini.


"Safiyah, ini namanya Bunda Amel," kata Aulia mengenalkan temannya ini kepada anak Rangga.


"Siapa bocah ini, dia lucu sekali?" tanya Amelia sambil mengusap kedua pipi chubby milik Safiyah.


"Dia anaknya kak Rangga," jawab Aulia.


Kebetulan hari ini Safiyah datang ke rumah Aulia diantar oleh sopir dan pengasuhnya. Sementara itu Papi Damar dan Mami Shinta tidak ikut.


"Assalamu'alaikum, Safiyah. Kenalkan nama aku adalah Amelia, kamu bisa memanggil aku dengan sebutan tante Amel," ucap Amelia.


"Bunda Amel!" tegas Aulia.


"Kamu harus membiasakan Safiayah memanggil kamu Bunda Amel," tambah Aulia.


"Bunda Amel," panggil Safiyah dengan suaranya yang lucu khas anak kecil.


Aulia dan Amelia pun tersenyum mendengar anak kecil itu mau manggil dengan sebutan 'Bunda Amel'. Lalu, ketiganya pun bermain bersama menghabiskan waktu seharian itu.


Aulia juga mengajarkan Amelia cara menindak bobokan Safiyah, yang lebih senang dibacakan sholawat daripada nyanyian lagu pengantar tidur. Selain itu dia juga memberitahu apa saja makanan kesukaan anak Rangga ini. Juga apa saja makanan yang tidak disukainya.


Amalia sendiri sebenarnya belum jatuh hati kepada Rangga. Hanya saja dia melihat laki-laki itu sebagai sosok yang baik dan mampu menjadi imam bagi keluarga mereka nanti. Perempuan itu pernah bilang daripada dijodohkan oleh orang tuanya lebih baik mencari sendiri calon suaminya itu.


"Curi hati anaknya dulu, baru curi hati bapaknya," kata Aulia menggoda Amelia.

__ADS_1


Kedua wanita itu pun tertawa. Biasanya para wanita muda selalu lebih terbuka kepada temannya saat membicarakan sesuatu, terutama mengenai perasaan yang sedang dia rasakan saat ini.


"Bisa saja kamu. Bagaimana kalau hati anaknya sudah berhasil aku raih. Namun, hati bapaknya terlalu sulit untuk aku gapai," balas Amelia dan itu membuat tawa Aulia terhenti.


Aulia tahu kegamangan hati yang senang dirasakan oleh teman yang ini. Beberapa hari yang lalu, Alvan sudah memberitahukan hal ini. Mereka juga mendoakan agar keduanya itu benar-benar berjodoh.


"Jodoh itu sesuatu yang ghaib dan hanya Allah yang tahu siapa jodoh kita. Siapa tahu kamu memang jodoh dari kak Rangga," balas Aulia.


"Bukannya jodoh itu mencerminkan diri kita? Namun mengapa masih ada pasangan yang salah satunya jelek perilakunya sedangkan yang satunya selalu taat kepada Allah?" tanya Amelia.


"Bisa saja Allah berikan pasangan itu ujian dan menjadikan yang tidak baik itu menjadi baik. Karena jika sabar menerimanya akan Allah berikan sesuatu kebaikan yang tidak pernah terbayangkan," balas Aulia dengan suaranya yang lembut.


"Tapi, dalam Al-Qur'an disebutkan,"Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. [Qs. An Nur:26]" ucap Amelia.


Wanita baik untuk lelaki yang baik dan sebaliknya, itu adalah penjelasan dari ayat diatas. Arti kata baik dan tidak baik disini apakah dilihat menurut manusia secara umum atau menurut golongan tertentu atau  menurut agama. Baik dan tidak baik menurut golongan tertentu belum tentu baik dan tidak baik menurut agama. Sementara itu, baik menurut agama sudah tentu baik untuk manusia dan tidak baik menurut agama juga sudah tentu tidak baik untuk manusia. 


"Ayat ini hanya menjelaskan wanita baik dan tidak baik hanya karena agama saja. Bisa saja ada rahasia Allah yang ikut berperan dalam menentukan baik dan buruk.


Seperti sayyidah Asiyah yang diperistri oleh firaun. Beliau adalah wanita yang mulia berjodoh dengan Fir'aun yang durhaka pada Allah. Bukankah ini salah satu contoh bahwa wanita baik yang tidak diperuntukan untuk lelaki yang baik. Menurut agama Asiyah adalah wanita yang baik, sedangkan Fir'aun adalah lelaki yang durhaka. Ini artinya baik dan buruk seorang manusia itu merupakan rahasia Allah dalam menentukan perjodohan.


Amelia pun membenarkan dalam hatinya. Kalau hal itu bisa saja terjadi. Dia juga teringat akan ucapan seorang ustadz yang berceramah di masjid dekat rumahnya beberapa hari yang lalu.


Ketika ada seorang wanita yang baik-baik menikah dengan lelaki yang tidak baik, atau sebaliknya. Sebab, dari disitu ada rahasia Allah yang tidak diketahui. Begitu juga baik dan buruk itu merupakan rahasia Allah swt.


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi [pula] kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. [QS. al-Baqarah [2]:


(Wallahu a'alam)


Saat kedua perempuan itu asik berbicara datang Nenek Halimah sambil membawa tiga wadah puding. Tadi pagi Aulia sengaja membuat itu untuk Kakek Yusuf dan Nenek Halimah.


"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Nenek Halimah.

