
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.
***
Bab 33
Hal yang paling tidak diinginkan oleh Aulia dalam hidupnya saat ini adalah bertemu kembali dengan Rangga dan kaluarganya. Namun, apa boleh buat jika takdir sudah tertuliskan seperti itu.
Anak Kiai Sholeh akan melangsungkan pernikahannya besok lusa, tentu saja banyak orang yang akan diundang oleh keluarga itu. Salah satunya adalah keluarga temannya, Pak Mulyono Abimana. Ternyata keluarga Damar Abimana juga datang ke sana.
Saat Aulia mengantarkan pesanan ke kediaman Kiai Sholeh untuk menjamu tamunya, tanpa sengaja dia melihat ada Rangga dan keluarganya baru turun dari mobil.
"Kak Rangga," gumam Aulia.
'Aulia?' batin Rangga.
Betapa terkejutnya Aulia saat tatapan matanya bersirobok dengan Rangga. Jantungnya berpacu dengan kencang dan ada getar dalam hatinya. Aulia pun dengan cepat menundukkan kepala dan berjalan menjauh dari sana. Apalagi kedua orang tuanya Rangga juga ada di sana.
"Ada apa?" tanya Shinta pada putranya.
"Aku merasa melihat Aulia," jawab Rangga sambil terus melihat ke arah gadis berjilbab dan memakai cadar.
"Mana? Jangan mengada-ada kamu?" tanya Damar pada putranya.
"Sampai kapan kamu akan melupakan wanita itu? Ingat bulan depan kamu juga akan segera menikah," lanjut Shinta sambil menatap tajam putranya.
"Itu bukan keinginan aku. Kalianlah yang memaksa aku untuk menikah dengan Karmila. Jika, aku bertemu dengan Aulia, maka aku akan membatalkan pernikahan itu!" ujar Rangga dengan kesal dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
***
Aulia memilih duduk dulu di masjid untuk beberapa saat. Dia takut kalau Rangga dan keluarganya masih ada di sana.
"Ya Allah, cobaan apalagi yang harus hamba hadapi. Di saat hamba akan melangkah merajut mahligai rumah tangga, laki-laki dari masa lalu kembali hadir," lirih Aulia.
"Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati hamba ini pada jodoh yang Engkau ridhoi. Jangan sampai hati ini berbelok kepada orang yang tidak berhak untuk mendapatkannya," ucap Aulia dalam doanya.
Getar-getar cinta dari masa lalu, dapat Aulia rasakan lagi. Dia takut kalau dirinya kembali jatuh ke lubang nista yang menghantarkannya ke lembah dosa. Bagi Aulia begitu sulit melupakan cinta pertamanya. Meski dia sudah menutup hati untuk Rangga dan berusaha melupakan laki-laki itu. Di saat dia merasa sudah lupa akan dirinya dan tidak lagi menganggap laki-laki itu orang yang berharga baginya. Kini tanpa dia duga laki-laki itu hadir kembali di hadapannya.
__ADS_1
***
Kakek Yusuf mencari keberadaan Aulia yang tidak kunjung kembali ke mobil. Setelah bertanya kepada beberapa santri, akhirnya dia menemukan gadis itu sedang berada di dalam masjid sedang menengadahkan kedua tangan berdoa kepada Tuhannya.
Setelah beberapa saat Kakek Yusuf pun memanggil Aulia. Sehingga gadis itu menghampiri dirinya.
"Ada apa? Kok, kamu berada di dalam masjid," tanya Kakek Yusuf.
"Tadi Aulia bertemu dengan Kak Rangga dan keluarganya di parkiran, Kek," jawab Aulia.
"Apa? Lalu, apa mereka menyadari keberadaan kamu?" tanya Kakek Yusuf dengan tatapan yang sarat akan kecemasan.
"Aulia rasa mereka tidak tahu karena tadi buru-buru pergi dan mereka tidak memanggil atau berusaha mengejar," jawab Aulia.
"Kalau begitu kamu masih bisa tenang. Apapun nanti yang terjadi kakek dan nenek pasti akan melindungi kamu," pungkas kakek Yusuf sambil mengusap kepala Aulia.
"Terima kasih, Kek. Aulia tadi sempat takut kalau rasa cinta yang dulu pernah hadir akan menyusup lagi ke dalam hatiku," ucap Aulia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan kalah oleh hawa napsu, Nak. Kamu harus bisa menundukkan hal itu," ujar kakek Yusuf.
