
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip agar terbaca oleh sistem. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan bahagia selalu.
***
Bab 69
"Apa kamu sudah tahu di mana keberadaan Aulia sekarang?" tanya Alvan.
"Aku sudah mendapat kabar, katanya dia ikut dengan orang yang sudah menolongnya," jawab Rangga.
Mendengar itu Aulia menjadi panik sampai-sampai tubuhnya bergetar. Jujur saja dia tidak ingin kehidupannya sekarang dibayangi lagi oleh masa lalu. Bukan berarti dia melupakan apa yang sudah terjadi pada dirinya yang lalu. Hanya saja dia ingin terus maju dan tidak terpuruk akan kenangan buruk yang dimilikinya itu.
Aulia juga sudah menghilangkan rasa benci kepada orang-orang yang sudah membuatnya menderita. Dia sudah memaafkan kesalahan orang-orang itu dan tidak ingin lagi terluka untuk kedua kalinya.
"O, ya. Apa kamu sudah tahu alamatnya, tempat dia tinggal sekarang?" tanya Alvan dengan rasa ikut bahagia.
"Iya dan rasanya aku tidak asing dengan alamat yang diberikan oleh pihak rumah sakit," jawab Rangga sambil mengeluarkan sebuah kertas dari balik jasnya.
Advan pun membaca alamat yang tertera di dalam kertas itu dan dia pun mengerutkan alisnya. Bagi dia nama desa dan kecamatannya tidak terasa asing.
"Aulia bukannya alamat toko milikmu itu di Desa Sukacita dan Kecamatan Sukahening?" tanya Alvan yang kini melihat ke arah Aulia yang sedang berada di mejanya.
Mendapat pertanyaan mendadak dari Alvan, membuat tubuh Aulia menegang dia menjadi bingung harus menjawab apa. halo Dia pun menjawab, "Ya itu benar, toko aku berada di Desa Sukacita yang berkecamatan di Sukahening."
"Benarkah itu, Aulia?" Senyum bahagia dan matanya yang berbinar terlihat jelas dari diri Rangga saat ini.
"Benar, Kak," jawab Aulia tanpa melihat ke arah Rangga.
'Ya Allah, aku berserah diri kepadamu. Aku pasrahkan apapun yang akan terjadi kedepannya. Apa yang akan terjadi pada diriku ini,' batin Aulia.
"Apa kamu pernah melihat atau kenal dengan perempuan ini?" tanya Rangga sambil menunjukkan foto Aulia yang ada di handphonenya.
Dada Aulia bergemuruh, dia menahan agar tidak sampai menangis saat melihat foto dirinya yanhlg masih dijadikan wallpaper di handphone milik Rangga. Aulia tahu kalau Rangga masih mencintainya sampai saat ini.
__ADS_1
"Tidak," jawab Aulia dengan suara yang bergetar.
'Ya Allah, ampuni aku yang sudah berbohong kepadanya. Kak Rangga maafkan aku yang belum bisa jujur kepadamu.' batin Aulia.
"Apa yang akan Kak Rangga lakukan, jika bertemu dengan dia lagi?" tanya Aulia.
"Aku akan melamar dan mengajaknya menikah sesuai janji aku dulu kepadanya," jawab Rangga masih dengan senyum tampan menghiasi wajahnya.
"Bagaimana kalau kita juga menikah Aulia?" tanya Alvan sambil tersenyum manis kepada sang asisten.
"Tuan, Anda tahu kriteria laki-laki seperti apa yang aku cari untuk dijadikan pendamping hidup," balas Aulia.
"Tunggu, ya. Akan aku pastikan, kalau aku ini bener layak untuk dijadikan suami oleh kamu," ujar Alvan sambil menepuk dadanya sendiri.
***
Tanpa Aulia ketahui kalau saat ini Alvan sedang berada di rumahnya untuk menemui kakek Yusuf dan nenek Halimah. Dia ingin membicarakan sesuatu yang penting kepada mereka.
"Kakek ... nenek bolehkah aku meminang Aulia untuk dijadikan istriku?" tanya Alvan.
"Apa aku pantas dijadikan sebagai seorang imam bagi keluarga yang akan dibina oleh Aulia? tanya Alvan lagi dengan sedikit rasa gugup.
"Untuk saat ini kakek lihat kamu belum bisa menjadi sosok imam bagi Aulia. Tapi bukan berarti kamu tidak bisa. Belajarlah lebih giat lagi, agar kamu bisa menjadi seorang pemimpin kelak bagi keluargamu," ujar kakek Yusuf kepada Alvan agar lebih giat lagi dalam mempelajari agama Islam. Sehingga dia tahu apa hak dan kewajiban sebagai seorang suami, istri, kepala keluarga, dan juga sebagai orang tua.
