Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2. Curhat


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐ ⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 82


Alvan dan Mami Siska kini duduk di kursi besi di bawah pohon yang rindang. Ibu dan anak itu sedang membicarakan sesuatu yang penting.


"Kita semua mengenalnya, bahkan bertemu setiap hari," kata Alvan sambil menunduk. Dia menahan rasa sesak di dadanya.


"Apa? Memangnya dia siapa? Kok, bisa bertemu setiap hari?" Mami Siska penasaran.


"Dia adalah …." Suara Alvan melemah.


Mami Siska mencoba mendengarkan ucapan putranya baik-baik agar tidak ada yang terlewat. Namun, pemuda itu malah bicara dengan pelan.


"Siapa? Mami tidak bisa mendengarnya," kata Mami Siska.


"Dia, Aulia." Alvan mengangkat wajah dan melihat ke arah ibunya.


Bola mata Mami Siska membesar. Betapa terkejutnya dia saat mendengar saat mendengar nama perempuan yang dulu ditabrak oleh putranya.


"Ma-na mung-kin?" Mami Siska tergagap dengan tangan yang bergemetar menutup mulutnya.


Wanita paruh baya itu sangat shock saat tahu kalau perempuan yang sering memakai baju tertutup dan masih lajang itu adalah orang yang selama ini mereka cari. Tidak pernah terbayangkan, apalagi terpikirkan kalau Aulia adalah wanita hamil yang harus kehilangan bayinya karena perbuatan Alvan.


"Apa yang harus aku lakukan? Saat ini Aulia dalam keadaan terluka dan pastinya sangat marah kepadaku," ucap Alvan dengan suara yang bergetar.


Mami Siska pun memeluk putra semata wayangnya itu. Dia menepuk-nepuk punggung kokoh, orang yang sering menjadi kebanggaannya.


"Minta maaflah kamu kepadanya. Katakan yang sejujurnya kepada dia, atas kejadian yang dulu sudah terjadi," kata Mami Siska dengan berbisik lembut.


"Sudah. Aku sudah ceritakan semua kepada Aulia, tadi. Dia terlihat sangat terpukul dan terluka, sampai minta izin pulang. Pasti dia sudah tidak mau lagi bertemu denganku," balas Alvan.


"Aulia adalah perempuan baik dan cerdas. Pasti dia akan mengerti keadaan kamu. Yakinlah, kalau semua akan kembali dalam keadaan baik-baik saja. Dia bukan orang yang berpikiran pendek," pungkas wanita yang masih memeluk tubuh putranya.


"Ada apa ini? Tumben kamu siang-siang sudah pulang ke sini," ucap Papi Kenzo begitu datang ke sana.


"Papi sendiri, kenapa jam segini sudah ada di rumah?" tanya Alvan membalas.

__ADS_1


"Mau buat adik untuk kamu. Siapa tahu akan ada calon ahli waris lagi hadir di rumah ini," jawab Papi Kenzo sambil tersenyum lebar.


"Sudah tua, tapi tidak tahu malu," gumam Alvan gemas.


"Pi, tahu tidak perempuan yang dulu ditabrak oleh Alvan saat balapan liar?" bisik Mami Siska.


"Wanita hamil itu?" tanya Papi Kenzo.


"Iya. Ternyata dia adalah Aulia," jawab perempuan yang kini duduk merapat pada suaminya.


"Apa? Aulia asistennya Alvan?" tanya Papi Kenzo tidak percaya.


"Iya, Pi. Apa yang harus Alvan lakukan agar Aulia bisa memaafkan aku dan bersikap seperti biasanya padaku lagi?" Pancaran mata Alvan tersirat akan putus asa.


Kedua orang tua itu pun menasehati Alvan agar banyak berdoa kepada Sang Pemilik Hati yang bisa membolak-balikkan hati setiap makhluk. Mereka juga yakin kalau Aulia adalah perempuan baik hati dan pemaaf.


"Meski itu adalah kejadian yang membuatnya terluka dan bersedih. Yakinlah, kalau dia akan memaafkan kesalahan kamu," ucap Papi Kenzo.


"Iya. Aulia juga terlihat bukan sosok orang yang suka balas dendam," lanjut Mami Siska.


