
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan main skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan bahagia selalu.
***
Bab 57
Aulia masih terdiam untuk beberapa detik karena mendengar ucapan Alvan. Dia pun langsung berdiri sedangkan Alvan kembali tertidur. Aulia pun keluar dari kamar itu dan pergi menuju lantai dua.
Keesokan harinya, suasana di rumah Aulia agak sepi. Apalagi mereka makan di ruang yang berbeda. Mutiara sudah agak mendingan, kondisi tubuhnya tidak panas seperti kemarin. Aulia juga tidak banyak bicara dan Annisa sedang tidak mood bicara apa-apa.
"Kalian, kenapa?" tanya nenek Halimah melihat ke arah ketiga perempuan itu.
"Hn, aku tidak apa-apa, Nek," jawab Aulia.
"Aku sedang tidak mood bicara, Ustadzah. Lagi menahan sakit perut karena baru datang bulan," ujar Annisa.
"Sa-ya se-dang ti-dak enak ba-dan," balas Mutiara.
"Ya, sudah kalau begitu. Rumah terasa sepi karena tidak terdengar canda dan tawa kalian," ucap nenek Halimah.
"Aulia pulang hari besok?" tanya Annisa.
"Insha Allah," jawab Aulia.
"Aku akan bawakan oleh-oleh untuk tetangga kamu," tukas Annisa sambil tersenyum.
"Terima kasih, Ning. Memangnya mau kasih oleh-oleh apa?" tanya Aulia balik.
"Mas Gibran kan buka pabrik garmen yang memproduksi baju busana muslim anak sampai dewasa, mukena, dan sarung. Aku dan Abah tuh kemarin pas ke sana beli banyak dan masih ada sisa setelah dibagikan pada santri," jawab Annisa.
"Wah, pasti senang deh, mereka." Aulia mengacungkan jempol.
"A-ku ju-ga mau be-ri ke-ri-pik su-kun," kata Mutiara tidak mau kalah.
"Wah, jangan-jangan sudah panen sukun di kebun belakang rumah, ya?" tanya Aulia.
"I-ya. Ba-nyak se-kali bu-ah-nya," jawab Mutiara tersenyum.
"Jual ke pabrik, lumayan tuh uangnya," pungkas Aulia.
__ADS_1
"Su-dah. Ma-sih a-da si-sa," lanjut Mutiara.
"Kalian memang sahabat terbaik aku! Tetangga di kota pastinya akan sangat senang," kata Aulia merangkul Annisa dan Mutiara dengan senyum lebar.
***
Sementara itu, di ruang makan ada Iqbal, kakek Yusuf, Alvan, dan Mang Asep sedang sarapan. Mereka bincang-bincang setelah selesai makan. Alvan sudah kembali seperti biasanya. Dia juga banyak membicarakan bisnis dengan Iqbal. Alvan ingin agar Iqbal bisa mempelajari dunia bisnis sampai tingkat perusahaan. Dalam hati Alvan dia ingin merebut perusahaan milik Barata dan mengembalikan kepada Mutiara.
Setelah tahu siapa Barata, Kenzo mencari tahu sosok ayah Mutiara, Darmawan (aku lupa apa pernah kasih nama untuk bapaknya Ara. Anggap saja yang ini yang benar). Ternyata, Darmawan itu saat masih bujang adalah teman lama papi Kenzo dan mami Siska. Alvan pun setuju dengan ide papinya karena dia tahu kalau Mutiara adalah orang yang berhak atas kekayaan itu. Barata dulunya adalah saingan Darmawan saat sekolah.
"Nak Alvan, apa masalah dengan Aulia sudah diselesaikan?" tanya kakek Yusuf.
"Masalah saya dengan Aulia? Saya merasa tidak ada dengan Aulia. Apa ada sesuatu yang saya tidak diketahui?" tanya Alvan sambil menatap ke tiga orang laki-laki yang duduk di meja makan.
"Bukannya kemarin kamu marah sama Aulia?" tanya Iqbal.
"Saya tidak marah pada Aulia," jawab Alvan.
"Lalu kenapa kamu kemarin mengunci pintu dan tidak makan malam bersama kami," tanya Iqbal lagi.
"Aku sedang membicarakan sesuatu yang penting dengan papi. Setelah itu aku ketiduran di kasur," jawab Alvan dengan muka yang berubah merah.
"Astaghfirullahal'adzim, maafkan aku. Sungguh tidak ada niatan buat semua orang panik. Semalam saya tidak pergi salat ke masjid karena mulas dan tidak enak kalau ada makanan atau minuman masuk ke dalam perut," ujar Alvan jujur.
"Apa sebaiknya diperiksa ke dokter?" tanya kakek Yusuf.
