
Season 2 dimulai. Maaf aku malah buat novel Ning Annisa, dulu. Biar otak aku tidak berat 🤭. Cerita Ning Annisa itu ringan dan tidak menjadi beban pikiran😁. Senarnya aku sudah nyicil novel ini meski baru 3 bab bulan lalu, tapi filenya nggak ketemu. Ternyata pas hp error bulan kemarin file itu tidak bisa dibuka 😓.
Season 2 dimulai saat Alvan baru tahu kalau Aulia adalah perempuan yang ditabraknya dulu. Semoga kalian suka.
***
Bab 81
Alvan merasa sangat stres saat tahu kalau perempuan yang dulu ditabrak olehnya itu adalah Aulia. Dia bahkan tidak mau melakukan apapun. Dilihatnya meja Aulia yang baru saja ditinggal oleh pemiliknya. Dia juga merasa tidak bisa bekerja, karena pikirannya kini dalam keadaan kacau.
'A-kh, apa yang harus aku lakukan?'
Alvan menjambak rambutnya sendiri. Dia pun beranjak dari kursi yang sering dia duduki saat bekerja. Laki-laki itu pergi mencari hal yang bisa memberikan ketenangan pada hati dan pikirannya.
Tempat yang Alvan datangi adalah sebuah panti asuhan yang membesarkan para hafidz. Anak-anak yang tinggal di sini tidak semua anak yang tidak punya orang tua. Ada juga orang yang masih punya ibu, tetapi tidak punya ayah yang bisa memberikan nafkah dan perlindungan kepadanya. Banyak anak-anak miskin yang ingin melanjutkan sekolah tetapi tidak punya uang. Rata-rata rumah panti asuhan isi dihuni oleh anak-anak berusia 4 tahun sampai 18 tahun.
Pasangan suami istri pemilik panti asuhan ini, memisahkan antara anak laki-laki dan perempuan. Mereka tinggal di bangunan yang berbeda. Rumah sebelah kanan dihuni oleh anak laki-laki dan bangunan yang sebelah kiri dihuni oleh anak perempuan.
Kini Alvan memandangi bangunan yang sederhana tetapi nyaman. Ini ketiga kalinya dia datang ke sini. Pertemuan pertama dengan Pak Hasan di masjid raya saat mengikuti pengajian membuatnya kagum akan sosok laki-laki tua itu.
"Assalamualaikum," sapa seseorang dan membuat Alvan terkejut.
"Wa'alaikumsalam," balas Alvan.
"Kak Alvan tumben pagi-pagi sudah ke sini, apa tidak kerja?" tanya seorang perempuan yang memakai jilbab.
"Lagi santai dan sedang ingin bertemu dengan Pak Hasan," jawab Alvan dengan sedikit berbohong.
"Oh, Ayah ada di dalam rumah. Yuk, masuk!" ajak putrinya Pak Hasan.
"Terima kasih, Amelia."
Kedua orang itu pun berjalan masuki rumah utama yang ditinggali oleh keluarga Pak Hasan. Rumah itu cukup luas dengan perabotan yang sederhana dan sedikit. Bukan berarti Pak Hasan miskin, mereka sengaja mengosongkan banyak ruangan agar bisa memuat banyak orang saat berkumpul. Meski rumah untuk anak laki-laki dan perempuan dibedakan, tetapi saat makan dan belajar mengaji mereka selalu bersama-sama di sana.
Kalau sholat, para perempuan di ruang sebelahnya, sedangkan anak laki-laki ke masjid yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah. Mereka juga sering berbaur dengan warga sekitar.
"Assalamualaikum, Pak Hasan." Alvan menyalami laki-laki tua itu.
"Wa'alaikumsalam. Eh, ada Alvan datang ke sini. Ini, 'kan, masih jam kerja?" tanya Pak Hasan dan melirik ke jam di dinding yang menunjukan pukul 10:00 pagi.
"Sedang ingin jalan-jalan dan kebetulan lewat sini. Jadi, sekalian mampir," jawab Alvan dengan ramah.
Tidak lama kemudian datang Amelia dan wanita tua, istri Pak Hasan yang bernama Bu Sari. Mereka membawa cemilan dan minuman.
"Assalamualaikum, Bu Sari," sapa Alvan.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Bagaimana kabarnya, Alvan. Sudah lama tidak main ke sini?" tanya wanita tua yang memakai baju gamis warna hitam.
"Alhamdulillah, baik. Belakangan ini agak sibuk," jawab Alvan.
"Tapi mengaji masih, 'kan?" tanya Bu Sari.
"Alhamdulillah, masih."
"Apa masih menjalin komunikasi dengan Ustadz Yusuf?" tanya Pak Hasan.
"Masih. Setiap hari aku belajar agama kepadanya," jawab Alvan.