"Kira-kira berapa lama aku harus mempelajari itu semua?" tanya Alvan dengan tatapan sendu.
"Kakek tahu kamu anak yang cerdas dan berkemauan keras. Selain itu juga, kamu orang pintar yang mudah memahami dengan mudah segala sesuatu," balas kakek Yusuf.
"Salat yang benar dan tepat waktu, itu adalah dasar dari seorang yang akan mampu menjadi seorang pemimpin. Jika kamu mampu berbuat baik untuk dirimu sendiri, maka kamu pun akan mampu berbuat baik untuk orang lain. Tugas suami itu bukan hanya memberikan nafkah lahir dan batin saja kepada istri, tetapi dia juga harus bisa menjaga, melindungi, mendidik, dan mengayomi mereka agar selalu berada di jalan yang lurus dan diridhoi oleh Allah," lanjut nenek Halimah.
"Iya, apa yang dikatakan oleh nenek Halimah itu benar. Seorang suami juga harus bisa jadi imam sholat untuk istrinya. Apalagi sholat tengah malam yang sering dirasa berat oleh kebanyakan orang. Peran suami di sini sangat penting," tambah kakek Yusuf dan Alvan pun mengangguk tanda mengerti.
"Mulai saat ini aku akan habiskan banyak waktu untuk mempelajari agama Islam. Bukan karena ingin menjadi suami Aulia, tetapi ingin menjadi orang yang benar-benar mengamalkan perintah dari Tuhanku," kata Alvan. Dia teringat akan kata-kata Fathir saat berbicara dengannya beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
***
Aulia sudah selesai makan siang, tetapi bosnya itu belum juga kembali ke kantor. Dia pun akhirnya menghubungi Alvan karena akan ada pertemuan penting dengan para direksi dari perusahaan Barata yang akan diakuisisi.
Hari itu untuk pertama kalinya Iqbal dan Mutiara berdiri di depan Barata. Mereka didampingi oleh Pak Slamet sebagai pengacara. Papi Kenzo juga ikut membantu mereka agar mendapatkan haknya.
"Sekarang pemegang saham tertinggi perusahaan ini adalah Nyonya Mutiara dan kursi direktur utama akan diserahkan kepada Rangga," ucapan papi Kenzo dan membuat Barata menatap muka kepadanya.
Barata sangat benci kepada papi Kenzo karena merasa telah dikhianati oleh rekan bisnis sendiri. Sehingga, perusahaannya hancur dan dibeli oleh orang asing dengan harga yang murah.
Mutiara yang masih ketakutan terhadap Barata, hanya mampu bersembunyi di balik punggung suaminya. Dia masih trauma akan masa lalu.
Terjadi keributan di luar ruang rapat itu. Terdengar suara teriakan seorang wanita yang berusaha untuk masuk ke dalam.
"Aku tidak terima kalau perusahaan ini diakuisisi!" teriaknya.
"Ada apa ini? Kenapa terjadi ribut-ribut di luar sana?" tanya papi Kenzo.
"Nyonya Karmila sedang marah karena dia tidak mau perusahaan keluarganya diambil oleh orang lain," jawab salah seorang pegawai yang ada di sana.
"Dasar tidak tahu malu, jelas-jelas ini bukan miliknya lagi," ujar papi Kenzo.
Penandatanganan peralihan nama pun sudah selesai. Kini semua orang tahu kalau Mutiara adalah pemilik saham terbesar di perusahaan. Lalu, papi Kenzo pun memberikan dana investasi yang begitu besar untuk memajukan kembali perusahaan ini.
Sementara itu di rumah Marni dan Barata pun sedang dalam keadaan panik karena rumah mereka akan disita oleh bank. Karmila yang sudah di depak oleh Rangga pun hanya bisa pulang ke rumah orang tuanya dengan membawa dua buah koper besar. Namun, betapa terkejutnya dia saat sampai sana. Sudah banyak orang yang sedang melakukan penyegelan terhadap rumah itu.
"Papa ... Mama, ada apa ini?" tanya Karmila.
"Rumah kita juga sudah di sita oleh pihak bank," jawab Marni sambil nangis terisak.
"Apa? Jadi, sekarang kita jadi gelandangan!" teriak Karmila sebelum pingsan.
***
__ADS_1
Kenapa aku malah senang keluarga Barata jadi begini 🤦🏼♀️🤦🏼♀️. Akankah Rangga bisa menemukan Aulia? Berapa lama lagi Alvan harus benar-benar mempersiapkan diri agar bisa jadi sosok lelaki yang diidamkan oleh Aulia? Apakah Fathir menyerah untuk mendapatkan Aulia? Tunggu kelanjutannya, ya!