Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 86. Gus Fathir


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 86


Saat istirahat Aulia terkejut saat mendapat pesan dari Ning Annisa. Kalau sahabatnya itu akan menikah karena terperangkap di perpustakaan dengan seorang murid laki-laki. Langsung saja dia menghubungi sahabat baiknya itu.


"Assalamualaikum, Ning Annisa."


^^^"Wa'alaikumsalam, Aulia." ^^^


"Ini pesan benaran? Bukan prank, 'kan?"


^^^"Sayangnya kabar itu benar. Tadi pagi aku tertangkap basah oleh kepala sekolah dan Mas Fathir sedang terkurung bersama Rafael di ruang khusus perpustakaan."^^^


"Apa? Bagaimana bisa itu terjadi?"


^^^"Pintunya rusak dan tidak bisa dibuka dari dalam. Ini semua gara-gara Rafael, jadinya kita berdua terkurung di sana semalaman. A-hk, tidak! Aku dan dia terkurung sejak sepulang sekolah sampai pagi-pagi."^^^


"Astaghfirullahal'adzim. Tapi, kalian tidak melakukan yang tidak-tidak, 'kan?"


Aulia ingin menggoda sahabatnya karena jarang-jarang mendengar Ning Annisa merengek seperti ini. Dia penasaran dengan anak laki-laki yang bernama Rafael itu.


^^^"Astaghfirullahal'adzim. Aulia kamu pikir aku ini perempuan apaan? Meski Rafael itu tampan dan bertumbuh tinggi, aku tidak ada keinginan melakukan yang tidak-tidak dengannya."^^^


Aulia tertawa kecil mendengar Ning Annisa yang bersungut-sungut. Bisa menjahili anak gadis orang bisa membuat perasaan dan pikirannya menjadi ringan karena kepikiran ajakan menikah dari Alvan dan Rangga.


"Aku percaya kepada kamu, Ning Annisa. Mana mungkin kamu akan melakukan hal seperti yang dilarang oleh Allah."


^^^"Doakan aku agar bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan suami berondongku nanti."^^^


Aulia tertawa karena membayangkan Ning Annisa akan berdampingan dengan seorang laki-laki berseragam putih abu-abu. Itulah rahasia jodoh yang sudah ditentukan oleh Allah. Dulu Ning Annisa sangat menyukai Ustadz Azka dan punya impian menjadi istri laki-laki pemalu itu. Namun, ternyata dia malah berjodoh dengan murid tempat dia mengajar. (Kisah rumah tangga Ning Annisa dengan Rafael ada di novel Assalammu'alaikum, Ning Annisa)


"Semoga jadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah. Keluarga yang selalu mendapatkan berkah, rahmat, dan bahagia dalam keseharian kalian."


^^^"Aamiin. Semoga kamu juga secepatnya mendapatkan jodoh."^^^


"Aamiin."


^^^"Sudah terima saja Tuan Narsis yang punya kepercayaan diri tingkat tinggi itu!"^^^

__ADS_1


"Siapa yang kamu maksud? Tuan Alvan? Kak Rangga? Atau Gus Fathir?"


^^^"Wow, apakah sahabat aku masih berharap jadi kakak ipar aku? Bagus kalau begitu, nanti aku ada teman mengurus anak."^^^


"Wah … wah, baru saja mau menikah sudah memikirkan anak. Kayaknya aku harus siap-siap untuk beli kado perlengkapan bayi, nih!"


^^^"Tidak … tidak! Bukan begitu maksud aku. Itu nanti, nanti! Masih lamaan sekali."^^^


"Nggak apa-apa, kok, tahun depan mau launching baby-nya juga."


Aulia merasa puas dan senang menggoda calon pengantin ini. Dia merasa ikut bahagia, jika teman baiknya ini juga bahagia dengan pernikahan dadakannya.


***


Keesokan harinya, Gus Fathir datang ke rumah Aulia. Dia membawa oleh-oleh pemberian kedua orang tuanya untuk Kakek Yusuf dan Nenek Halimah. 


"Aulia ini untukmu," kata Gus Fathir sambil memberikan sebuah paper bag kecil yang berisi berbagai aksesoris bros dan beberapa jilbab kumplit dengan cadarnya.


"Terima kasih," balas Aulia saat menerima paper bag berwarna biru.


"Pakai, ya!" pinta Gus Fathir.


"Insha Allah," balas Aulia.


"Lalu, Aulia kapan giliran kamu akan menikah?" goda Nenek Halimah.


Aulia malah memeluk tubuh wanita tua itu dan merengek malu karena sudah digoda. Kakek Yusuf dan Nenek Halimah tersenyum tipis.


