
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga kebaikan kalian dibalas dengan lebih baik lagi.
***
Bab 25
Hari-hari Aulia berjalan seperti biasa. Dini hari diisi dengan ibadah sepertiga malam. Pagi hari setelah sholat Subuh belajar mengaji, memahami arti dan tafsir ayat-ayat Alquran bersama nenek Halimah. Setelah itu sekitar jam 07.00 dia memulai membuat keripik bersama Mutiara sampai jam 11.00 atau paling telat sampai waktu Dzuhur. Siang hari membaca buku keagamaan. Sore hari setelah sholat Ashar, dia ikut pengajian bersama nenek Halimah. Disela-sela menunggu waktu Magrib, biasanya dia suka membuat olahan makanan atau apapun di dapur. Kakek Yusuf dan nenek Halimah selalu menyukai makanan yang dibuat oleh Aulia. Setelah sholat Maghrib dia muroja'ah bersama nenek Halimah. Setelah Isya, belajar ilmu agama bersama kakek Yusuf sampai jam 21.00 lalu Aulia baru tidur.
Kesedihan hatinya pun berangsur membaik. Nasehat, penyemangat, dan dukungan dari kakek Yusuf dan nenek Halimah, juga Mutiara. Membuat Aulia tegar dan kembali lagi bersemangat menjalani hari-harinya.
Meski kadang dia dan Fathir masih sering bertemu tanpa sengaja, mereka hanya bertegur sapa. Dalam diam mereka selalu saling mendoakan untuk kebaikan dan kebahagiaan. Saat bersujud di hadapan Tuhannya, mereka meminta kebaikan untuk hubungan kedepannya.
***
"Bu, Pak Kiai Basir sudah sampai ke ndalem, semalam. Pagi ini beliau mengundang kita ke sana," kata kakek Yusuf setelah sarapan bersama.
"Alhamdulillah, beliau sudah sampai dengan selamat. Apa keluarga Gus Rahmat juga ikut?" tanya nenek Halimah tentang adiknya Kiai Akbar.
"Iya, mereka semua juga ikut ke sini. Katanya selagi liburan sekolah anak, mereka akan tinggal di ndalem," jawab kakek Yusuf.
"Kita harus bawa sesuatu saat ke sana," ucap nenek Halimah.
"Biar Aulia buatkan bolu ubi dan getuk lindri. Semoga Kiai Basir juga suka itu," kata Aulia.
"Insha Allah, beliau akan suka. Terima kasih, Nak." Kakek Yusuf tersenyum dan menepuk tangan Aulia. Dia senang karena Aulia selalu berinisiatif terlebih dahulu tanpa diminta duluan.
***
Kakek Yusuf, nenek Halimah, dan Aulia pun datang mengunjungi ndalem. Mereka membawa buah tangan yang agak banyak.
__ADS_1
Beberapa waktu yang lalu, Aulia membeli mobil sedan bekas agar mereka bertiga bisa pergi bersama-sama. Kakek Yusuf dan nenek Halimah juga, jadi tidak kepanasan atau kehujanan saat bepergian. Jika, kakek Yusuf atau nenek Halimah pergi berdakwah agak jauh, Aulia yang akan mengantarkan mereka. Selian itu, Aulia juga bisa mengirimkan pesanan barang dagangannya yang semakin banyak itu dengan lebih aman dan mudah.
"Assalamu'alaikum," salam kakek Yusuf begitu masuk halaman depan ndalem.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas seorang kakek-kakek tua yang duduk di kursi kayu bersama beberapa orang, dan yang lainnya pun mengikuti.
"Yusuf, sahabatku! Aku rindu sekali, ingin bertemu dengan kamu," ucap laki-laki tua itu.
"Kiai Basir, saya juga rindu bertemu dengan kamu," balas kakek Yusuf sambil memeluk sahabat lamanya itu.
Para manula itu langsung berbincang-bincang melepas rindu. Nenek Halimah berbincang-bincang dengan kaum perempuan di dalam rumah lebih tepatnya ruang tamu keluarga Kiai Akbar. Sementara itu, Aulia, Annisa, dan beberapa gadis anak dari anak Gus Rahmat berbincang-bincang di halaman belakang sambil membuat rujak. Tawa para gadis dan remaja perempuan itu terdengar bahagia. Meski Aulia baru pertama kali bertemu dengan mereka. Dia langsung bisa berbaur.