"Ajak Aulia bicara baik-baik dan berikan satu permohonan dia yang akan kamu kabulkan, sebagai tanda permintaan maaf kamu," tukas Papi Kenzo dan di setujui oleh Mami Siska.


***


Sementara itu, Rangga masih tidak mempercayai kalau Aulia kekasihnya yang selama ini dia cari, ternyata berkeliaran di dekatnya. Mamanya baru saja memberi tahu kalau kekasihnya yang selama ini dia cari adalah Aulia asistennya Alvan. Katanya dia tidak sengaja saat melihat Aulia menurunkan cadarnya, sehingga sang mama mengenali wajahnya.


"Akhirnya aku menemukan dirimu," gumam Rangga.


Rangga masih menyimpan perasaan cinta untuk wanita itu. Baginya Aulia adalah satu-satunya perempuan yang bisa dia cintai setulus hatinya.


"Aulia, kenapa kamu bersembunyi dariku? Apakah cintamu kepadaku sudah hilang?" gumam Rangga sambil menatap langit-langit kamar.


Rangga kembali teringat saat-saat dulu dia dan Aulia masih berpacaran. Memadu kasih dengan menghabiskan waktu bersama dalam lautan asmara yang bergelora hebat. Meski mereka sering melakukan hal yang kelewat batas, tetapi tidak ada pernah punya niatan untuk meninggalkan dirinya.


"Ya Allah, jika Aulia memang ditakdirkan untukku, permudahkan kami untuk bisa bersatu lagi," gumam Rangga.


***


Keesokan harinya Aulia pergi bekerja seperti biasa. Dia melakukan semua yang sudah biasa menjadi tugasnya sehari-hari.

__ADS_1


Alvan menjadi lebih pendiam dan hanya bisa menatap secara diam-diam Aulia. Dia bingung mau memulai bicara itu harus apa.


Aulia," panggil Alvan.


"Iya, Tuan," balas Aulia sambil mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk.


Belum juga Alvan bicara pintu kantornya di ketuk oleh seseorang. Lalu, Yukari masuk setelah di suruh oleh Alvan.


"Ada apa?" tanya Alvan.


"Ada pak Rangga," jawab Yukari.


"Suruh dia masuk," balas Alvan.


Rangga masuk ke ruangan itu dan langsung menghampiri Aulia. Lalu, dia memegang tangannya. Namun, langsung dilepaskan begitu ingat kalau hal itu tidak boleh dilakukan oleh mereka.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Alvan.


"Mau bertemu dengan kekasihku!" jawab Rangga dengan tegas.


"Apa?" teriak Alvan dengan mata yang terbelalak.


"Aulia ini adalah kekasihku. Aulia Nur Assyifa itu nama lengkapnya," balas Rangga yang kini berdiri saling berhadapan dengan Alvan.


"A-pa?" Alvan tergagap saking terkejutnya dia.


"Benarkah itu Aulia?" lanjut Alvan yang kini perhatiannya terarah kepada sang asisten.


"Ya. Aku adalah Aulia Nur Assyifa. Wanita yang pernah menjalin asmara dengan Rangga Abimana," jawab Aulia pelan dan dia pun melanjutkan ucapannya, "itu adalah diriku yang dulu. Sekarang aku adalah Aulia Nur Assyifa, wanita yang terus berjuang mencari ridho Allah di sisa hidupku." Aulia kini sudah siap dan tidak akan bersembunyi lagi. Bagaimanapun juga sisi kelam itu merupakan bagian dalam hidupnya dan akan menjadi cermin agar jangan sampai jatuh ke lembah dosa.


***


Aulia pun pergi ke tempat yang sepi dan jarang di datangi oleh orang lain, saat siang-siang seperti ini. Dia pun menyingkapkan niqob bagian belakang ke depankan dan menurunkan cadarnya. Aulia selalu makan makanan yang simpel agar tidak merasa kesulitan saat makan. Tidak sampai 15 menit dia sudah menyelesaikan acara makan siangnya.


Betapa terkejutnya Aulia saat dia menyibakkan lagi kain niqob ke belakang dan cadar sudah terpasang dengan baik. Dia melihat ada Mama Shinta, ibunya Rangga yang berdiri tidak kau darinya.


"Aulia."


***

__ADS_1


Apa yang akan dilakukan oleh Mama Shinta kepada Aulia? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2