
Bab 103
Waktu terus berlalu dan hari menuju pernikahan antara Alvan dan Aulia tinggal satu bulan lagi. Semua persiapan untuk pernikahan sudah selesai karena Aulia di bantu oleh Mami Siska. Baju pernikahan mereka juga sudah selesai dibuat.
Hubungan Aulia dan Amelia juga kini sudah menjadi sahabat dekat. Mungkin hikmah dari kejadian dulu membuat kedua gadis itu menjadi dekat.
Amelia pun dulu menaruh hati kepada Alvan, harus mengakui kelebihan diri Aulia. Menurutnya juga mereka memang pantas untuk menjadi pasangan. Gadis itu juga banyak belajar ilmu agama kepada Aulia. Dulu, dia selalu memakai pakaian setelan celana meski pakai kerudung. Kini dia memakai gamis dan pakaian longgar serta jilbab yang lebar.
"Assalamualaikum, Aulia," salam Amelia begitu melihat Aulia turun dari mobil.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh, Amelia. Wah, selalu penuh semangat teman aku ini," ucap Aulia sambil berpelukan dengan gadis yang seumuran dengannya.
"Bagaimana kabarnya calon pengantin, hari ini?" goda Amelia sambil tersenyum jahil.
Aulia tahu kalau Amelia sedang menggoda dirinya. Temannya itu sedang galau perasaannya belakangan ini. Hal ini dikarenakan kedua orang tuanya menyuruh cepat-cepat menikah.
"Alhamdulillah, baik. Lalu, kamu bagaimana kabarnya? Apa sudah dapat calon untuk di ajak ke pesta pernikahan aku nanti untuk dikenalkan ke Papi dan Mami, sebagai calon suami kamu?" Aulia membalas menggoda gadis berbadan mungil itu.
Mendapat godaan seperti itu oleh Aulia membuat Amelia cemberut. Dia juga iri kepada teman-teman yang sudah menikah atau akan menikah, sedangkan dia baru saja mengalami patah hati.
"Kalau begitu carikan aku jodoh laki-laki yang terbaik dan pantas untuk dijadikan sebagai seorang suami," kata gadis itu menantang sang sahabat.
"Ceritanya aku disuruh jadi Mak Comblang, nih!" ucap Aulia sambil tertawa menggoda Amelia.
"Kalau kamu mau di sebut Mak Comblang, nggak apa-apa, deh!" Amelia malah tertawa terkekeh.
Mendapat tantangan dari temannya itu membuat Aulia berpikir dengan keras. Kira-kira siapa laki-laki yang pantas untuk dijadikan suami untuk Amelia. Dalam benak dia terlintas nama Gus Fathir. Hanya saja dia tidak yakin kalau laki-laki itu mau menerima Amalia sebagai calon pasangan hidupnya. Sebab beberapa hari yang lalu dia mendengar kabar dari Ning Annisa, kalau kakaknya akan dijodohkan dengan santri perempuan. Namun, dia menolak dengan alasan akan melanjutkan dulu kuliah S3 di Malaysia.
'Apa aku jodohkan dengan kak Rangga saja, ya?' (Aulia)
__ADS_1
Aulia pun melirik ke arah Amelia yang berjalan di sampingnya. Dia menimbang-nimbang apa Amelia bersama diri Rangga apa adanya.
"Aku punya seorang kenalan, tetapi dia seorang duda. Apa kamu mau?" tanya gadis yang memakai gamis berwarna abu silver.
Mendengar kata duda, membuat Amalia tercengang. Dalam pikiran dia laki-laki itu sudah tua dan berumur, dengan banyak anak.
"Siapa? Kamu tidak salah mau menjodohkan aku dengan laki-laki tua?" balas Amelia sambil melotot ke arah Aulia yang kini sedang menekan tombol lift.
Aulia pun tertawa kecil karena mendengar ucapan dari teman yang ini. Sebab, sudah berpikiran buruk dahulu kepada laki-laki yang bergelar status duda.
"Status dia memang sudah duda, tapi usianya masih muda. Hanya saja dia punya seorang anak kecil yang berusia 3 tahun kurang," jelas Aulia.