__ADS_1


"Tentang jodoh adalah cerminan diri," jawab Aulia.


"Ungkapan Jodoh adalah cerminan diri sendiri sudah ada sejak lama. Namun, benarkah bahwa jodoh merupakan cerminan diri? Memang benar adanya jika kita sebagai manusia yang kodratnya berpasang-pasangan berusaha untuk memilih jodoh atau pendamping tidak boleh sembarangan agar kelak bisa membimbing dan melindungi keluarga. Sebab, pernikahan pada dasarnya dilakukan hanya sekali seumur hidup dan kita menginginkan orang yang terbaik. Maka sebelum kita mencari jodoh, perbaiki diri kita," kata wanita tua itu memulai pembicaraannya. Aulia dan Amelia diam mendengarkan.


"Lalu, apa maksud jodoh adalah cerminan diri ? Dalam pandangan islam ungkapan ini tidak bisa dikatakan salah. Karena terdapat sebuah dalil yang menguatkan ungkapan ini. Bagi seseorang yang ingin ingin mendapatkan jodoh yang baik. Maka sebaiknya dia mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang yang siap berubah menjadi lebih baik, sebagai seorang muslimah yang sholehah menurut agama Islam," lanjut Nenek Halimah.


Sebagaimana yang pernah diungkapkan dalam firman Allah Subhanallahu Wa Ta'ala dalam Al-Qur'an surat An-Nur ayat 26. "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji [pula], dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik [pula]. Mereka [yang dituduh] itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka [yang menuduh itu]. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia [surga]." Nenek Halimah menjelaskan agar kedua perempuan ini salah paham.


"Kalau surat Al-Qur'an yang sering ada di kartu undangan pernikahan?" tanya Amelia.


Aulia dan Nenek Halimah tertawa kecil. Sebab, mendengar ucapan Amelia barusan terasa lucu. Kenapa bisa-bisanya ingat pada kartu undangan pernikahan.


"Itu Al-Qur'an surat Ar-Ruum ayat 21.“Dan diantara kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri,supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya,dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” Nenek Halimah membacakan surat yang dimaksud oleh Amelia.


"Aku jadi ingat sama Kakek Yusuf pernah membicarakan hal ini dahulu. Jodoh menurut Hadis Nabi Muhammad “Tidak ada yang dapat menolak takdir [ketentuan Allah] kecuali doa dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali berbuat kebaikan.” [HR Tirmidzi, HR. Ibnu Majah]" Aulia meletakan wadah bekas puding yang sudah dia makan habis.


"Dari ayat Alquran dan Hadis itu menegaskan bahwa muslim yang baik adalah untuk muslimah yang baik dan lelaki yang buruk adalah untuk wanita yang buruk pula, maka tugas seorang muslim atau muslimah yang baik adalah ber-ikhtiar dengan sungguh-sungguh dan berdoa kepada Allah agar mendapatkan jodoh yang baik, dan menyerahkan sepenuhnya ikhtiar-nya tersebut pada ridha dan ketentuan Allah dengan cara yang sesuai dengan nilai-nilai Islam," jelas Nenek Halimah.


"Lalu, Nek. Tentang jodoh adalah cerminan diri tapi kenapa terkadang yang baik Allah jodohkan dengan yang tidak baik?" tanya Amelia masih belum puas.


Sebagaimana janji Allah di dalam Alquran bahwa manusia sudah diciptakan berpasang-pasangan bahkan saat masih menjadi ruh, lalu untuk apa kita masih meragukan perihal jodoh? Sebagai manusia tidak sepantasnya meragukan ketetapan Allah SWT mengenai jodoh, yang bisa kita lakukan adalah terus berdoa dan terus berusaha berikhtiar untuk memperbaiki diri dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperdalam ilmu agama agar mendapatkan jodoh yang terbaik.


"Akan tetapi, untuk suatu hikmah bagi seluruh umatnya, Allah menguji beberapa hambanya dengan ujian ini, agar hambanya bisa mengambil pelajaran ketika di uji dengan ujian yang sama. Ketika kita melihat bagaimana ketaqwaan Asiyah menghadapi Fir'aun yang sangat kejam. Maka di sini menjadi pelajaran untuk para wanita muslimah seakan Allah hendak memberi nasehat pada para istri bahwa:


"Ketahuilah bahwa suamimu bukanlah malaikat, maka dia pasti memiliki kesalahan. Namun, ingatlah bahwa dia tidak seburuk Fir'aun, maka tetaplah ingat kebaikan-kebaikannya dan bersikap baiklah padanya."


"Kita menjadikan Asiyah sebagai teladan hidup kita untuk meraih kemuliaan itu? Dia seorang istri raja, gemerlap dunia mampu diraihnya, istana dan segala kemewahannya dapat dengan mudah dinikmatinya. Namun, apa yang dipilihnya? Dia lebih memilih disiksa dan menderita karena keteguhan hati dan keimanannya. Dia lebih memilih kemuliaan di sisi Allah, bukan di sisi manusia. Jangan sampai dunia yang tak seberapa ini melenakan kita. Melenakan kita untuk meraih janji Allah Ta’ala, surga dan kenikmatannya. Jangan sampai karena alasan kondisi kita mengorbankan keimanan kita, mengorbankan aqidah kita," jelas istri dari Kakek Yusuf.


***


Apakah Amelia akan berjodoh dengan Rangga? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan menarik, loh. Cus kepoin karya dia di lapaknya!



__ADS_2