***
Aulia kira dirinya tidak akan bertemu dengan Rangga lagi. Saat sore hari di acara pengajian khusus kaum wanita. Aulia dan nenek Halimah berselisih jalan saat hendak ke mesjid.
Lagi-lagi tatapan mereka saling beradu. Aulia dengan cepat menundukkan wajahnya.
"Aulia?" panggil Rangga kali ini.
Tubuh Aulia menegang saat namanya dipanggil dengan suara yang dulu selalu menghiasi hari-harinya. Dia kembali tersadar oleh sentuhan nenek Halimah di tangannya.
"Kamu memanggil cucu saya?" nenek Halimah bertanya kepada Rangga.
"Gadis bercadar itu cu-cu ne-nek?" tanya Rangga tergagap.
"Iya, dia cucu saya. Seorang laki-laki asing tidak sepantasnya memanggil nama orang seenaknya," balas nenek Halimah.
"Maafkan aku, Nek. Aku tanpa sadar memanggil nama orang yang sangat aku rindukan," ujar Rangga sambil menangkupkan kedua tangannya di depan mukanya.
__ADS_1
"Jangan panggil-panggil nama orang seenaknya. Bagaimana jika terjadi fitnah nanti? Apalagi cucu saya sebentar lagi mau menikah," tukas nenek Halimah.
"Baik, Nek. Akan saya ingat baik-baik nasehatnya. Assalamu'alaikum," ucap Rangga sebelum pergi.
"Wa'alaikumsalam," balas kedua wanita berbeda generasi itu. Namun, Aulia menjawab dengan sangat pelan.
Dia membalas salam dari Rangga karena hukumnya wajib membalas salam seseorang. Mau itu orang yang kita sukai atau pun tidak.
"Nak, apakah dia laki-laki yang tadi kamu dan kakek bicarakan saat di rumah?" tanya nenek Halimah melihat ke arah Aulia.
"Iya, Nek," jawab Aulia dengan pelan.
"Astaghfirullahal'adzim, kok, dia bisa sampai ke sini?" tanya nenek Halimah.
"Sepertinya keluarga mereka diundang oleh keluarga Kiai Sholeh," jawab Aulia sambil melepaskan sandal dan membantu nenek Halimah saat membuka sandalnya. Aulia memegangi tangan nenek Halimah agar tidak terjatuh.
***
Hati Rangga bergetar tiap melihat sorot mata bening milik gadis bercadar yang tadi ditemuinya tanpa sengaja. Jantungnya pun bertalu-talu seakan belahan jiwanya kembali berada di dekatnya.
"Tidak … tidak! Hanya Aulia yang bisa membuat aku seperti ini. Rasa cinta ini hanya untuk Aulia seorang. Tidak mungkin aku menyukai gadis lain," ucap Rangga bermonolog.
"Mas Rangga, apa sudah ketemu jam tangannya?" tanya Kiai Sholeh saat berpapasan.
"Alhamdulillah, ada Pak Kiai. Untungnya petugas masjid mengamankan barang yang tertinggal," jawab Rangga dengan senyum menawannya.
"Pastinya itu jam sangat berharga sampai rela-rela kembali lagi ke sini dari hotel," ujar Kiai Sholeh sambil tertawa.
"Iya, ini hadiah dari Aulia. Saat aku berulang tahun. Aku selalu menjaga, merawat, dan memakainya. Tadi karena terburu-buru saat mendengar iqomat dan masih ada yang antri mau wudhu, jadi tertingal," balas Rangga dengan senyum malu-malu sambil memegang jam tangan yang terpasang di pergelangan kanan.
Fathir yang berdiri tidak jauh dari mereka dapat mendengar pembicaraan kedua orang itu. Betapa terkejutnya dia saat mendengar nama Rangga dipanggil oleh Pak Liknya. Apalagi saat Rangga menyebut nama Aulia. Semakin yakin kalau laki-laki tampan itu adalah kekasih Aulia yang dulu menghamilinya.
Kedua tangan Fathir mengepal kuat. Rasanya dia ingin menghajar Rangga saat ini juga. Gara-gara laki-laki itu hidup Aulia jadi hancur berantakan. Gara-gara Rangga itu, nama baik Aulia jadi tercemar. Gara-gara pemuda itu kesempatan Aulia untuk meraih impiannya menjadi gagal.
***
Apa yang akan terjadi jika Rangga tahu jika gadis itu adalah Aulia yang selama ini dia cari? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1