Mendengar penjelasan dari teman yang ini membuat Amalia penasaran dengan identitas laki-laki itu. Entah kenapa dia ingin tahu siapa yang akan dikenakan oleh Aulia kepadanya.
"Oh, ya. Siapa dia? Tampan nggak?" balas Amelia dengan tatapan dan senyum jahilnya.
Mendengar nama Rangga disebutkan oleh Aulia membuat gadis itu terdiam. Amelia mengakui kalau Rangga adalah laki-laki baik dan juga berwajah tampan. Dia juga tahu kalau laki-laki itu sangat mencintai temannya ini.
"Kak Rangga itu sangat mencintai dirimu. Memangnya dia bisa membuka hatinya untuk wanita lain? tanya Amelia.
Aulia juga berpikir apa Rangga bisa menerima perempuan lain saat ini. Sebab laki-laki itu tipe orang yang tidak mudah jatuh cinta.
"Akan aku tanyakan dulu sama kak Rangga. Apa dia saat ini punya keinginan untuk membeli rumah tangga. Karena Safiyah juga sudah menginginkan sosok seorang ibu," jawab Aulia.
Amelia terdiam. Gadis itu sudah sering bertemu dengan Rangga baik di kantor ini saat menemui Alvan, maupun di luar.
***
Aulia pun mau bicarakan hal tadi kepada Alvan. Ternyata laki-laki itu juga setuju jika Rangga dijodohkan dengan Amelia. Namun mereka berpikir untuk membicarakan hal ini terlebih dahulu kepadanya.
__ADS_1
"Kita harus tanyakan cara mendahulukan ini kepada Rangga dan keluarganya," kata Alvan.
Kapan tahu kalau Amelia adalah seorang gadis yang baik dan juga saya kepada keluarganya. Selain itu gadis ini juga bisa menghadapi seorang anak kecil, karena di rumahnya banyak menampung anak-anak yatim piatu yang belajar untuk menjadi seorang hafidz.
Akan tetapi, Rangga dan keluarganya apa mau menerima Amelia sebagai bagian dari keluarga itu nantinya. Sebab, dilihat dari cara berpikir kedua keluarga itu berbeda dari sudut pandang Alvan.
Lalu, Alvan pun menceritakan tentang keluarga Amelia kepada Aulia. Mereka membahas hal ini, takutnya nanti malah akan melukai perasaan Amalia dan keluarganya.
"Keluarga kak Rangga saat ini sudah banyak berubah. Mereka juga sekarang tidak memandang seseorang dari harta kekayaannya," ucap Aulia.
***
Siang harinya Alvan mengajak Rangga untuk makan bersama di sebuah rumah makan langganan mereka saat masih sekolah. Kedua laki-laki itu pun bercengkrama seperti biasa sampai selesai makan.
"Apa kamu sekarang sudah kepikiran untuk mencari seorang wanita yang akan menjadi istrimu dan ibu bagi Safiyah?" tanya Alvan kepada laki-laki yang sedang mengaduk-aduk minumannya.
Ditanya seperti itu oleh Alvan membuat Rangga menghentikan kegiatan yang sedang dilakukannya. Dia menatap ke arah lelaki yang dulu jadi saingan cinta dalam memperebutkan Aulia.
"Yang aku cari saat ini adalah perempuan yang bisa menyayangi aku dan keluargaku. Terutama dia mau menerima Safiyah. Aku tidak mau kalau suatu saat nanti perempuan itu mencampakan atau tidak peduli kepadanya. Apalagi kalau aku benar-benar punya anak dengannya, membuat dia pilih kasih. Karena bagiku Safiyah sudah menjadi bagian dari hidupku. Dia adalah sumber cahaya dalam kehidupan setelah kepergian Aulia dulu," jelas Rangga.
Alvan mendengarkan dengan seksama pembicaraan sahabatnya itu. Dia mengerti bagaimana perasaannya, apalagi sempat gagal dalam memilih rumah tangga karena pernikahan yang dipaksakan.
***
Apakah Rangga mau dijodohkan dengan Amelia? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan menarik, loh. Cus kepoin karyanya.
__ADS_1