Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 120. Alvan Sadar


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 120


Alvan yang berada di alam bawah sadarnya bisa mendengar semua ucapan Raihan barusan. Dia berharap kalau temannya itu tidak akan menarik kembali hadiahnya.


"Aku hitung sampai tiga, ya."


"Satu."


"Dua."


"Ti-ga!"


Meski hitungan tiga sudah berakhir, Alvan tidak juga sadar. Raihan tersenyum lebar kemudian mengulangi lagi kata-katanya.


"Aku kasih kamu kesempatan sekali lagi untuk membuka mata sampai hitungan ke tiga. Kalau kali ini kamu tidak membuka mata juga aku benar-benar akan menggagalkan hadiah paket bulan madu tadi," ujar Raihan.


'Ayo, bangun … bangun!' (Alvan)


Laki-laki itu pun menghitung mundur kali ini. Kalau hitungan satu, dua, dan tiga gagal, siapa tahu kalau hitungannya dibalikkan menjadi tiga, dua, dan satu akan berhasil. Namun, tetap saja itu gagal.


"Bukan salah aku tidak jadi memberi kamu paket bulan madu. Itu karena kamu tidak membuka mata, meski sudah aku kasih dua kali kesempatan," lanjut Raihan.

__ADS_1


Aulia yang melihat itu hanya bisa meneteskan air mata. Dia merasa kalau saat ini Alvan sedang berusaha untuk bisa sadar. Hanya saja belum bisa.


Alin yang merasa iba kepada Aulia, memeluk tubuh perempuan itu dan mengucapkan kata-kata penyemangat. Dia tahu bagaimana rasanya tidak bisa bersama dengan orang yang dicintai karena suatu keadaan yang membuat mereka tidak bisa bersama.


'Aduh, gawat! Kalau Oppa Alvan tidak sadar juga hari ini, nanti dia akan menikah dengan Aulia. Tidak, tidak, tidak! Aku tidak mau kalau ada perempuan lain di kehidupan rumah tangga aku. Ayo, Alin pakai otak pintar kamu ini, pikirkan bagaimana caranya agar si Oppa Alvan ini sadar.' (Alin)


Tiba-tiba saja terbersit sebuah ide cerdik dari otak brilian milik Alin. Dia pun membisikan sesuatu kepada Aulia. Namun, dia tidak punya hal yang diinginkan oleh gadis itu.


Raihan dan kedua orang tua Alvan hanya perhatikan tingkah Alin. Entah apa yang akan diperbuat oleh menantu dari Fatih itu. Biasanya sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka.


"Eh, ini Gus Fathir? Ternyata orangnya ganteng banget!" ucap Alin sambil memegang handphone miliknya. 


Dia mencari data pribadi milik saingan Alvan itu lewat bantuan dari koneksi keluarga Hakim. Tentu saja suaminya tidak suka mendengar pujian untuk laki-laki lain.


'Apa? Gus Fathir datang ke sini! Jangan-jangan si Alin akan benar-benar menyuruh Aulia menikah dengannya. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh keluarga Hakim. Pasti mereka akan bisa menyuruh keduanya menikah. Aku harus bangun dan menggagalkan rencana mereka.' (Alvan)


"Apa Gus Fathir akan bersedia jika menikah dengan Kak Aulia?" tanya Alin.


"Tidak!" Tiba-tiba saja Alvan membuka matanya dan membuat semua orang yang ada di sana terkejut sekaligus merasa senang.


Laki-laki itu melihat ke arah Alin, dia melotot padanya. Namun, mata dia yang agak sipit itu tidak terlihat seperti sedang melotot di mata Alin.


"Tuh, 'kan! Dia sadar. Hore … akhirnya Oppa Alvan yang akan menikah dengan Kak Aulia"! pekik Alin.


Alvan merasa menjadi linglung saat melihat Alin bersorak sambil memeluk tubuh Aulia. Dia juga tidak melihat adanya Gus Fathir di sana. Malah yang ada Raihan dan kedua orang tuanya yang sedang menangis sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


'Aku dikerjain sama ini bocah.' (Alvan)


'Cara Alin jitu juga bisa membuat orang koma cepat tersadar.' (Raihan)


"Alhamdulillah, Nak. Akhirnya kamu sadar juga," ucap Mami Siska sambil memeluk tubuh putranya. Begitu juga dengan Papi Kenzo, mereka giliran memeluk Alvan.


Aulia menangis bahagia. Laki-laki yang sudah membuat dirinya cemas dan tidak bisa harus berbuat apa lagi untuk membuatnya sadar. Akhirnya, terbangun di waktu menjelang hari pernikahan mereka.


Pintu kamar inap itu terbuka dari luar, masuk Kakek Yusuf dan Nenek Halimah. Kedua senang saat melihat Alvan sudah sadar. Keduanya pun mengucapkan syukur dan mendoakan kebaikan untuknya.


Suasana di kamar itu menjadi semakin ramai meski hanya didominasi oleh Alin. Alvan hanya sesekali menanggapi ocehan gadis itu.


"Raihan, boleh tidak aku karungin ini anak untuk dijadikan menjaga burung beo di rumah Papi," kata Alvan yang sangat gemas kepada Alin. Apalagi gadis ini sudah sering membuatnya kejang beberapa kali saat berada di alam bawah. Bisa-bisa memberi ancaman kepadanya.


"Tidak. Dia itu manusia limited edition, tidak ada gantinya di rumah. Apalagi dia itu punya tanggung jawab sama kucingnya. Aku tidak mau kalau harus gelantungan di pohon setiap hari, hanya untuk mengambil kucing yang suka nongkrong di atas dahan pohon," ujar Raihan menolak.


Alin hanya cemberut, sedangkan yang lain malah tertawa bahagia. Siang itu pun Ghazali memeriksa keadaan tubuh Alvan. Semua organ vital tubuhnya dalam keadaan baik. Namun, Alvan dilarang untuk berlari dahulu. Bahkan, dia dianjurkan selama enam bulan ini harus menggunakan kursi roda jika jarak berjalan cukup jauh. Dia hanya dianjurkan berjalan 10 sampai 15 menit dan itu diselingi dengan istirahat.


"Kamu jangan memaksakan diri. Kalau sampai itu terjadi aku tidak bisa menjamin keselamatan kamu lagi, nanti," ucap Dokter Ghazali.


***


Alvan akhirnya sudah tersadar. Apakah pernikahannya dengan Aulia akan berjalan lancar? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.

__ADS_1



__ADS_2