
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 111
Perasaan Aulia saat ini tentu saja sedang berdebar-debar. Hari pernikahannya tinggal 11 hari lagi. Kedua calon mertuanya juga sudah pulang dari Jepang.
Oujichan sudah menutup tiga hari setelah Papi Kenzo dan Mami Siska tiba di sana. Katanya Laki-laki tua itu selalu menunggu kedatangan mereka dan tidak ingin mati sebelum bertemu. Ternyata itu ada alasan yang kuat kenapa dia ingin bertemu dengan anak dan menantunya. Dia ingin disaksikan oleh mereka saat pengucapan kalimat tauhid-nya. Bahkan Kakek Yusuf juga menyaksikan lewat video call.
Sebelum dia meninggal seluruh hartanya dia bagi-bagi. Oujichan hanya punya dua orang anak laki-laki dan perempuan. Mereka sudah menjadi orang yang sukses dan lumayan punya banyak harta. Makanya semua uang yang dia miliki diberikan kepada badan zakat dan sedekah. Rumah besar diberikan kepada putri bungsunya. Saham perusahaan dibagi rata kepada cucu-cucunya, termasuk Alvan.
Mendengar kabar duka dari Oujichan, Alvan pun pergi ke Jepang. Namun, kali ini Yukari dan Aulia ikut. Selain untuk melayat, dia juga ingin mengenalkan Aulia sebagai calon istrinya kepada seluruh keluarga di Jepang.
Aulia merasa bersyukur kalau kehadiran dirinya mendapat sambutan baik dari pihak keluarga Papi Kenzo.
***
"Kenapa calon pengantin masih masuk kerja?" Yukari dan Amelia senang menggoda Aulia belakangan ini.
"Karena aku ingin mengawasi kinerja kalian. Kalau kerjanya tidak benar dan berleha-leha, nanti pas aku sudah menjadi nyonya Alvan, dengan mudahnya aku akan depak kalian," balas Aulia diikuti tawanya yang renyah.
Kedua gadis itu pun hanya bisa memutar bola matanya. Mereka tidak berkutik berhadapan dengan calon istri pimpinan perusahaan ini.
Papi Kenzo dan Mami Siska memutuskan untuk tinggal di Jepang nanti. Untuk mengurus perusahaannya sambil mengawasi perusahaan peninggalan Oujichan. Lalu, perusahaan ini akan diambil alih oleh Alvan.
"Sudah, sudah, kalian tidak perlu khawatir begitu. Mana mungkin aku bisa seenaknya mengeluarkan pegawai di sini," ucap Aulia yang masih tertawa kecil.
***
__ADS_1
Yukari diam-diam menjalin hubungan dengan Mario. Hubungan mereka itu layaknya orang dewasa di luar negeri sana. Saling membutuhkan satu sama lain dalam urusan partner ranjang.
"Tutupi leher kamu," bisik Aulia kepada Yukari.
Wanita itu langsung menutupi lehernya dengan menggunakan kedua tangannya. Dia hanya tersenyum kaku.
"Apa ada bekasnya?" tanya Yukari dengan berbisik.
"Ada di belakang dekat telinga dan tengkuk kamu," jawab Aulia.
"Si_al. Sudah aku bilang jangan buat tanda, dia tidak mendengarkan juga," ucap Yukari mengumpat.
Inilah yang disesalkan oleh Aulia. Sebagai teman dia menyarankan kalau mereka lebih baik serius menjalin hubungan dalam berumah tangga. Namun, Yukari bilang kalau keduanya tidak mau terkekang oleh ikatan pernikahan.
"Apa kamu dan Mario saling mencintai?" tanya gadis bergamis warna ungu tua.
"Entahlah. Aku tidak pernah terpikirkan atau terbayangkan dalam benak aku untuk jatuh cinta kepadanya atau tidak," jawab Yukari.
Suasana ruang kantor lantai atas ini sepi, jika dibandingkan dengan ruang kerja lainnya yang ada di lantai bawah. Ini membuat keempat orang penghuni lantai itu lebih bebas dalam berbicara sesuatu yang penting, tanpa takut ada yang mendengar.
