Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 102. Kedatangan Rangga


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 102


"Alvan!" Tiba-tiba saja pintu ruangan kerja itu dibuka oleh seseorang.


Rangga memasuki di ruang kerja Alvan. Napas laki-laki itu terlihat terputus-putus. Menandakan kalau dia sudah berlari dalam jarak yang jauh.


"Kak Rangga?" gumam Aulia terkejut dengan kedatangan laki-laki ini.


Rangga menetap ke arah Aulia terlihat jelas pacaran muatannya yang sarat akan kerinduan pada sang pujaan hati. Dia pun hanya tersenyum tipis kepada perempuan bercadar itu.


"Assalamualaikum, Aulia," salam Rangga.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. Apakah Rangga mencari Tuan Alvan?" tanya Aulia.


"Iya. Di mana dia sekarang?" tanya Rangga.


"Buat apaan saat ini sedang berada di ruang direktur utama," jawab perempuan bergamis longgar.


Rangga pun mengguarkan rambutnya. Terlihat jelas kekesalan di wajah laki-laki itu. Dia menarik napasnya beberapa kali dengan kasar.


"Kak Rangga duduk dulu di sini!" titah Aulia sambil menunjuk kursi sofa single.


Rangga pun duduk di sana dan Aulia mengambilkan air minum untuknya. Sementara itu, Amelia beranjak dari sofa dan berpamitan.


'Aduh, Amelia malah pergi. Bagaimana ini?' (Aulia)


'Ya Allah, aku menunggu kepada-Mu dari fitnah setan yang terkutuk.' (doa Aulia dalam hatinya)


'Semoga Alvan cepat datang!' (Aulia penuh harap)

__ADS_1


Tidak berselang lama pintu itu pun terbuka dan menampilkan sosok Alvan dan Mario masuk ke sana. Kedua orang itu terkejut saat melihat ada Rangga sedang duduk manis menatap ke arah mereka.


"Tumben kamu datang ke sini, apa semua pekerjaanmu berjalan lancar di Sumatera?" tanya Alvan sambil berjalan ke arah meja kerjanya.


Mario penduduk di sofa yang tadi diduduki oleh Aulia dan Amelia. Laki-laki berkulit eksotis itu melihat silih berganti kepada dua laki-laki yang sudah bersahabat sejak remaja.


"Bagaimana bisa aku bekerja sedang pikiranku kacau saat ini," jawab Rangga jujur.


Alvan pun melihat ke arah Rangga, lalu melirik ke arah Aulia yang sedang duduk di meja kerjanya. Dia merasa tidak enak kepada dua orang itu jika berbicara di sini. Rangga adalah teman terbaiknya sejak remaja dulu, sedangkan Aulia adalah perempuan yang dia cintai dan juga dicintai oleh sahabatnya.


"Kita bicara di tempat yang lain saja!" ajak Alvan sambil beranjak dari kursinya.


Rangga pun bangkit dan mengikuti Alvan. Namun, sebelum laki-laki itu pergi dari ruang kerja, dia melirik ke arah Aulia. Netra mereka saling beradu pandang beberapa detik.


***


Alvan mengajak Rangga kayak atap bangunan itu. Kini kedua laki-laki itu berdiri saling berhadapan. 


"Jadi, apa yang akan kamu bicarakan kepadaku saat ini? tanya Rangga sambil menetap tajam ke arah Alvan.


"Baiklah, aku minta maaf karena sudah mengikat gadis yang kamu cintai juga, tanpa bicara terlebih dahulu kepadamu. Karena saat itu keadaan sedang mendukung kami untuk melanjutkan hubungan ke yang lebih serius. Meskipun sebenarnya aku tidak perlu meminta izin kepadamu untuk meminang Aulia. Karena kamu tidak punya hak untuk melarang kami berdua menyatukan cinta kita dalam ikatan yang sah," kata Alvan.


Rangga membenarkan ucapan Alvan barusan. Hanya saja dia sakit hati saat tahu sahabat terbaiknya yang dipilih oleh Aulia. Selama ini dia selalu setia menanti diterimanya kembali perasaan cinta dia oleh sang pujaan hati.


