Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 47. Bertemu Rangga Kembali


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Setelah itu, kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia selalu.


***


47


     Aulia menundukkan kepala agar tidak di sapa oleh Rangga. Dia takut kalau terus diajak bicara dia akan ketahuan kalau itu adalah dirinya. Selama ini, saat dia bicara dengan Rangga selalu menggunakan nada datar atau tegas, berbeda dengan saat dulu yang sering bicara dengan nada manja dan sopan.


"Hei, ada apa? Tumben datang pagi-pagi ke sini," tanya Alvan sambil mendongak ke arah Rangga.


"Apa perlu alasan khusus untuk aku menemui kamu?" tanya Rangga balik.


"Ya, tidak juga. Hanya saja, biasanya kamu kalau datang dengan cara seperti ini pasti ada maunya," balas Alvan.


"Sebaiknya kita bicara di kantor kamu saja," ucap Rangga. Dia pun melirik ke arah Aulia.


"Kamu, Aulia?" tanya Rangga.


"Iya," balas Aulia singkat.


"Kamu kenal sama Aulia?" tanya Alvan dengan nada terkejut.


"Hanya tahu, saja. Dia cucu Ustadz Yusuf, sepertinya aku dulu pernah cerita sama kamu, saat aku bilang ada gadis berhijab yang mengingatkan aku pada Aulia, kekasihku. Apalagi nama mereka juga sama, Aulia," jelas Rangga.


"Oh, iya." Alvan pun mengangguk-anggukan kepalanya.


    Ketiga orang itu pun masuk ke dalam lift bersama. Hanya Rangga yang banyak bicara di antara mereka, Alvan hanya menjawab singkat-singat, dan Aulia diam seribu basa hanya jadi pendengar saja.


"Aulia, kamu duduk di sana. Kamu bisa membantu aku memeriksa apa ada tulisan yang typo atau angka yang salah dari laporan yang diberikan oleh Mario atau Yukari," titah Alvan dan Aulia pun duduk di meja samping di sebelah kanan meja milik Alvan.


     Rangga menatap Alvan yang melihat gadis yang memakai niqob itu dengan tatapan yang hangat. Dia merasa kalau sahabatnya itu menyukai gadis pendiam itu.


"Alvan, kamu suka sama Aulia?" tanya Rangga dengan berbisik.


"Biasa saja," jawab Alvan dusta.


"Baguslah. Karena dia sudah punya suami," lanjut Rangga dan membuat Alvan tersedak.


"Suami?" tanya Alvan tidak percaya karena jelas-jelas Aulia sendiri bilang kalau dia punya suami nanti akan berhenti bekerja karena ingin menjadi ibu rumah tangga.


"Iya, bahkan dulu hari pernikahan kami di gelar di waktu yang bersamaan. Aku pernah bertemu dengan calon suaminya dulu. Namanya Ahmad, dia orang yang sangat baik dan ramah," jawab Rangga.


'Ahmad. Laki-laki seperti apa dia?' batin Alvan.


"Aku tidak menyangka kalau dia akan bekerja kepada kamu. Setahu aku tempat tinggalnya sangat jauh dari sini," tambah Rangga.

__ADS_1


"Dia melakukan suatu kesalahan," balas Alvan.


"Kesalahannya?" tanya Rangga penasaran.


"Dia merusak dukumen perjanjian perusahaan ini dengan perusahaan PT. Cempaka Putih," jawab Alvan.


"Apa? Bukannya itu kerja sama dengan perusahaan besar dan pastinya dapat bantuan investasi yang sangat besar," kata Rangga.


"Hn," balas Alvan.


"Oh, iya. Sampai lupa tujuan aku datang ke sini. Aku dapat kabar tentang Aulia," kata Rangga senang.


"Nanti kamu kena tipu lagi. Kamu sudah mencarinya selama lima tahun ini. Belum menyerah juga," ucap Alvan.


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah berhenti mencarinya," tukas Rangga sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


      Aulia tiba-tiba tubuhnya menegang. Dia merasa tidak suka dengan perbuatan Rangga yang tidak berhenti mencarinya.


"Memangnya informasi apa yang kamu dapatkan kali ini?" tanya Alvan.


"Aku dapat kabar kalau Aulia dulu mengalami kecelakaan dan bayi kami meninggal akibat keguguran," jawab Rangga.


"Jadi, anak kamu meninggal dan keberadaan Aulia sekarang entah di mana. Apa kamu masih mau mencarinya?" tanya Alvan.


"Ya, tentu saja. Bukannya aku sudah bilang seperti itu tadi," jawab Rangga.


"Aku tidak akan menyerah sampai bisa memastikan dengan mata kepala sendiri, kalau Aulia hidup bahagia. Aku ingin wanita yang aku cintai itu tersenyum bahagia dan tidak ada air mata lagi dari netranya yang indah," ucap Rangga.


