Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 24. Keputusan Aulia


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.


***


Bab 24


     Keluarga Fathir terkejut saat menerima panggilan telepon dari kakek Yusuf. Apalagi Fathir sampai pergi mendatangi kediaman kakek yang sudah mendidik sang pujaan hatinya itu.


"Assalamu'alaikum," salam Fathir dengan napas terengah-engah.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas kakek Yusuf begitu membuka pintu.


"Ustadz Yusuf, apa Aulia ada?" tanya Fathir. Terlihat jelas sekali wajahnya kusut. 


"Duduklah!" titah kakek Yusuf pada tamunya.


    Tidak lama kemudian datanglah Aulia bersama nenek Halimah. Mereka membawa teh manis, satu piring bolu, dan dua keler keripik.


"Aulia, apa maksudnya kamu menolak khitbah dari aku?" tanya Fathir dengan tatapan nanar.


"Maaf, Gus. Saat ini adalah pilihan terbaik buat kita. Saya juga akan menjadi seorang yang lebih baik lagi agar dipandang pantas untuk menjadi pendamping dirimu," jawab Aulia sambil menundukkan kepala.


"Kamu, jangan dengarkan ocehan mereka. Kedua orang tua aku juga sudah memberikan restunya. Biarkan saja orang lain yang tidak tahu dan mengenal dirimu itu. Cukup keluarga kita memberikan restu mereka," ujar Fathir.


"Tidak, Gus. Jangan seperti itu. Aku ingin membangun rumah tangga itu dengan doa dan restu dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Agar kehidupan rumah tangga itu penuh berkah dan karunia-Nya. Maka kita pun akan senantiasa merasa bahagia saat menjalinya," ucap Aulia.


"Maksud Aulia, sampai mereka bersedia memberikan doa dan restu untuk hubungan kalian. Siapa tahu seiring dengan bergulirnya waktu, mereka akan memahami Aulia dan menilai kalau dia memang pantas untuk menjadi istri dari Gus Fathir," jelas nenek Halimah.


     Fathir melihat ke arah Aulia sekilas, dia tahu Aulia menerima tekanan yang lebih berat daripada dirinya, dari warga sekitar. Hatinya juga ikut merasakan sakit membayangkan kejadian tadi pagi yang sudah terjadi di rumah ini. Dia mendapat kabar dari salah seorang ustadz yang kebetulan lewat sini.


"Baiklah jika itu pilihan yang terbaik kamu untuk hubungan kita. Aku akan sabar menunggu dan nanti akan mengkhitbah kamu lagi. Dan aku harap saat itu jawabannya tidak akan mengecewakan aku lagi," balas Fathir dengan berlapang dada, meski hatinya sakit.


"Terima kasih, Gus. Semoga Allah mempermudah dan memberikan jalan terbaik untuk kita kedepannya," ucap Aulia penuh harap. Hati dia juga terluka sudah menolak pinangan dari laki-laki yang disukainya. Namun, ini adalah pilihan terbaik saat ini untuk semua orang. Aulia berharap kalau keputusannya ini tidak salah. Dia pasrah dan ridho dengan skenario takdir yang sudah dibuatkan oleh Allah untuk dirinya.

__ADS_1


"Allah menciptakan semua makhluk secara berpasang-pasangan. Yakinlah, kalau Allah juga sudah menyiapkan pasangan untuk kita," ucap kakek Yusuf dan Aulia pun mengangguk.


"Aku berharap Aulia, kamulah pasangan yang Allah ciptakan untukku," gumam Fathir.


***


     Kabar batalnya khitbah Fathir dan Aulia disambut gembira oleh banyak orang. Apalagi warga kampung di sana, yang menilai kalau Aulia itu sangat tidak pantas untuk menjadi istri pemuda kebanggan warga.


     Bahkan mereka juga berharap kalau bisa Aulia juga pergi dari kampung mereka. Namun, mereka tidak bisa melakukan hal itu karena Aulia berada dalam asuhan kakek Yusuf, tetua yang dihormati dan dikagumi di sana. Ada juga keluarga ndalem yang akan melindunginya.


"Syukurlah, Gus Fathir tidak jadi dengan si wanita itu," ucap salah satu warga yang sedang berkumpul di warung sambil menikmati jajanan di sana.


"Iya, kasihan kalau sampai Gus menikah dengannya. Dia dapat bekas," timpal yang lainnya.


"Aduh, aku tidak menyangka kalau dia itu dulunya wanita tidak baik. Padahal kalau aku lihat selama ini, dia seperti gadis baik-baik. Ternyata aku tertipu," ujar si pemilik warung.


