
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan.
***
Bab 50
Hari sudah siang dan suasana di dalam kantor Alvan terasa sepi. Hanya terdengar suara AC dan kertas yang dibuka bolak-balik.
"Tuan ini sudah siang waktunya sholat Zhuhur dan makan siang," kata Aulia sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Tidak terasa waktu bergulir dengan begitu cepat," gumam Alvan sambil menghentikan pekerjaannya. Lalu, dia mengarahkan kursi roda ke kamar mandi yang ada di pojok kiri ruangan.
Alvan sudah belajar sholat dan biasanya jika sholat dia melakukan itu di ruangan tempat istirahatnya. Dia juga menyuruh Aulia shalat di sana, tidak perlu pergi ke mushola di lantai bawah atau ke masjid yang berada di seberang jalan.
***
Tidak terasa Aulia sudah dua bulan bekerja di kantor Alvan. Menurutnya, Alvan itu atasan yang tegas pada karyawan, dia pekerja keras, dan hebat dalam menjalankan setiap pekerjaan yang diembannya. Selain itu Alvan adalah orang yang sering berbuat menyebalkan kepadanya sedangkan kepada karyawan lainnya dia datar-datar saja dan tidak banyak bicara.
"Tuan, bolehkah saya mengambil cuti?" Aulia mengutarakan keinginannya.
"Kenapa ingin cuti?" tanya Alvan.
"Saya rindu sekali pada kakek Yusuf dan nenek Halimah. Ingin bertatap muka langsung dan memeluk mereka," jawab Aulia jujur.
"Baiklah aku beri waktu dua hari," balas Alvan.
"Mana mungkin cukup perjalanan saja memakan waktu seharian. Masa begitu sampai di sana harus balik lagi. Badan aku pastinya terasa remuk. Izinkan aku cuti dua minggu seperti Mario," ujar Aulia.
Aulia kini menjadi sosok gadis yang cerewet karena sering berdebat dengan atasannya itu. Ada saja ulah Alvan yang membuat Aulia harus mengomel setiap hari.
"Tidak bisa. Mario tidak punya utang kepadaku sedangkan kamu punya," balas Alvan. Lagi-lagi utang yang dijadikan senjata oleh Alvan.
Aulia cemberut dan kembali ke mejanya. Dia sedang marah sama atasannya itu. Jika sudah seperti ini dia akan diam merapatkan bibirnya.
Alvan diam-diam memperhatikan Aulia. Terlihat jelas kesedihan dari tatapan matanya. Namun, dia tidak mau jika lama-lama ditinggalkan oleh Aulia.
__ADS_1
'Apa dia juga akan menemui laki-laki yang bernama Ahmad?' tanya Alvan dalam hatinya.
Seharian itu Alvan tidak bisa fokus bekerja. Pikirannya selalu mengarah kepada Aulia. Padahal orangnya masih ada di depan matanya, tetapi dia merasa kalau Aulia sedang berada jauh darinya.
"Aulia, aku kasih cuti selama tiga hari. Aku rasa itu cukup," kata Alvan memecah keheningan di antara mereka.
Aulia tidak menanggapi perkataan Alvan. Dia sibuk mengetik sesuatu di laptop. Baginya percuma saja cuti selama itu.
Aulia ingin menemui kakek Yusuf dan nenek Halimah untuk memastikan sendiri bahwa mereka semua dalam keadaan baik-baik saja. Meski Mutiara, Iqbal, dan yang lainnya bilang kalau kakek Yusuf dan nenek Halimah dalam keadaan baik-baik dan sehat.
Alvan mulai gusar karena Aulia tidak menanggapi dirinya. Bahkan saat Mario datang pun Aulia tidak seperti biasanya.
"Aulia sudah tidak ada penawaran lagi. Kamu bisa cuti selama empat hari tidak boleh lebih," kata Alvan saat akan pulang kerja.
Aulia masih diam membisu tidak membantah ucapan atasannya atau menyahutnya. Sebenarnya, Aulia sedang memikirkan bagaimana caranya dia memanfaat waktu cuti yang singkat ini, bisa seefektif mungkin saat sedang bersama orang-orang yang sudah dianggap keluarga olehnya.