Rangga, Alvan, dan Gus Fathir, dulu tidak akan mempersalahkan siapa yang akan dipilih oleh Aulia nantinya. Seharusnya saat ini Rangga juga menerima dengan lapang hati seperti yang dilakukan oleh Gus Fathir. Namun, kita saja rasa kecewa ada di dalam hatinya.


"Ya, kamu benar. Aku hanyalah orang dari masa lalu Aulia. Jadi, kamu tidak perlu meminta izin kepadaku karena aku tidak punya hak. Tetapi, aku sakit hati karena kamu tidak menganggap aku sebagai sahabat terbaikmu. Sebagai seorang teman, kau tidak memberi tahu kabar gembira yang sedang kau rasakan itu kepadaku. Kau memberi tahu aku setelah kau selesai meminang dirinya. Kenapa? Apa kamu takut aku akan menggagalkan rencana khitbah-mu kepada Aulia?" Rangga meluapkan rasa kekesalannya kepada Alvan.


***


Alvan masuk ke dalam ruangan kerjanya sambil menunduk. Dia tidak ingin Aulia mau lihat wajahnya yang babak belur. Tadi dia dan Rangga sempat berkelahi untuk mengeluarkan perasaan keduanya sampai merasa puas. 


'Seandainya saja tidak akan ada rapat setelah ini, aku memilih pergi saja daripada wajah telur ini dilihat oleh Aulia.' (Alvan)

__ADS_1


Sebenarnya bukan hanya dirinya saja yang wajahnya menjadi babak belur Begitu juga dengan Rangga. Bahkan aki-laki itu hidungnya sampai mengeluarkan darah.


Aulia mengarahkan penglihatannya ke arah Alvan yang menjadi pendiam setelah kembali. Tentu saja hal ini membuat heran perempuan itu. Biasanya sang atasan selalu saja mengganggu dia saat bekerja.


Aulia mengerjapkan matanya beberapa kali, karena dia melihat ada memar di sudut bibir dan pelipis milik Alvan. Lalu, dia pun beranjak dari kursinya menuju meja kerja Alvan


"Tuan, kamu terluka? Kenapa wajahmu bisa menjadi seperti ini?" Aulia berdiri menelisik wajah calon suaminya itu.


Alvan tidak bisa mengelak, makanya dia menceritakan kejadian di atap tadi saat bersama dengan Rangga. Kalau mereka sudah meluapkan perasaan masing-masing, sebagai sesama teman laki-laki.


Aulia hanya menggelengkan kepala setelah mendengar cerita dari atasannya ini. dia tidak harus pikirkan apa laki-laki suka sekali menyelesaikan masalah dengan adu kekuatan fisik.


Lalu Aulia pun mengobati luka memar yang ada di wajah Alvan. Sebab, sebentar lagi akan ada rapat dengan perusahaan yang bekerjasama dengan mereka.


Saat Aulia mengobati wajah Alvan, terlihat laki-laki itu begitu menatap lekat kepada mata indah milik Aulia.


'Ya Allah cantik sekali perempuan di hadapanku ini. Pantas saja Rangga terlalu sangat mencintai dirinya sejak dulu sampai sekarang.' (Alvan)


"Jaga pandanganmu, Tuan. Saat ini aku belum halal bagi dirimu," ucap Aulia.


Alvan pun berdeham dan memejamkan matanya. Daripada harus melihat ke arah Aulia yang malah membuat jantung dia berdebar tidak menentu.


"Aulia, nanti kamu jangan berpaling kepada laki-laki yang lainnya, ya?" Alvan tiba-tiba saja mengucapkan hal itu.


Aulia yang mendengar ucapan itu menjadi kesal dan menekan kuat sudut bibir Alvan yang sedang dia obati. Perempuan itu melotot ke arah laki-laki yang sedang meringis kesakitan.


"Emangnya aku ini wanita apaan. Apa aku terlihat seperti mudah melirik kepada laki-laki lain," balas Aulia kesal.


"Tidak. Hanya saja terlalu banyak laki-laki hebat yang selalu mengharapkan dirimu sebagai pasangan hidupnya," ucap Alvan.


"Kalau begitu seharusnya kamu bersyukur karena aku sudah menjatuhkan pilihan kepada dirimu," tukas Aulia dengan nada jahil.


***

__ADS_1


Aduh bingung mau ngetik apa lagi 😅. Apakah acara pernikahan mereka akan berjalan lancar? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2