***
"Ini bolu enak sekali," ucap Kiai Basir memuji dan makan potongan bolu untuk yang ketiga kalinya.
"Yang ini juga enak," ucap Gus Rahmat sambil menunjuk getuk lindri.
"Kamu ini selalu hebat dalam mendidik anak-anak asuhmu," ujar Kiai Basir.
"Abah, Ustadz Yusuf itu sudah dari dulu juga hebat dalam mendidik. Contohnya aku sama Mas Akbar adalah hasil didikan beliau," puji Gus Rahmat.
"Anda terlalu memuji, Gus," sanggah kakek Yusuf.
"Tapi, itu adalah kenyataan," balas Kiai Akbar.
"Hasan dan Husen bangga punya bapak seperti Anda, Ustadz," lanjut Gus Rahmat menyebut dua anak kembar dari kakek Yusuf yang meninggal saat menjalankan tugas sebagai abdi negara di daerah konflik.
"Terima kasih," pungkas kakek Yusuf dengan mata berkaca-kaca mengingat kedua putra bujangnya, yang selalu bangga dengan seragam lorengnya dahulu.
__ADS_1
"Mereka adalah para syuhada yang selalu berpegang teguh akan ajaran Islam. Dua pemuda yang sehidup semati dalam membela tanah air. Kamu, sebagai orang tuanya pun pasti bangga akan kedua putramu itu, Yusuf." Kiai Basir tahu kalau saat ini sahabatnya itu sedang mengenang sosok putranya.
"Ya, mereka berangkat dengan senyum penuh kebanggaan dan pulang dengan senyum bahagia," ucap kakek Yusuf.
"Kamu adalah salah satu laki-laki terhebat yang aku kenal, Yusuf. Berhasil membesarkan dan mendidik putra-putramu, sehingga menjadi pemuda yang begitu mencintai negeri ini. Mendidik para anak yatim dan piatu. Punya istri yang selalu setia mendampingi dirimu. Sepertinya Allah begitu menyayangi dirimu," kata Kiai Basir.
"Alhamdulillah, Allah itu Maha Penyayang, Dia juga pasti menyayangi makhluk ciptaannya. Hanya saja kita sebagai makhluknya, malah suka mendzolimi diri sendiri. Dikasih ujian sedikit saja, kita kadang berpikir Allah tidak sayang sama kita. Padahal disitulah Allah berharap kita semakin mendekatkan diri pada-Nya. Sehingga kita akan merasakan betapa besar kasih sayang-Nya kepada kita," tukas kakek Yusuf. Semua orang yang ada di sana membenarkan.
"Itu karena ada setan yang selalu menutup dan memalingkan hati kita. Sehingga kita lupa kalau ujian itu untuk meningkatkan derajat kita," lanjut Kiai Akbar.
***
Aulia yang sedang membereskan ruang perpustakaan tanpa sengaja menjatuhkan beberapa buku. Dia pun memunguti buku-buku itu. Terselip sebuah foto usang yang berwarna hitam putih.
"Siapa mereka?" gumam Aulia melihat dua orang berseragam tentara.
"Gagah," lanjutnya masih memandangi foto itu.
"Ini tadi di buku yang mana, ya?" tanya Aulia pada dirinya sendiri.
Buku-buku yang berjatuhan tadi kebanyakan tentang sejarah peradaban Islam di dunia. Maka Aulia pun kembali memasukan foto itu di salah satu buku. Entah yang mana, asal dimasukan lagi.
Selesai membereskan perpustakaan mini itu, Aulia mengambil salah satu buku kisah-kisah muslimah hebat dan inspiratif. Menurut Aulia, dia bisa belajar dari tokoh-tokoh itu. Terutama para muslimah yang hidup di zaman awal adanya Islam.
Setelah Aulia selesai membaca semuanya. Dia merasa kalau ujian yang di dapat olehnya tidak seberapa, jika dibandingkan dengan para muslimah itu. Dia begitu mengagumi sosok-sosok wanita yang berjuang demi keimanan mereka kepada Tuhan Pencipta Alam Semesta ini.
Ada pesan masuk dari Annisa yang meminta Aulia untuk membuatkan 12 loyang bolu ubi dan bolu pelangi untuk lusa dan disuruh kirimkan ke ndalem.
"Apa keluarga ndalem ada acara, ya? Mereka kok memesan banyak sekali bolu," tanya Aulia seorang diri.
__ADS_1
***
Mau ada acara apa nih, di keluarga Fathir? Tunggu kelanjutannya, ya!