Dalam mobil pun Aulia juga diam. Saat sampai rumah Alvan pun juga dia masih diam saja. Sampai waktu makan malam Alvan pun Aulia masih diam.
"Aulia, kamu marah sama aku?" tanya Alvan saat asistennya itu menyiapkan nasi dan lauk pauk ke dalam piring.
"Kenapa? Bukannya kamu marah karena aku tidak mengizinkan untuk cuti," jawab Alvan sambil menatap Aulia yang terlihat hanya matanya saja.
"Bukannya tadi Tuan memberikan aku cuti selama empat hari," balas Aulia.
"Sudahlah, kamu pulang saja! Aku juga tidak lapar. Hilang sudah napsu makan aku," ujar Alvan kesal dan pergi meninggalkan meja makan.
Aulia hanya menatap kepergian Alvan. Dia juga sedang tidak mood untuk berbicara saat ini. Tubuhnya lelah terasa berat dan kaku. Kepalanya juga terasa pusing dan dan berat.
"Nona, apa kalian berdua sedang bertengkar?" tanya kepala pelayan.
"Tidak. Hanya saja kita sedang buruk dalam berkomunikasi hari ini," balas Aulia.
""Aduh, kenapa bisa seperti ini? Padahal kami sudah senang Tuan Alvan bisa ceria dan mau bicara lagi. Kalau ada masalah, tolong bicarakan dengan baik-baik dan selesaikan secepatnya," ucap kepala pelayan.
"Non Aulia, tolong bujuk Tuan Alvan agar mau makan. Jangan sampai penyakit maag miliknya kambuh lagi," pinta salah seorang pelayannya.
__ADS_1
Maka, Aulia pun membawa piring yang berisi nasi dan lauk pauknya tadi dibawa ke lantai atas. Biasanya mulai jam 19.00 Alvan selalu berada di ruang kerjanya yang tepat di samping kamar tidur.
Sesuai dugaan Aulia kalau Alvan sedang berada di ruang kerjanya. Terlihat laki-laki itu sedang membaca buku. Maka, Aulia pun mengetuk pintu yang tidak ditutup rapat.
"Boleh saya masuk, Tuan?" tanya Aulia.
Kali ini gantian Alvan yang mogok bicara kepada Aulia. Lelaki itu hanya menatapnya sekilas lalu melanjutkan lagi membaca.
"Aku hanya ingin menyerahkan ini. Aku sudah capek-capek memasak semua ini untuk Tuan. Kalau tidak dimakan, maka aku tidak akan mau memasak lagi," ucap Aulia lalu pergi.
"Aku akan ikut kamu," kata Alvan dan menghentikan langkah Aulia.
Aulia pun membalikan badan dan menatap Alvan dengan tatapan tidak mengerti. Dia meyakinkan dirinya dengan apa yang dia dengar barusan itu tidak salah.
"Maksud, Tuan?" tanya Aulia.
"Aku akan ikut kamu untuk pulang kampung," Alvan mengulangi ucapannya.
"Pulang kampung?" Aulia membeo.
'Kampung halaman aku 'kan di sini. Apa maksudnya ke kampung kakek Yusuf?' batin Aulia.
"Terima kasih, Tuan. Saya bisa pergi sendiri," balas Aulia.
"Bukannya kamu ingin pulang kampung selama dua minggu? Ya aku ikut kamu saja sekalian belajar agama kepada kakek Yusuf," tukas Alvan.
"Anda yakin ingin ikut aku pulang ke kampung?" tanya Aulia untuk meyakinkan.
"Iya. Kapan kita akan berangkat?" tanya Alvan balik.
"Hm, aku kira mungkin lusa. Karena besok Anda punya jadwal pertemuan penting," balas Aulia.
"Baiklah. Dan kamu juga yang harus menyiapkan semua keperluan aku untuk selama di sana," pungkas Alvan dan tidak mau dibantah saat melihat Aulia hendak bicara.
***
__ADS_1
Bagaimana kisah Aulia dan Alvan saat berada di kampung bersama kakek Yusuf? Tunggu kelanjutannya, ya!