"Iya, dia terlihat pendiam, ramah, dan sopan kepada kepada siapa saja. Ternyata dibalik sifat baiknya dia itu pelaku zina," ucap yang lain ikut membenarkan.


"Apa saya bilang, kalau wanita kota itu kebanyakan tidak benar," ujar Bi Sumi yang menaruh nilai buruk terhadap perempuan dari kota.


"Iya, ibu mertua aku juga orang kota. Dia mertua yang sangat baik. Sayang sama aku dan anak-anakku juga," sanggah yang lainnya. Hal ini membuat Bi Sumi kesal, lalu pergi dari warung itu.


***


     Aulia duduk termenung di teras belakang rumah. Seharusnya dia menggoreng keripik singkong dan talas hari ini. Namun, tubuh dan pikiran dia sedang tidak bisa diajak bekerja. Mutiara pun disuruh libur dulu selama 3 hari ke depan. 


"Assalamu'alaikum, Lia." Annisa tiba-tiba muncul dari balik pintu dan itu membuat Aulia terkejut.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Eh, Ning, sama siapa ke sini?" tanya Aulia sambil tersenyum.


"Sama Abah dan Umma. Mereka sedang bicara di depan bersama Ustadz Yusuf dan Ustadzah Halimah," jawab Annisa ikut duduk di samping Aulia.


"Kamu sedang apa di sini? Tumben itu singkong dan talas tidak diolah? Mana Ara?" tanya Annisa sambil celingukan mencari sosok temannya.

__ADS_1


"Libur dulu. Aku sedang tidak mood melakukan apapun," jawab Aulia.


    Annisa bisa melihat garis kesedihan di wajah sahabatnya. Dia juga ikut bersedih karena melihat kisah dua orang yang saling mencintai tidak bisa bersatu hanya karena gara-gara masa lalu si gadis.


"Kamu hebat, Lia. Kalau aku jadi kamu, entah apa yang akan terjadi?" Annisa menggelengkan kepalanya menghilangkan bayangan kalau dia dan Ustadz Azka tidak bisa bersatu.


"Aku percaya kalau Allah akan memberikan jodoh yang terbaik untuk kita," ucap Aulia dengan senyum getirnya.


"Aku sampai sekarang selalu berharap kalau kamu adalah jodohnya Mas Fathir," kata Annisa sambil tersenyum menggoda sang sahabat. Aulia pun tersenyum simpul kali ini.


***


     Sementara itu, di ruang tamu ada empat orang yang sedang berbicara. Mereka pun membahas penolakan Aulia akan pinangan dari putra pimpinan pondok pesantren. Meski ada rasa kecewa, mereka menghargai pilihan Aulia. 


"Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk Aulia. Kasihan gadis malang itu. Jika, dalam sisa hidupnya harus mengalami tekanan dari orang banyak. Biarkan saja semuanya mengalir apa adanya. Aulia saat ini masih muda dan perlu banyak belajar dalam kehidupannya," jelas Kakek Yusuf.


"Ustadz, sepertinya tidak percaya sama aku, untuk menjaga Aulia," ucap Kiai Akbar sambil tertawa terkekeh.


"Bukan itu maksud aku. Biarkan dia berkembang dulu. Baik itu pemikirannya, sikapnya, tutur bahasanya, dan pemahaman akan ilmu yang dimilikinya," bantah kakek Yusuf.


"Benar itu, Bah. Lagian kalau Aulia dan Fathir berjodoh, tidak akan ke mana. Meski mereka pergi jauh, pasti akan bersama lagi pada akhirnya," ucap Nyai Khadijah.


"Saya dengar Kiai Basir akan kembali tinggal di sini?" tanya Yusuf tentang sosok sahabatnya yang juga merupakan bapaknya Kiai Akbar.


"Iya, Abah ternyata betah di sini, katanya," jawab Kiai Akbar sambil tertawa kecil.


"Apa beliau masih bugar seperti dulu saat terakhir bertemu?" tanya kakek Yusuf.


"Sepertinya bugaran Anda, jika dibandingkan dengan Abah," balas Kiai Akbar membayangkan keadaan bapaknya yang tadi pagi melakukan video call dan bilang akan pulang ke Indonesia.


"Saya sangat menantikan beliau," ujar kakek Yusuf.


***

__ADS_1


Kakeknya Fathir akan datang, nih! Kira-kira dia akan akan bantu Fathir menyatukan dengan Aulia atau sebaliknya, memisahkan mereka? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2