Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 29. Penolakan Kedua Kalinya


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.


***


BAB 29


"Apakah boleh kami mengkhitbah kembali Aulia?" tanya Kiai Akbar dengan penuh harap.


"Untuk siapa?" tanya kakek Yusuf.


"Menjadi istri kedua Gus Fathir," jawab Kiai Basir.


"Tidak. Saya menolak pinangan dari Kiai Akbar untuk Gus Fathir. Saya tidak mau Aulia menjadi istri kedua," ucap kakek Yusuf.


     Semua orang yang ada di sana sangat terkejut dengan keputusan yang langsung diambil oleh kakek Yusuf. Tanpa meminta persetujuan dulu dari pihak Aulia.


"Yusuf, kenapa kamu menolak pinangan dari kami?" tanya Kiai Basir dengan nada kecewa.


"Maafkan saya yang sudah menolak keinginan kalian itu. Saya tidak setuju kalau Aulia menjalani kehidupan rumah tangga dengan dipoligami. Saya rasa tingkat keimanan dia belum bisa mencapai itu. Ikhlas dan sabar menjalani kehidupan poligami, tanpa adanya rasa iri dan cemburu kepada istri yang lainnya. Saya takutkan kalau suatu saat nanti keimanan Aulia berada di tingkat yang lemah dan itu dimanfaatkan oleh setan dengan bisikan-bisikan yang bisa membuat kerusakan bagi dirinya sendiri maupun orang lain," jelas kakek Yusuf.


     Ada rasa haru dan bahagia yang dirasakan oleh Aulia, saat kakek Yusuf bicara seperti itu. Benar, dia belum sanggup untuk hidup berpoligami. Dia takut kalau nanti terselip rasa cemburu menjadi iri dan berakhir jadi benci kepada madu dan suaminya. Dia lebih baik merelakan laki-laki yang disukai olehnya menjadi milik wanita lain. Bukannya cinta tidak harus memiliki. Merelakan orang lain yang dicintai untuk orang lain adalah tingkatan tertinggi dalam mencintai seseorang.

__ADS_1


"Agama kita membolehkan seorang suami memiliki istri lebih dari satu," kata Kiai Basir sambil memandang ke arah temannya.


"Ya, itu benar Kiai. Kita semua tahu akan hal itu. Tetapi, tidak semua kehidupan rumah tangga bisa berjalan baik dan lancar. Pastinya akan ada perseteruan dikalangan mereka. Merasa diperlakukan dengan tidak adil atau rasa cinta yang tidak sama. Kita semua juga tahu kalau Gus Fathir punya rasa istimewa kepada Aulia. Apa kalian sudah memikirkan perasaan Ning Aliyah. Aku rasa dia saat ini cemburu, apalagi jika nanti mereka hidup menjadi istri madu. Pastinya akan lebih banyak luka yang dirasakan oleh Ning Aliyah. Meski Gus Fathir mencoba untuk adil, tetap saja sepertinya akan condong kepada Aulia. Begitu juga dengan Aulia. Dia cucu gadisku yang baik hati dan lembut perasaannya. Pasti dia tidak akan merasa enak terhadap Ning Aliyah. Jadi, bisa disimpulkan Aulia tidak akan bahagia menjalani hidup berpoligami. Jika, Gus Fathir dan Ning Aliyah ingin mewujudkan kehidupan rumah tangga berpoligami, cari saja perempuan lain. Jangan Aulia, dia tidak akan sanggup," beber kakek Yusuf dan membuat semua orang terdiam.


     Aulia rasanya ingin menangis dalam pelukan kakek Yusuf yang mengerti dan memahami akan dirinya. Padahal mereka baru satu tahun tinggal bersama.


"Aku ingin mendengar dari mulut Aulia sendiri. Aulia, apa kamu bersedia menerima pinangan dari kami?" tanya Kiai Akbar melihat ke arah Aulia.


"Maaf, Pak Kiai. Seperti yang diucapkan oleh kakek Yusuf tadi, saya menolak pinangan kali ini juga. Saya tidak akan sanggup hidup berbagi suami dengan perempuan lain mana pun. Saya tidak bisa seperti Ning Aliyah yang rela membagi suaminya dengan perempuan lain. Keimanan saya masih naik turun dan takut seperti yang diucapkan oleh kakek Yusuf tadi. Karena saya merasa cemburu, jadinya iri dan marah. Sehingga terkena hasut bisikan setan dan akan berbuat jahat kepada orang itu, dengan menyakiti hati dan perasaannya. Saya tidak mau sampai menjadi seperti itu. Jadi, lebih baik saya menolak pinangan dari Gus Fathir," jawab Aulia dengan tenang tetapi tegas.


