Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 96. Kabar Gembira


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 96


Amelia berkata, "Aku juga tidak tahu, kenapa sekretarisnya menelepon ke nomor aku."


"Ya, sudah. Aku akan tanyakan dulu kepada Yukari jadwal hari ini. Apa ada waktu untuk merubah agenda aku hari ini," ucap Alvan.


Aulia merasa tidak ada hubungan dalam pembicaraan mereka, maka dia pun hendak pergi, karena harus mengerjakan tugas miliknya.


"Aulia, kamu mau ke mana?" tanya Alvan menarik ujung lengan baju milik Aulia.


"Mau kerja," jawab Aulia sambil menunjuk ruangannya.


"Kamu ikut aku. Ada pertemuan dengan para direksi. Kamu yang dulu sudah menyiapkan proposal bersama aku,"  ucap Alvan dan itu membuat Aulia merasa aneh. Sebab, asistennya itu Amelia.


"Amelia kerjakan tugas kamu di ruangan kamu mulai hari ini!" titah Alvan.


Terlihat ada rasa kecewa dari raut wajah Amelia. Gadis itu bekerja di bagian marketing, tetapi Alvan memintanya untuk menempati meja Aulia untuk beberapa waktu. Hal ini sudah diketahui oleh perempuan itu. Hanya saja Amelia tidak tahu ada permasalahan apa antara Alvan dengan Aulia.


"Baik, Kak." Amelia pun pergi mengambil tasnya.


Aulia kini menjadi merasa tidak enak kepada Amelia. Dia jadi merasa semakin canggung padanya.


"Ayo, kamu juga siapkan segala keperluan kamu!" titah Alvan kepada Aulia.


Seharian itu Alvan tidak mengizinkan Aulia jauh darinya. Bahkan saat pulang juga dia juga meminta Aulia naik mobil bersama dengannya. Serta, menyuruh sopir kantor mengantarkan mobil milik perempuan itu ke rumahnya

__ADS_1


***


"Alhamdulillah, Papi akhirnya kita akan punya menantu!" seru Mami Siska bahagia. Dia terus memeluk dan mencium pucuk kepala Aulia.


Papi Kenzo pun senang saat mendengar kabar ini. Dia sudah yakin kalau jodoh Alvan adalah Aulia. Sebab, dirinya bersama sang istri setiap hari dan setiap waktu selalu mendoakan jodoh yang terbaik untuk putra mereka. Hanya saja hati mereka sudah menambatkan hati pada Aulia sebagai calon menantu.


"Iya, Mami. Papi tahu. Ternyata doa kita dikabulkan oleh Allah," balas Papi Kenzo diiringi senyumannya.


"Doa orang tua itu mustajab, apalagi bagi anaknya," lanjut Mami Siska kini memeluk Alvan.


Suasana rumah mewah milik Papi Kenzo kini terasa ramai oleh celotehan para penghuninya. Bukan hanya tuan rumah, tetapi para pekerja di sana pun ikut bahagia. Mereka juga selalu berharap kalau Aulia bisa menjadi bagian dari keluarga itu.


"Lalu, kapan kalian akan menikah?" tanya Papi Kenzo kepada Alvan dan Aulia.


Jantung Aulia berdetak semakin kencang saat mendengar pertanyaan dari laki-laki berdarah Jepang itu. Lalu, dia pun melirik ke arah Alvan. Berharap pria ini memberikan sebuah jawaban yang tepat.


"Aku belum menemui Kakek Yusuf dan Nenek Halimah. Setelah bertemu mereka nanti kita akan cari waktu yang pas. Aku berharap bisa secepatnya kita bisa menikah. Bahkan kalau bisa hari Minggu nanti," jawab Alvan diiringi tawa cerianya.


"Bagaimana kalau sekarang kita semua siap-siap untuk menemui Kakek Yusuf dan Nenek Halimah?" ajak Alvan kepada kedua orang tuanya.


"Kenapa mendadak begini? Kita harus bawa hantaran kalau mau meminang anak orang," ucap Mami Siska sambil menatap gemas kepada anak semata wayangnya itu. Dia tahu kalau Alvan ini tipe orang yang selalu bergerak cepat, apalagi jika itu yang menyangkut dirinya.