"Semoga saja jodoh untuk Aulia secepatnya dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan," ujar Kakek Yusuf menghibur perempuan yang sudah dianggap anak olehnya.


"Ustadz Yusuf … Ustadzah Halimah, bolehkah aku melamar Aulia kembali untuk dijadikan istriku. Aku sampai saat ini masih mempunyai perasaan cinta untuk Aulia," aku Gus Fathir.


Aulia mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangan ke Gus Fathir. Dia mengira kalau Gus Fathir tidak akan mengatakan hal itu saat dirinya dipusingkan oleh ajakan pinangan dari Alvan dan Rangga. Kumplit sudah beban pikiran Aulia kini. Ketiga laki-laki yang ada di sekitarnya belakangan ini, mengajak menikah.


"Bagaimana, Aulia?" tanya Kakek Yusuf.


"Aku tidak tahu, Kek. Tuan Alvan dan Kak Rangga juga mengajak aku menikah dengannya," jawab Aulia dengan lirih dan mata berkaca-kaca.


Hati Gus Fathir lagi-lagi tersayat meski tidak sampai terkoyak. Dia tahu kalau banyak orang yang menyukai Aulia. Maka, dia pun harus bisa membuat hati Aulia merasa nyaman dan bahagia.


***

__ADS_1


"Aulia, cintaku kepadamu, bukannya berkurang. Justru malah semakin bertambah dari hari ke harinya. Aku sangat mencintai kamu, Aulia!" Gus Fathir mengungkapkan perasaannya sebelum dia pergi meninggalkan rumah Aulia.


Kedua orang itu berdiri di halaman rumah, berhiaskan langit malam yang bertabur bintang. Suasana malam yang sunyi membuat kedua orang itu bisa mendengar suara jantung masing-masing yang berdetak kencang.


"Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama dengan kamu," lanjut Gus Fathir dengan tatapan mata masih mengarah kepada sang pujaan hati.


"Aku," ucap Aulia dengan pelan, "belum bisa menjawab ini. Aku sendiri masih merasa bingung dengan perasaan aku saat ini," balas Aulia dengan lirih.


Gus Fathir merasa bersalah karena sudah membuat perempuan itu dalam kebimbangan. Rasanya dia ingin memeluk Aulia dan memberikan ketenangan untuknya.


"Kamu jangan memaksakan diri. Aku hanya mengungkapkan perasaanku saja. Kamu berhak untuk menerima maupun menolaknya. Aku tidak akan marah sama kamu," ujar Gus Fathir dengan suara yang mengalun lembut.


Kedua pasangan netra mereka saling beradu. Perasaan yang dulu sering menghiasi keseharian mereka terasa kembali. 


"Astaghfirullahal'adzim." (Aulia dan Gus Fathir)


Keduanya langsung memalingkan wajahnya. Getaran dalam hati mereka membuat sang pemilik takut akan dosa, yang disebut zina mata.


"Aku pulang dulu. Assalamualaikum," ucap Gus Fathir kini melihat ke arah kakinya.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan," balas Aulia yang sama-sama menundukkan kepalanya.


Kini Aulia malah semakin pusing memikirkan ketiga laki-laki yang ingin meminangnya. Dia tidak tahu harus memilih siapa? Laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Laki-laki yang menuntunnya ke jalan yang lurus. Atau laki-laki yang membuat dirinya merasa menjadi orang yang berguna, karena selalu mengajari ilmu agama kepadanya.


***


Siapakah yang akan dipilih oleh Aulia? Gus Fathir? Alvan? Atau Rangga? Tunggu kelanjutannya, ya!


Baca juga karya aku yang terbaru, yuk.


Apa jadinya jika tiga pasang pengantin baru bertetanggaan dengan para mantan kekasih mereka?


Adelia, menerima perjodohan dengan Andra. Seorang laki-laki yang tidak dikenalnya sama sekali. Dia mau menerima perjodohan itu setelah putus dari Bram yang kedapatan tidur bersama dengan Bella.


Andra, ingin balas dendam kepada Citra yang sudah mengkhianatinya, hanya untuk bisa menikah dengan Candra, seorang pengusaha kaya. Kakeknya berjanji akan memberikan semua harta kekayaannya, jika dia mau menikah dengan Adelia.


Siapa sangka saat mereka memulai kehidupan rumah tangga, malah bertetangga dengan para mantan.


Ketiga pasangan itu, untuk memanasi para mantan, rela melakukan sandiwara. Yaitu, selalu bersikap romantis dengan pasangannya, jika di depan para mantan mereka.


Apakah mereka akan jatuh cinta pada pasangannya saat ini?

__ADS_1


Atau mereka akan kembali pada mantan masing-masing?



__ADS_2