      Jantung Aulia lagi-lagi bertali saat mendengar ucapan Rangga. Dia tahu benar kalau Rangga adalah orang yang sangat loyal padanya. Dia juga akan melakukan apapun untuknya agar dirinya merasa bahagia.


'Ya Allah, kuatkan hati dan iman hamba-Mu ini,' batin Aulia.


      Hampir satu jam Rangga berbicara dengan Alvan. Sementara itu, Aulia hanya duduk manis di mejanya. Dia mulai bekerja saat Yukari memberikan beberapa tumpukan map hasil kerja para pegawai dari beberapa divisi. Aulia pun membaca kata per kata di lembaran kertas itu memeriksa apa ada kesalahan dalam pengetikan.


***


     Aulia merasa bersyukur karena ada masjid di dekat komplek gedung perkantoran di sana. Dia juga berkenalan dengan beberapa orang yang bekerja baik di perusahaan yang sama ataupun dari perusahaan yang berbeda.


"Tuan, mau makan siang di mana?" tanya Aulia.


"Hn, kenapa kamu tidak membuat untuk makan siang aku?" balas Alvan menatap Aulia dengan kesal.


"Apa aku juga harus membuatnya? Aku kira itu beli jadi di kantin kantor atau rumah makan di luar sana," aku Aulia belum paham.


"Mulai besok kamu yang sediakan makan untuk aku. Mulai dari sarapan, makan siang, dan makan malam," ucap Alvan dengan tatapan tajam tidak mau dibantah oleh Aulia.

__ADS_1


"Kalau aku yang masak, takutnya itu tidak sesuai dengan selera di lidah milik Tuan," tukas Aulia.


"Aku tidak punya alergi makanan tertentu, jadi akan aman makan apapun kecuali kalau kamu memasukan racun ke dalam makanannya," ujar Alvan menggoda Aulia.


"Astaghfirullahal'adzim, Tuan. Tidak pernah terlintas dalam pikiran aku untuk melakuakan hal seperti itu," bantah Aulia dengan kesal dan berdecak menganggap serius ucapan Alvan.


"Kita makan di rumah makan yang ada di simpang lima saja," ajak Alvan dan Aulia pun mendorong kursi roda Alvan.


'Sabar Aulia. Orang sabar di sayang Allah. Selama dia tidak menindas kamu, ikuti saja kemauannya,' batin Aulia.


***


     Sore harinya Aulia pulang mengantarkan Alvan, dia juga menyiapkan baju ganti dan membuat makan malam untuknya. Para pelayan di sana merasa aneh, kenapa Aulia meski memasak, padahal sudah ada koki. Namun, mereka semua diam saja takut tuan rumah akan marah.


"Nona, mau masak apa?" tanya kepala pelayan.


"Hm, sayuran saja. Aku lihat banyak jenis sayuran tadi di kulkas. Aku mau masak sayur bayam saja karena aku sedang buru-buru mau pulang," jawab Aulia dengan tangan sibuk menyiapkan bumbu.


     Tidak begitu lama, sayur bayam, tempe goreng, dan ikan goreng sudah Aulia siapkan dan dibantu oleh dua orang pelayan. Dia juga membuat jus tomat karena sangat banyak tomat merah di dalam kulkas.


"Tuan, makanannya sudah saya siapkan, Anda tinggal makan. Saya izin pulang karena ada acara pengajian di masjid dekat rumah," ucap Aulia.


"Ya, sudah kamu pulang saja," balas Alvan.


***


     Aulia sampai rumah begitu adzan Magrib, dia cepat-cepat mandi lalu sholat. Ibu RT memanggilnya begitu Aulia selesai sholat. Dia pun menyahut dan bergegas keluar rumah.


"Sekarang kamu kerja?" tanya Bu RT.


"Iya, Bu," jawab Aulia.


"Bu RT, Ustadz yang memberikan ceramah minggu ini bagian Ustadz ganteng itu, 'kan?" tanya seorang ibu yang tadi datang bersama Bu RT ke rumah Aulia.


"Iya, makanya banyak ibu-ibu yang semangat pergi ke masjid," jawab Bu RT sambil tersenyum.


"Ustadznya masih muda, loh," bisik Bu RT kepada Aulia.


"Biasanya mereka sudah menikah meski masih muda," balas Aulia bercanda.


"Kayaknya dia tidak punya istri, deh," balas ibu-ibu yang lainnya.


"Yuk, masuk! Kita duduk harus bagian barisan depan biar bisa lihat wajah gantengnya," kata RT sambil menarik tangan Aulia masuk ke dalam masjid.


***

__ADS_1


Kalian pasti tahu nih siapa ustadz itu. Akankah ada perjodohan oleh ibu-ibu pengajian untuk Aulia? Rangga masih saja pantang menyerah mencari Aulia, kenapa begitu? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2