
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 90
Mendengar ucapan Rangga barusan tentu saja membuat Alvan dan Gus Fathir marah. Bagi mereka berdua kesehatan dan keselamatan Aulia adalah yang utama saat ini.
"Apa kamu mau Aulia sakit seperti ini terus?" tanya Alvan dengan penuh emosi dan tatapan matanya tajam pada sang sahabat.
"Tentu saja aku tidak mau Aulia dalam kesulitan dan kesakitan. Tapi Safiyah selalu saja mengigau dirinya setiap malam," balas Rangga tidak kalah sengit.
"Kamu bisa mengajaknya pergi untuk menemui Aulia ketika dia sedang libur bekerja," tukas Gus Fathir.
Ketiga laki-laki itu masih saja berdebat. Tentu ini membuat Kakek Yusuf angkat bicara.
"Sudah … sudah! Kalian tidak perlu bertengkar seperti ini," ucap Kakek Yusuf jangan gagasan dan mampu menenangkan ketiganya.
Kini ketiga laki-laki dewasa itu langsung terdiam dan menundukkan kepala. Mereka sadar diri kalau saat ini kelakuan mereka sudah membuat Kakek Yusuf marah.
"Kakek sebagai wali dari Aulia menolak semua pinangan kalian," lanjut laki-laki tua itu.
Mendengar ucapan Kakek Yusuf barusan, membuat ketiga orang itu seperti tersambar petir di siang hari, tanpa ada hujan dan badai terlebih dahulu. Ketiga laki-laki itu sudah membuka mulutnya. Namun, langsung tidak jadi bicara saat melihat raut wajah Kakak Yusuf.
"Baiklah Ustadz, saya mengerti. Semoga suatu hari nanti Aulia bisa membuka hatinya dan memilih salah satu di antara kita," ucap Gus Fathir dengan nada pelan.
"Aku terima keputusan ini karena aku sangat mencintai dan menyayangi Aulia. Aku tidak akan mengganggu dirinya, sampai dia membuka hatinya sendiri untuk aku," lanjut Alvan mengalah meski tidak rela.
"Kalau begitu izinkan Safiyah untuk bisa bertemu dengan Aulia. Sebab, anak itu selalu mengharapkan Aulia menjadi ibunya," pungkas Rangga dengan menahan rasa sakit.
Kakak Yusuf terpaksa melakukan semua ini demi kebaikan Aulia dan mereka bertiga. Dia tahu kalau perasaan mereka sangat tulus untuk perempuan itu.
__ADS_1
"Terima kasih atas perhatian kalian semua. Biarkan waktu yang menjawab siapa laki-laki yang akan dipilih oleh Aulia sebagai pendamping hidupnya. Dan aku harap kalian bisa berlapang dada menerima keputusan Aulia itu, nanti. Siapapun yang dia pilih berarti dia adalah yang terbaik untuk menjadi pendamping hidupnya," kata Kakek Yusuf dan ketiga laki-laki itu mengangguk.
***
Keesokan harinya Aulia sudah bisa pulang ke rumah. Lagi lagi ketiga laki-laki itu datang untuk menjemput sang pujaan hati.
"Aulia akan pulang bersama denganku," kata Alvan.
"Tidak. Dia akan pulang bersama denganku! Aku adalah orang yang sampai di sini duluan untuk menjemputnya," ujar Gus Fathir tidak mau kalah.
"Aulia akan pulang bersama denganku. Mobil aku lebih besar, sehingga bisa memuat semua orang," timpal Rangga.
Melihat perdebatan mereka, Nenek Halimah dan Kakek Yusuf hanya menggelengkan kepala. Hal seperti ini sudah tidak aneh lagi pergi mereka berdua. Di saat seperti inilah keberadaan keduanya sama membantu untuk menghentikan perdebatan mereka bertiga.
"Aulia Akan pulang dengan menaiki mobil milik Pak RT," ucap Kakek Yusuf setelah menghela napasnya ketika mendengar kembali perdebatan mereka.
Aulia tersenyum geli di balik cadarnya, saat melihat ekspresi ketiga laki-laki itu. Dia semalam mengucapkan terima kasih banyak kepada Kakek Yusuf, yang sudah membantunya untuk menolak lamaran ke tiga laki-laki yang belakangan ini mengganggu pikirannya. Jujur saja saat ini dia masih bingung menentukan siapa yang harus diterima pandangannya itu.
***
Rumah Aulia kini ramai oleh tamu yang datang. Bahkan kedua orang tua Alfan dan beda orang tua orang nggak pernah menjenguknya.
"Kamu harus bisa menjaga diri baik-baik," kata Mami Siska sambil mengusap punggung tangan Aulia.
"Iya, Mi. Terima kasih sudah mau datang menjenguk Aulia, ke sini," balas gadis berhijab pink itu.