"Tidak perlu, Kek. Sekarang sudah baikan. Buktinya sarapan saya habis," jawab Alvan sambil memperlihatkan piring bekasnya yang sudah bersih tidak bersisa.
"Kamu besok akan pulang kembali ke kota?" tanya kakek Yusuf.
"Iya, Kek. Apa Kakek juga mau ikut? Aulia pasti senang jika Kakek bisa ikut. Papi dan mami juga ingin kenalan dan bertemu dengan Kakek Yusuf dan nenek Halimah," balas Alvan.
"Tidak, kami tidak ingin membuat Aulia kerepotan. Dia harus bekerja dari pagi sampai malam, jika kami ikut dia akan semakin sibuk nantinya," ujar kakek Yusuf tanpa ada niat menyindir Alvan.
Bagai ada batu besar yang menimpa tubuh Alvan saat mendengar ucapan kakek Yusuf barusan. Itu terasa seperti sindiran halus untuknya. Dia mempekerjakan Aulia sejak pagi hari hingga waktu Isya. Seakan rumah Aulia itu hanya untuk tidur saja.
***
Alvan pun mencari Aulia dan ingin menjelaskan apa yang sudah terjadi semalam. Dilihatnya perempuan itu sedang menyiram tanaman hias. Alvan pun menghampiri Aulia dan berdiam diri di belakangnya.
__ADS_1
"Aulia," panggil Alvan.
"Astaghfirullahal'adzim. Tuan, ada apa?" tanya Aulia hanya melihatnya sekilas dan melanjutkan lagi menyiramnya karena tanggung tinggal satu pohon lagi.
Kini, Aulia berdiri menghadap Alvan setelah menyimpan alat untuk menyiram tanaman tadi. Dia tidak menatap Alvan hanya menunduk.
"Sepertinya kemarin ada kesalahpahaman, aku bukan mengurung diri di kamar. Hanya saja ada sedikit urusan dan aku sampai tidak keluar kamar," ucap Alvan.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Aku juga ingin minta maaf, atas kata-kata yang aku ucapkan kemarin yang sudah melukai hati Tuan. Sungguh, saya tidak bermaksud buruk pada Anda," kata Aulia.
"Ya, aku sudah memaafkan kamu," balas Alvan dengan senyum tipisnya.
"Terima kasih banyak, Tuan," ucap Aulia dengan sopan.
Keduanya kini malah saling diam. Baik Alvan ataupun Aulia bingung mau bicara apalagi. Untungnya ada Annisa datang ke sana.
"Lia, Mas Fathir akan datang ke sini. Tidak apa-apa, 'kan?" tanya Annisa.
"Hn, tidak apa-apa, kok! Rumah ini terbuka untuk siapa saja yang hendak menyambung tali silaturahmi. Termasuk Gus Fathir," jawab Aulia.
'Gus Fathir? Siapa dia?" tanya Alvan dalam hatinya penasaran.
"Dia akan mengantarkan barang-barang yang tadi aku bilang," lanjut Annisa.
"Oh. Aku beberapa kali bertemu dengan Gus Fatih di Kota Kembang. Sekarang dia menjadi dosen di kota itu, ya?" tanya Aulia.
"Iya. Aku kok, nggak tahu kalau kalian sering bertemu? Mas Fathir nggak pernah bilang, Abah dan Ummi juga nggak pernah bilang apa-apa kepada aku. Sepertinya, Mas Fathir masih mengharapkan dirimu. Mau dilanjutkan khitbah yang dulu sempat terputus?" bisik Annisa sambil menaik turunkan alisnya.
'Khitbah? Apa itu?' tanya Alvan masih dalam hatinya. Dia pun langsung membuka handphone miliknya dan mencari arti kata itu di internet.
"Kalau jodoh tidak akan kemana. Hanya saja saat ini aku belum mau menjadi bagian keluarga ndalem," balas Aulia.
"Mas Fathir itu sudah melepaskan diri dari calon penerus pemegang tanggung jawab pesantren. Dan Mas Gibran bersedia ambil alih kembali tugasnya yang dulu dia berikan kepada Mas Fathir," ucap Annisa dengan berbisik. Kedua perempuan itu bicara dengan berbisik-bisik.
"Maksudnya, Ning?" tanya Aulia dengan penasaran.
"Kalau kamu mau menjadi istri mas Fathir, kalian tidak akan tinggal di pesantren. Apalagi sekarang dia bekerja di luar kota," jawab Annisa.
***
__ADS_1
Nah, loh! Alvan apa yang akan kamu lakukan kalau saingan untuk merebut hati Aulia yang ini masih hidup? Bagaimana reaksi Gus Fathir saat melihat ada laki-laki asing di rumah Aulia? Tunggu kelanjutannya, ya!