"Biar kami bantu Nyonya menyiapkan semuanya. Kita bisa berpencar mencari barang-barang yang akan dibawa sebagai hantaran," kata salah seorang asisten rumah tangga yang kebetulan sedang meletakan air teh hangat pesanan Mami Siska.


"Tuh, Mi! Mereka juga mau membantu," tukas Alvan senang.


"Tidak! Mami ingin semua itu disiapkan oleh mami sendiri," tolak Mami Siska.


Papi Kenzo dan Alvan saling melirik dan mengangkat kedua bahu mereka. Mereka tahu kalau keputusan wanita paruh baya itu tidak akan bisa di ganggu gugat.

__ADS_1


Aulia hanya diam, karena dia juga belum menyiapkan sesuatu di rumah untuk menyebut kedatangan calon mertua dan calon suaminya.


"Aulia, tolong beri tahu apa saja kesukaan Kakek Yusuf dan Nenek Halimah? Aku ingin memberi sesuatu yang mereka senangi," tanya Alvan.


"Aku rasa kakek dan nenek bukan tipe orang yang punya sesuatu hal yang paling disukai. Jika, kita memberi sesuatu kepada mereka pasti akan senang menerimanya dan balik mendoakan kita," jawab Aulia.


"Jika kita ajak pergi umrah bersama, apa mereka mau?" tanya Papi Kenzo.


Mendengar hal ini tentu saja Aulia akan menjawab tidak tahu. Sebab, dia juga dulu sudah mendaftarkan mereka untuk pergi umrah. Saat hendak menyiapkan berkas-berkasnya, mereka berdua menolak. Malah menyuruh uang itu dipakai untuk keperluan dirinya, atau untuk membayar utang pada Alvan.


"Maaf, saya tidak bisa menjawab itu, Papi. Harus ditanyakan langsung kepada kakek dan nenek," jawab Aulia.


***


Alvan pun mengantarkan Aulia ke rumah dan hendak bicara mengenai pinangan untuk sang pujaan hati kepada walinya. Dia juga berharap kalau Kakek Yusuf dan Nenek Halimah langsung menyetujui keinginannya ini. Alvan tidak mau kalau sampai ada drama mereka tidak mendapatkan restu dari salah satu dari mereka.


"Bismillahirrahmanirrahim. Semoga semuanya berjalan lancar dan sesuai keinginan kita," ucap Alvan saat dia hendak menjalankan mobilnya untuk mengantarkan Aulia pulang.


"Aamiin," balas Aulia dengan senyum di balik cadarnya.


Saat dalam perjalanan pulang pun terjadi percakapan di antara mereka berdua mengenai acara pernikahan nanti. Alvan ingin dirayakan dengan pesta besar di tempat yang jauh dari keramaian kota. Sementara itu, Aulia ingin pesta pernikahan yang sederhana dan hanya mengundang tetangga dan teman mereka. Baginya pernikahan itu yang penting sah di mata Allah dan hukum negara. Serta doa-doa tulus dari orang-orang yang mengenal mereka.


"Kita bicarakan ini bersama orang tua kita nanti. Aku yakin mami dan papi akan setuju dengan konsep yang aku usung tadi," kata Alvan pada akhirnya.


"Aku menginginkan hari pernikahan nanti itu suasananya penuh dengan hidmat dan doa-doa dari tamu undangan untuk kebaikan rumah tangga yang akan kita bina nanti," tukas Aulia.


"Akan aku tulis dengan huruf yang besar di depan pintu tempat kita mengadakan pesat, "Diwajibkan kepada para tamu undangan untuk mendoakan kebaikan bagi pasangan pengantin baru" terutama kepada Rangga dan Gus Fathir. Mereka harus mendoakan kebaikan untuk rumah tangga kita nanti," ujar Alvan sambil mengangkat tangannya sebelah sebab yang sebelah lagi sedang memegang stir mobil.


***

__ADS_1


Bagaimana reaksi Gus Fathir dan Rangga saat tahu kalau Aulia sudah menjatuhkan pilihannya 🤭? Tunggu kelanjutannya, ya! 😍🥰


__ADS_2