"Kamu jangan terlalu banyak pikiran. Abaikan saja sesuatu yang kira-kira tidak penting bagimu," lanjut Mama Shinta (Biar aku tidak salah 😁).
"Iya, Ma." Shinta meminta Aulia untuk memanggilnya mama.
Sementara itu, para lelaki sedang berbicara di ruang depan. Mereka membicarakan tentang hal yang terjadi di sekitar mereka saat ini. Pembahasan mengenai isu agama yang dinistakan oleh sekelompok orang tertentu, yang mengaku dirinya beragama Islam. Namun, mereka melakukan ritual ibadah yang tidak sesuai dengan apa yang sudah diajarkan oleh Rasulullah. Mereka juga membahas politik, ekonomi yang semakin membuat rakyat merasa tercekik dengan kenaikan bahan bakar dan bahan pokok. Penyakit-penyakit berbahaya yang semakin banyak diderita oleh penduduk bumi ini.
__ADS_1
"Kita sebagai manusia wajib berusaha mencegah diri kita jatuh ke dalam hal-hal yang bisa merugikan atau mendzalimi diri sendiri. Allah melarang kita untuk berbuat sesuatu yang dapat merugikan diri kita. Namun, kebanyakan manusia malah memilih atau menantang dirinya pada sesuatu itu. Sudah tahu hal itu berakibat buruk pada tubuhnya, tapi tetap saja mereka melakukannya," jelas Kakek Yusuf.
"Ya, Anda benar. Dulu aku juga suka minum alkohol sampai benar-benar mabuk. Dan itu berakibat buruk pada tubuhku, terutama pada liver. Namun, aku tetap saja suka minum. Hanya saja begitu mengenal Siska, dia bisa berubah gaya hidupku menjadi lebih baik," kata Papi Kenzo.
"Benar. Aku juga dulu suka sekali merokok dan itu buruk bagi paru-paru. Aku berhasil menghentikan kecanduan itu saat Shinta hamil. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada istri dan anak," lanjut Papa Damar.
Orang-orang di sana pun mendengar kisah kedua laki-laki paruh baya itu. Sesuatu perbuatan yang berakibat buruk pada dirinya. Ternyata mereka bisa merubahnya demi kebaikan diri sendiri dan orang yang dicintainya dengan bantuan orang di sekitar.
"Banyak hal yang diharamkan dalam Islam seperti minuman keras, zina, berjudi, makan daging babi atau bangkai, dan lain-lain. Sebahagian kita tahu atau bisa memperkirakan sebab dari larangan dan sisanya merupakan misteri Allah, yang pasti kita percaya bahwa semua larangan itu buruk bagi kita bila dilanggar," ucap Kakek Yusuf dan mereka menganggukkan kepala tanda setuju.
"Manusia memerlukan makanan jasmani dan masukan rohani untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Makanan jasmani yang tidak sehat akan merusak tubuh kita dan menimbulkan penyakit. Begitu pula masukan kejiwaan yang salah bagai memasukkan racun ke rohani kita." Mendengar ucapan Kakek Yusuf ini membuat Papi Kenzo dan Papa Damar sangat tertarik.
"Jangan berbuat dosa, ya?" tanya Papa Damar.
"Itulah barangkali yang dimaksud dengan menzalimi diri ketika berbuat dosa. Yakni tidak adil dan zalim kepada diri sendiri dengan melanggar hak diri untuk mendapat isi yang baik. Diharamkan artinya kita dilarang untuk melukai diri sendiri," balas Kakek Yusuf.
"Kalau pada orang lain?" tanya Papi Kenzo.
"Begitu pula ketika kita menipu atau mencuri atau mengambil hak orang lain maka sebenarnya kita juga sedang menzalimi atau mencederai diri kita sendiri karena bagaimanapun dan sejahat apapun kita, hati kita tetap mengatakan bahwa perbuatan kita adalah perbuatan yang tidak benar," jawab Kakek Yusuf.
"Kehidupan golongan yang zalim pada diri sendiri (zalimul linafsih) tanpa arah dan tidak punya panduan syar'i. Mereka juga tak mengenal halal haram, baik buruk, dan hidup hanya demi kenikmatan. Karakter lain adalah malas ibadah, melakukan maksiat, dan berbuat dosa," tambah Gus Fathir.
"Ya, karena kita sering berbuat dosa jadi malas ibadah," gumam Alvan.
Hal ini terjadi pada dirinya dahulu. Dia sering melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama, karena dia tidak mau mempelajari agamanya sendiri. Namun, kini dia sudah banyak berubah dengan bertambahnya akan pemahaman ilmu agama.
"Ngomong-ngomong, Aulia sedang apa sekarang?"
***
Hayo, kira-kira Aulia sedang apa? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Maaf slow up date, dikarenakan kondisi tubuh yang masih kurang fit. Flu tidak keluar jadinya, kening kepala 🤒😷🤧.