"Alhamdulillah, kalau beliau masih mampu menyebarkan ilmu. Meski sudah sangat sepuh beliau masih bisa menjadi orang yang berguna," lanjut Pak Hasan.
Sebenarnya Alvan ke sini mau curhat, tetapi ada Amelia dan Bu Sari, sehingga membuatnya urung. Sebab, dia tidak mau masalahnya diketahui oleh orang banyak.
Alvan berkunjung sampai waktu makan siang. Dia juga sempat bermain dengan anak-anak kecil yang tinggal di sana.
"Kak Alvan, ada lowongan pekerjaan nggak di kantor?" tanya Amelia.
"Tidak tahu. Harus tanya ke pihak HRD," jawab Alvan.
"Kalau ada lowongan kasih tahu, ya?"
"Aku di sana cuma magang. Lagian capek pulang-pergi setiap minggunya. Ingin kerja di kampung halaman sendiri," jawab gadis berhijab putih.
"Cari informasi saja ke pihak resepsionis," balas Alvan sambil ikut mewarnai buku milik anak kecil yang duduk di sampingnya.
"Om, ini siapa?" tanya anak kecil yang melihat gambar hasil Alvan tadi.
"Dia ini calon bidadari Om Alvan," jawab Alvan sambil tersenyum jahil pada anak berusia TK itu.
Alvan tadi menggambar sosok Aulia. Rasa rindu dan merasa bersalah masih meliputi dirinya, sehingga dia menuangkan perasaannya pada sebuah gambar.
Sosok Alvan bisa diajak bermain oleh anak kecil, membuatnya di sukai oleh anak-anak di sana. Mereka pun sudah tidak malu-malu jika mengajaknya bicara atau bermain.
***
Alvan tidak kembali ke kantor. Melainkan datang ke rumah orang tuanya. Dia sedang butuh seseorang yang bisa mendengarkan kerisauan hatinya saat ini.
Begitu turun dari mobil terlihat ada Mami Siska sedang duduk di kursi yang ada di bawah pohon, sambil membaca. Alvan pun berniat menjahili ibunya itu.
"Salamnya mana, Alvan?" Tenyata meski sedang membaca, Mami Siska bisa tahu Alvan datang ke sana.
"Assalamualaikum, Mami," salam sang putra.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," balas Mami Siska.
"Mami, kok, tahu aku datang. Padahal sengaja mobil nggak aku bawa masuk," balas Alvan sambil memeluk ibunya singkat.
"Dari bau tubuh kamu," ucap wanita paruh baya itu.
"Ada apa? Tumben jam segini datang ke rumah. Mana Aulia?" Mami Siska mencari keberadaan asisten putranya yang biasa menyertainya.
"Dia izin pulang," jawab Alvan dengan lirih.
Mami Siska merasa saat ini Alvan ada masalah dengan Aulia. Dia bisa melihat dari ekspresi wajah anaknya yang terlihat sendu dan tatapan mata yang sayu.
"Kalian ada masalah?" tanya Mami Siska sambil menutupkan buku yang tadi dia baca. Lalu, disimpannya di atas meja dekat poci teh.
"Mami ingat tidak perempuan yang hamil dulu pernah aku tabrak?" tanya Alvan dengan hati-hati.
"Apa wanita yang kamu tabrak saat balapan motor dulu?" Mami Siska malah balik bertanya.
"Memangnya aku berapa kali menabrak orang, Mami?" Alvan malah menjadi kesal.
"Biasa, dong. Jangan marah begitu," kata Mami Siska sambil mencubit pipi anaknya.
"Mami, sih. Orang lagi serius, ini malah bercanda," gerutu Alvan.
Mami Siska malah tertawa terkekeh. Melihat putra tunggalnya sudah kembali menjadi sosok yang dulu, membuatnya senang. Bahkan lebih suka menggodanya akhir-akhir ini.
"Apa kamu sudah menemukan wanita itu?" tanya Mami Siska dengan serius.
"Iya, aku baru saja menemukan dia," jawab Alvan.
"Benarkah?" Mami Siska sangat terkejut mendengar berita ini.
"Di mana kalian bertemu?" tanya wanita itu menggebu-gebu.
"Ternyata aku dan dia setiap hari bertemu. Hanya saja aku baru tahu hari ini," jawab Alvan dengan suara yang lirih.
"Apa? Memangnya dia siapa? Kok, bisa bertemu setiap hari?" Mami Siska penasaran.
"Dia adalah …."
***
Bagaimana reaksi Mami Siska saat tahu kalau Aulia adalah perempuan yang menjadi korban tembakan lari putranya? Tunggu kelanjutannya, ya!
Amelia adalah temannya Ning Annisa yang mengajar di Sekolah tempat mereka mengajar.
__ADS_1