      Hati Fathir terasa sangat sakit karena patah hati dengan penolakan Aulia untuk kedua kalinya. Dia sangat berharap kalau gadis pujaan hatinya itu bersedia menjadi istri keduanya. Namun, saat ini dia berpikir lagi, jarang ada perempuan yang ingin berbagi suami dengan wanita lain. Aulia termasuk perempuan yang tidak mau membagi suaminya dengan perempuan lain.


      Fathir terpaksa menerima keinginan mbah kakung untuk menikah dengan Ning Aliyah agar dia juga diberikan izin untuk menikahi Aulia. Kiai Basir memberikan persyaratan itu, saat Fathir menolak permintaan dari Kiai Rojaq untuk memintanya menikahi Ning Aliyah. Ternyata Kiai Rojaq juga menyetujui jika anaknya nanti dipoligami dengan syarat harus menjadi istri pertama. Mau tidak mau Fathir pun menyetujui itu di detik-detik terakhir batas waktu yang diberikan oleh Kiai Rojaq.


     Selama ini Fathir dan keluarganya mencoba membicarakan hal itu kepada Aulia dan kakek Yusuf. Namun, mereka kesulitan untuk bertemu dengan mereka. Akhirnya, terpaksa mereka mengambil keputusan ini. Mereka menduga kalau Aulia sangat mencintai Fathir, sehingga akan rela dimadu asal bisa hidup bersama.


***


      Waktu terus bergulir dan kondisi kakek Yusuf juga sudah membaik. Sekarang, dia sudah bisa berlari pagi lagi. 


     Tidak terasa waktu sudah berlalu dua tahun sejak penolakan Aulia untuk menjadi istri kedua Fathir. Selama itu pun banyak yang ingin meminang Aulia, tetapi semua ditolak oleh kakek Yusuf. Sebab, para lelaki itu ingin menjadikan Aulia sebagai istri kedua, ketiga, atau keempat. Ada juga yang terang-terangan bilang kalau dia ingin menikahi Aulia karena sering bernapsu jika melihatnya. Hal ini yang membuat kakek Yusuf ikut bersedih.

__ADS_1


     Meski Aulia memiliki masa lalu seperti itu, tidak sepantasnya orang lain merendahkan dirinya. Bagi kakek Yusuf, Aulia adalah wanita terhormat yang selalu berusaha menjaga dirinya. Bahkan saat ini jika ada pesanan dari ndalem, jika tidak pergi bersama kakek Yusuf. Aulia memilih menyuruh tukang ojek untuk mengantarkan pesan itu. Dia tidak mau menimbulkan fitnah dengan Fathir yang sudah memiliki istri.


"Aulia, kakek ingin bicara sesuatu kepada kamu," kata kakek Yusuf.


"Apa itu, Kek?" tanya Aulia setelah duduk di samping kakek Yusuf.


"Sekarang usia kamu sudah dua puluh satu tahun. Sudah saatnya mencari pendamping hidup untuk membangun rumah tangga. Apa sudah ada bayangan ingin memiliki suami yang seperti apa?" tanya kakek Yusuf.


"Aulia menginginkan suami yang mampu membimbing keluarga kami di dunia sampai ke akhirat kelak dalam naungan Ridho, Rahmat, dan Karunia Allah, Kek," jawab Aulia.


"Jika, ada seorang laki-laki sholeh dan menerima diri kamu apa adanya, untuk mengajak kamu menikah saat ini, bagaimana?" tanya kakek Yusuf lagi.


     Betapa terkejutnya Aulia saat mendengar ucapan kakek Yusuf barusan. Dia tidak menyangka akan ada laki-laki sholeh menurut orang yang dipercaya olehnya, bersedia menjadikan dirinya seorang istri, meski sudah tahu masa lalu dirinya.


***


Siapa laki-laki yang dibicarakan oleh kakek Yusuf? Akankah ini jodoh Aulia? tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu Aulia up bab berikutnya. Yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya, bagus dan seru loh.


__ADS_1


__ADS_2