Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 119. Hadiah Pernikahan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 119


Malam harinya setelah Aulia selesai melaksanakan shalat tahajud. Dia memohon kepada Sang Pencipta agar segera mengembalikan kesadaran Alvan. Sebab, waktu hari pernikahan mereka sudah di depan mata.


"Ya Allah, tidak ada yang mustahil bagimu. Jika Engkau berkehendak, maka apapun itu pasti akan terjadi," lirih Aulia.


Rupanya ucapan doa Aulia ini terdengar oleh Alvan. Laki-laki itu mencoba membuka matanya. Dia juga terus berdoa agar segera diberi kesadaran dan kesembuhan. Hatinya ikut sedih saat mendengar suara isak tangis dari calon istrinya.


'Ya Allah berilah aku kesembuhan. Aku ingin menunaikan janjiku kepada hamba-Mu.' (Alvan)


Kedua orang yang saling mencintai itu saling mendoakan untuk kebaikan bagi satu sama lainnya. Hal yang terbaik dilakukan untuk orang yang kita cintai adalah mendoakan kebaikan dan kebahagiaan untuknya. Seperti yang dilakukan oleh Aulia dan Alvan saat ini.


"Semoga Allah menyatukan kita di dunia sampai akhirat." (Aulia dan Alvan)


Aulia memilih mengaji di dekat Alvan dengan lirih. Suara merdu Aulia yang sedang mengaji meski pelan, tetapi suaranya masih bisa terdengar oleh Alvan.


'Ya Allah, aku ingin setiap hari mendengar suara ini.' (Alvan)


Waktu terasa bergulir sampai waktu terdengar suara adzan subuh. Aulia pun membangunkan kedua orang tua Alvan untuk melaksanakan salat subuh berjamaah. 


Di saat seperti inilah Alvan benar-benar ingin secepatnya tersadar. Dia juga menginginkan shalat Subuh berjamaah bersama keluarganya.


Kedua orang tua Alvan berdoa dengan sangat khusuk, mereka meminta kebaikan untuk kesehatan putranya. Mereka yakin dan percaya kalau Alvan pasti akan membuka mata kembali.


***


Pagi-pagi sekali Raihan dan Alin sudah datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Alvan. Tentu saja hal ini membuat Aulia dan kedua orang tua Alvan terkejut.

__ADS_1


"Ada apa ini? Tumben pagi-pagi sudah datang menjenguk?" tanya Mami Siska begitu melihat kedua orang itu.


"Maaf, Tante. Katanya Alin ingin melihat keadaan Alvan," jawab Raihan sambil tersenyum kikuk. Sebenarnya dia merasa malu pagi-pagi sudah datang mengganggu pasien. Akan tetapi, Alin bersikukuh ingin melihat keadaan calon suami dari Aulia.


"Alin, kenapa pagi-pagi sudah ke sini?" tanya Aulia ketika gadis remaja itu duduk di dekatnya.


"Aku datang ke sini untuk memastikan kalau hari ini Oppa Alvan harus sadar. Agar bisa menikah dengan Kak Aulia," jawab Alin.


Aulia terlihat tersenyum senang mendengar ucapan dari gadis remaja yang berwajah imut dan menggemaskan. Dia merasa memiliki seorang adik perempuan. Dia pun memeluk tubuh Alin dan mencium pucuk kepalanya.


"Kenapa kamu sangat menggemaskan sekali," ujar Aulia sambil membelai lembut pipinya.


Mendapat pujian seperti itu membuat salah tingkah. Dia pun tersenyum malu-malu dan melirik ke arah suaminya.


Raihan bisa melihat kalau Alin saat ini sedang merasa bahagia. Gadis itu terlihat semakin menggemaskan dengan pipinya yang merona.


"Katanya Alin akan membuat Alvan sadar hari ini," ujar Raihan dengan senyum tipisnya.


Sudah kepalang basah Alin pun berdeham untuk memulai aksinya. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


"Oppa Alvan, apa kamu belum mau bangun juga?" tanya Alin.


"Jika Oppa Alvan bangun sekarang dan menikah dengan Kak Aulia hari ini. Nanti Kak Ian akan memberi hadiah pernikahan berupa paket bulan madu ke Bali selama satu minggu dan menginap di hotel milik Kak Rain dengan fasilitas nomor 1. Semua itu bisa dinikmati oleh Oppa Alvan dan Kak Aulia secara cuma-cuma, loh!" ucap Alin sambil tersenyum senang dan membuat Raihan melotot.


Di alam bawah sadarnya Alvan mendengar itu semua. Tentu saja dia menginginkan paket bulan madu ke Bali itu. 


'Ayo, bangun Alvan. Akan banyak reward yang akan kamu dapatkan jika bisa membuka matahari ini.' (Alvan)


Alvan pun terus berdoa meminta kepada Allah agar dia bisa sadar hari ini. Dia ingin melaksanakan janji kepada pujaan hatinya. Untuk mengucapkan ikrar suci yang akan menyempurnakan sebagian dari agama mereka berdua. Dia ingin menjalani sisa hidupnya bersama dengan orang yang dia cintai untuk mencari ridho-Nya. Ditambah sekarang akan ada yang memberi hadiah liburan untuk berbulan madu.


"Tangannya bergerak! Kak Ian, tangan Oppa bergerak!" seru Alin.

__ADS_1


Aulia yang mendengar ucapan Alin barusan merasa sangat senang. Dia berharap kalau calon suaminya bisa sadar hari ini.


Alin tersenyum senang saat melihat ada pergerakan tangan milik Alvan. Lalu, dia menyuruh suaminya untuk menggenggam tangan itu.


"Ayo, genggaman tangannya, Kakak Ian! Buat Oppa Alban bangun," pinta Alin.


Mau tidak mau Raihan pun menuruti keinginan istrinya itu. Dia menggenggam tangan Alvan dan menggoyangkan beberapa kali agar temannya itu bangun.


"Hai, Alvan. Ayo, bangun! Kalau tidak, nanti istriku akan semakin berbuat kekacauan di sini," bisik Raihan di telinga kanan Alvan.


Raihan bisa merasakan tangannya digenggam balik oleh laki-laki itu. Dia pun merasa sangat senang itu tandanya kalau temannya itu sudah dalam keadaan sadar.


"Buka mata kamu dalam hitungan ketiga. Jika tidak, maka hadiah paket bulan madu tadi akan gagal," bisik Raihan kembali.


'Apa? Masa hadiahnya akan ditarik kembali. Tidak bisa, pokoknya aku mau paket bulan madu itu.' (Alvan)


Alvan yang berada di alam bawah sadarnya bisa mendengar semua ucapan Raihan barusan. Dia berharap kalau temannya itu tidak akan menarik kembali hadiahnya.


"Aku hitung sampai tiga, ya."


"Satu."


"Dua."


"Ti-ga!"


***


Akankah Alvan bisa membuka matanya? Atau hadiah pernikahan itu akan gagal? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.

__ADS_1



__ADS_2