
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.
***
Bab 28
Hari di mana kakek Yusuf mengalami kecelakaan. Fathir dan semua keluarganya mengunjungi Pesantren Darussalam atas keinginan Kiai Basir.
"Kami ke sini ingin mengkhitbah Ning Aliyah untuk Gus Fathir," ucap Kiai Sholeh sambil melirik ke arah keponakannya. Dia ikut merasa sedih karena terlihat jelas pancaran kesedihan di mata Fathir.
"Alhamdulillah, dengan senang hati kami akan menerima pinangan dari keluarga Kiai Basir," balas Kiai Rojaq.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Semoga dengan terjalinnya ikatan kekeluargaan ini, hubungan kita semua semakin erat," lanjut Kiai Basir dengan senyum penuh kebahagiaan.
"Bagaimana jika kita langsungkan saja pengucapan ijab qobul, sepertinya kedua calon pengantin ini sudah tidak sabar kalau menunggu waktu lama lagi," ucap salah seorang dari pihak keluarga Kiai Rojaq.
"Benar, juga. Sesuatu yang baik itu harus disegerakan," lanjut Kiai Rojaq.
"Sepertinya kami belum menyiapkan untuk hal itu. Kita tidak membawa sesuatu untuk maharnya," sanggah Kiai Akbar dengan sopan merasa tidak enak.
"Bukannya Gus Fathir itu seorang hafidz? Tidak akan beratkan jika maharnya berupa surah Al-fatihah dan surah Ar-Rahman," tanya Kiai Rojaq.
"Benar, Gus Fathir kamu bersediakan mengucapkan ijab qobul hari ini?" tanya Kiai Basir.
"Akan lebih baik jika maharnya bukan hanya bacaan Al-Qur'an saja. Setidaknya ada perhiasan yang di bisa diberikan juga," jawab Fathir.
"Saya tidak keberatan walau hanya bacaan Al Qur'an. Bukannya seorang muslimah baik itu tidak memberatkan dalam hal mahar. Saya ridho lillahi ta'ala dengan mahar bacaan surah Al Fatihah dan surah Ar-Rahman," sanggah Ning Aliyah.
Sungguh diluar dugaan keluarga Kiai Akbar. Sebenarnya tujuan awal mereka untuk mengkhitbah dulu Ning Aliyah. Justru malah dilanjutkan dengan ijab qobul antara Fathir dan Kiai Rojaq. Ning Aliyah pun kini sudah menjadi istri dari Fathir.
Saat mengucapkan qobul, Fathir meneteskan air mata. Bukan karena dia teringat akan sedang janjinya kepada Allah yang akan menjadi suami bertanggung jawab dalam membangun keluarga sesuai dengan ajaran Islam. Namun, dia menangis karena tidak dapat mempersunting gadis yang diduga sebagai bidadarinya di dunia sampai ke akhirat kelak. Saat pengucapan ijab qobul tadi terbayang Aulia yang sedang menangis.
'Aulia maafkan aku, tidak bisa menjadikan kamu satu-satunya perempuan yang aku nikahi.' Batin Fathir menangis pilu.
***
__ADS_1
Malam pertama Fathir dan Ning Aliyah gagal karena Annisa memaksa kakak kandungnya untuk ikut pulang dan menjenguk kakek Yusuf yang mengalami kecelakaan. Namun, mereka semua mengurungkan niatnya itu karena kondisi kakek Yusuf tidak dalam kerugian. Keluarga Kiai Akbar malah berkumpul dan menelepon Aulia untuk menanyakan kondisi terbaru dari kakek Yusuf. Mereka juga menanyakan kronologi kejadian kecelakaan itu.
"Katanya Pak Slamet sedang terburu-buru karena anaknya hendak melahirkan sedangkan suaminya sedang bertugas di luar kota. Saat belokan beliau tidak mengurangi kecepatan mobil. Sementara itu kakek Yusuf sedang mengendarai motor di depannya. Tabrakan pun terjadi dan kakek Yusuf jatuh ke bahu jalan. Kakinya mengalami patah tulang ringan," jelas Aulia dengan suara sengau karena kebanyakan menangis.
"Alhamdulillah, kalau tidak sampai separah bayangan kami. Maaf saat ini kami belum bisa menjenguk Ustadz Yusuf. Namun, akan kami usahakan agar secepatnya bisa menjenguk," ucap Kiai Akbar.
Kiai Akbar sebenarnya meneteskan air mata saat mendengar suara Aulia. Dia sedih saat mendengar gurunya mengalami kecelakaan. Namun, lebih sedih lagi jika dia memikirkan reaksi gadis malang itu saat tahu putranya sudah menikahi perempuan lain.
Fathir malam itu berada bersama keluarganya. Dia sengaja memilih berlama-lama bersama keluarganya.