"Kalau begitu, kenapa kamu mau tidur dengannya?" Aulia merasa gusar sendiri.
"Karena kami ini sama-sama orang dewasa yang membutuhkan partner untuk menuntaskan hasrat bir_ahi," balas Yukari.
Sebagai sesama perempuan tentu Aulia menyayangkan perbuatan Yukari ini. Dia melihat kalau temannya ini hanya dijadikan alat pemuas napsu saja.
"Kamu itu perempuan. Seharusnya, kamu lebih menyayangi diri kamu sendiri. Kamu bisa menikah kalau memang benar-benar membutuhkan partner ranjang," kata Aulia.
'Aduh, apa yang aku katakan barusan!' (Aulia menepuk keningnya sendiri)
__ADS_1
Beda pandangan hidup dalam keyakinan dia dan temannya, tentu saja membuat beda juga dalam memahami dan menjalani suatu perbuatan keduanya. Jika, Aulia berpikir menuntaskan hasrat itu salah satunya dengan menikah. Kita mencari teman tidur dalam ikatan yang halal dan mengharapkan pahala dan ridhonya. Bukan hanya menuntaskan hawa napsu saja.
Yukari sendiri tahu kalau Mario itu punya banyak sekali pesona dan membuat para wanita ingin tidur dengannya. Namun, dia tahu laki-laki itu tidak pernah menggunakan hati saat bercinta dengan siapa saja. Dia dan Mario sudah 7 bulan belakangan ini menjadi partner ranjangnya. Baru 3 bulan ini mereka benar-benar sering menghabiskan waktu bersama. Mario sering tidur di apartemen perempuan ini. Bahkan mereka sudah selayaknya pasangan suami istri selama 3 bulan ini.
'Apa Mario mau benar-benar mengikat hubungan ini dengan sesuatu yang serius dan harus menanggung tanggung jawab sebagai kepala keluarga nanti.' (Yukari)
***
Sementara itu, di tempat lain Alvan sudah tahu hubungan Mario dan Yukari sejak melihat pesan masuk yang ada di ponsel Yukari. Mario mengirim pesan ke perempuan itu untuk giliran datang ke apartemennya. Alvan tidak menginterogasi Yukari, tetapi mencerca Mario dengan berbagai pertanyaan.
"Sebaiknya kamu menikah saja bersama Yukari. Daripada berzina terus seperti ini," ucap Alvan kepada Mario.
Laki-laki berkulit eksotis dan berwajah tampan itu diam. Dalam benaknya dia memikirkan ucapan temannya ini.
"Bagiku tidak masalah menikah dengan Yukari. Hanya saja mamaku tidak mau punya menantu yang tidak seiman dengannya. Kamu tahu sendiri kalau mama itu aktivis gereja. Dia jemaat yang rajin pergi beribadah ke gereja. Sedangkan kepercayaan Yukari itu bukan Kristen," balas Mario.
Alvan tahu kalau keyakinan pada seseorang itu tidak bisa dipaksakan. Namun, dia merasa Yukari bisa mengikuti keyakinan keluarga Mario. Namun, dia berharap itu semua dilakukan atas kesadaran Yukari dan mendapat bimbingan dari Mario beserta keluarganya.
"Apa kamu sudah membicarakan masa depan kamu dengan Yukari? Aku tidak mau kerabat aku hanya dijadikan alat pemuas bagi kamu. Jika kamu menganggap aku temanmu, lepaskan Yukari atau nikahi dia," ucap Alvan.
Mario terkejut mendengar ucapan sahabat sekaligus atasannya ini. Dia tahu kalau Alvan bukan orang yang hanya bisa bicara di mulut saja. Pastinya laki-laki itu akan melakukan sesuatu.
***
Apakah Mario dan Yukari akan mengikat hubungan dengan pernikahan? Atau mereka akan mengakhiri hubungan mereka? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.
__ADS_1