"Gus Fathir, kenapa kamu masih di sini? Sana, istri kamu sudah menunggu di kamar," ucap Kiai Basir.
"I-ya," balas Fathir.
Fathir melangkah dengan gontai menuju kamar Ning Aliyah. Dia berharap kalau istrinya sudah tidur. Sehingga, mereka tidak melakukan malam pertama seperti kebanyakan pengantin baru lakukan.
Saat masuk ke dalam kamar, ternyata Ning Aliyah masih bangun dan sedang membaca buku di atas tempat tidur. Fathir pun mengucapkan salam dan menanyakan kenapa istrinya itu belum tidur.
"Saya menunggu suamiku. Mungkin saja Gus memerlukan atau menginginkan sesuatu," ucap Ning Aliyah dengan malu-malu.
***
Setelah beberapa hari kakek Yusuf dirawat di rumah sakit. Hari ini kakek Yusuf sudah diperbolehkan pulang. Meski kakek sudah bisa jalan dengan melangkah pelan-pelan, Aulia minta kakek Yusuf menggunakan kursi roda. Bahkan Aulia membeli kursi roda elektrik, meski yang bekas, tetapi masih sangat bagus karena baru sebentar dipakai oleh pemilik sebelumnya.
"Bapak senang, tuh. Lihat saja yang tadi tidak mau pakai kursi roda, kini malah dengan senang hati menggunakannya," ucap nenek Halimah sambil tertawa kecil.
"Asik, 'kan, Kek?" tanya Aulia dengan senyum lebarnya.
"Kalau begini, kakek tidak akan menyusahkan kalian berdua nanti," jawab kakek Yusuf sambil tersenyum.
Untungnya di rumah kakek Yusuf semua ruangannya luas dan tidak banyak perabot. Jadi, tidak menyulitkan saat bergerak menggunakan kursi roda itu. Bahkan Aulia menambahkan sedikit ubin di teras depan agar kursi roda bisa meluncur dengan mudah jika hendak turun dari teras ke halaman.
"Assalamu'alaikum," salam seseorang yang suaranya Aulia kenal.
"Wa'alaikumsalam," balas Aulia dan dengan cepat membukakan pintu.
__ADS_1
Senyum yang terukir dibalik cadarnya langsung hilang saat melihat ada sosok yang dia baru lihat sekali saat di ndalem. Keluarga besar Kiai Akbar datang untuk menjenguk kakek Yusuf.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Kiai Basir saat kakek Yusuf duduk di sofa.
"Seperti yang Kiai lihat. Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan kepada aku untuk mencari pahala yang lebih banyak lagi," jawab kakek Yusuf.
"Ya, Allah itu sangat sayang kepada Anda, Ustadz," lanjut Kiai Akbar.
Aulia hanya menyuguhkan air teh manis dan keripik. Tidak ada makanan empuk yang dikukus karena dirinya masih belum bisa mengolah makanan.
Mata Aulia dan Fathir bersirobok sesaat saat gadis itu meletakan gelas di depannya. Begitu juga wanita yang Aulia yakini itu adalah Ning Aliyah. Meski memakai cadar, tetapi tahi lalat di ujung matanya jelas terlihat.
"Mungkin aku masih punya tugas yang harus aku kerjakan sebelum malaikat pencabut nyawa mendatangi aku," ucap kakek Yusuf dengan tertawa kecil dan diikuti oleh tawa yang lainnya.
"Selain mau menjenguk Ustadz Yusuf, kedatangan kami ke sini juga karena ada maksud lainnya," ucap Kiai Akbar.
"Apa itu, Pak Kiai?" tanya kakek Yusuf menatap ke arah anak didiknya dahulu.
"Apakah boleh kami mengkhitbah kembali Aulia?" tanya Kiai Akbar dengan serius.
"Untuk siapa?" tanya kakek Yusuf.
"Menjadi istri kedua Gus Fathir," jawab Kiai Basir.
Aulia merasa dadanya diremat dengan kuat. Sesak yang teramat sangat saat ini dia rasakan. Matanya pun terasa panas. Tentu saja ini bukan hal yang mengejutkan baginya. Saat sahabatnya bilang kalau sedang berada di pesantren milik Kiai Rojaq, dia sudah menduga kalau Fathir itu sedang mengkhitbah Ning Aliyah. Meski sudah mengetahui hal itu, tetap rasanya sangat sakit saat mendengar secara langsung.
Ning Aliyah memalingkan wajahnya saat matanya bersirobok dengan mata Aulia. Sementara itu, Annisa meneteskan air mata. Matanya juga terlihat merah dan bengkak. Fathir sendiri menundukkan kepalanya.
***
Akankah Aulia menerima pinangan dari Fathir? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga ke karya aku yang lainnya. Nggak kalah seru, loh!
__ADS_1