Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 126. Jalan-Jalan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 126


Hari-hari pun berlalu Amelia masih menjalin hubungan baik dengan keluarga Rangga, meski tidak ada perkembangan dari hubungan asmara kedua. Justru sebaliknya dengan Noah, gadis itu semakin dekat karena sang pemuda itu setiap hari selalu datang ke rumah.


"Apakah hari Minggu kita jalan-jalan, yuk!" ajak Noah dia pulang.


"Biasanya hari Minggu aku selalu bermain dengan Safiyah. Apa aku boleh mengajak dia?" tanya gadis berkerudung putih.


Mendengar nama seseorang disebut dan Noah tidak mengenal siapa dia, tentu ada rasa tidak rela. Dia ingin menghapuskan waktu berdua saja dengan teman baiknya ini.


"Apa dia itu harus ikut?" tanya Noah.


"Iya, karena aku sudah berjanji kepada dia, kalau setiap hari Minggu akan menghabiskan waktu bersama dengan," jawab Amelia.


Akhirnya, mereka sepakat kalau Safiyah akan ikut bersama mereka jalan-jalan. Setelah Noah tahu kalau dia adalah seorang gadis kecil.


***


Amelia sudah mendapatkan izin dari Rangga untuk membawa Safiyah untuk ikut bersama dengannya jalan-jalan ke mall. Maka, pagi hari setelah sarapan, gadis itu sudah datang menjemput bersama dengan Noah.


Sebuah mobil Mercedes Benz masuk ke pekarangan rumah Rangga. Kendaraan asing yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


'Mobil siapa itu?' Rangga yang sedang mengeluarkan sepeda motor dan hendak memanaskan mesinnya, melihat ke arah pemilik mobil itu.


Laki-laki yang tidak dikenal oleh Rangga keluar dari mobil dan berlari ke arah pintu satunya lagi dan membukanya. Terlihat Amelia turun dari mobil itu.


'Amelia? Dia datang bersama siapa?' Rangga masih menatap ke arah kedua orang itu.


"Assalamualaikum," salam Amelia begitu berhadapan dengan Rangga.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," balas Rangga dengan tatapan penuh selidik kepada laki-laki yang berdiri di samping Amelia.


"Aku datang untuk menjemput Safiyah," ucap Amelia terima kasih senyum manis menghiasi wajahnya.


Jantung Rangga gemuruh melihat Amelia datang bersama dengan seorang laki-laki. Apalagi saat keduanya saling menatap dan melempar senyum.


"Tunggu sebentar, Safiyah baru bangun tidur, belum mandi, dan juga sarapan," kata Rangga berbohong.


Sementara itu, Safiyah sendiri sedang duduk manis di kamarnya. Garis kecil itu sudah berpenampilan cantik dengan pakaian casual yang nyaman, agar dia tidak kesulitan saat banyak bergerak lagi.


Safiyah yang mendengar suara deru mobil memasuki halaman rumah, langsung saja berlari menuju ke teras depan. Dia yakin kalau orang yang datang adalah Amelia.


"Bunda Amel!" Safiyah berlari dengan kedua tangan terangkat ke atas minta digendong.


Rangga hanya bisa memalingkan wajahnya, karena malu ketahuan sudah berbohong. Pada laki-laki itu ingin mengorek informasi dahulu. Siapa laki-laki yang datang bersama dengan Amelia?


"Safiyah sudah mandi dan cantik ternyata. Sudah sarapan belum?" tanya Amelia kepada garis berumur 3 tahun itu.


"Sudah sejak pagi, disuapin sama ayah," jawab Safiyah dan itu membuat Rangga semakin malu, karena ketahuan berbohong lagi.


"Kak Rangga, aku akan ajak Safiyah jalan-jalan dulu, ya!" ujar Amelia dengan tatapan sendu ke arah Rangga.


Hati kecil Amelia terasa sakit, saat mengetahui kalau Rangga tidak peduli kepada dirinya yang datang bersama dengan laki-laki yang tidak dia kenal. Amelia terlebih dahulu menemui Mama Shinta dan Papa Damar, dia meminta izin untuk mengajak Safiyah pergi jalan-jalan.


"Aku juga ikut bersama kalian. Aku takut kalau Safiayah nanti rewel dan mengganggu kamu," ucap Rangga dan ini membuat Amelia terkejut sekaligus senang. Berbeda dengan Noah yang merasa tidak suka dengan kehadiran Rangga bersama mereka.


"O-iya. Kak Rangga kenalkan ini Noah," ucap Amelia dan kedua laki-laki itu pun saling berjabat tangan.


Akhirnya, mereka berempat pergi jalan-jalan bersama dengan menaiki mobil Rangga. Sebab, laki-laki itu bersikukuh ingin membawa mobil miliknya.


Selama mereka berjalan-jalan Amelia selalu bersama dengan Safiyah. Setiap kali Noah berbicara dengan Amelia, maka Rangga akan selalu ikut dalam pembicaraan itu. Tentu saja hal ini membuat Noah sangat kesal.


"Mau kamu itu apa? Kenapa setiap kali aku sedang berbicara dengan Amelia, kamu selalu saja ikut menyerobot pembicaraan kami?" tanya Noah pada Rangga ketika hanya ada mereka berdua saja, karena Amelia sedang menjaga Safiyah yang baik komedi putar tidak jauh dari mereka. 

__ADS_1


"Aku sedang tidak menyerobot pembicaraan kalian. Aku hanya sedang menjaga kalian saja. Karena seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya dilarang berdua," kata Rangga mencari alasan.


"Itu hanya alasan kamu saja. Apa kamu suka kepada Amelia?" tanya Noah dengan tatapan tajam dan penuh selidik.


"Amelia itu wanita yang dipilih oleh Safiyah untuk menjadi ibunya," jawab Rangga.


"Selain itu Amelia juga sudah jatuh cinta kepadaku," lanjut Rangga membalas tajam pada Noah.


***


Sementara itu, kini Aulia sudah tinggal di rumah Alvan. Kakek Yusuf dan Nenek Halimah diboyong bersamanya agar mereka tetap masih tinggal bersama.


Usia pernikahan mereka ini sudah kini satu bulan. Kehidupan rumah tangga Aulia dan Alvan sangat harmonis. Senyum dan tawa selalu menghiasi hari-hari mereka.


"Ananta apa di dalam sini sudah ada calon anak kita?" tanya Alvan sambil mengelus perut rata milik Aulia.


"Sepertinya belum. Karena aku juga sudah mendapatkan tamu bulanan pagi ini," jawab Aulia dengan lirih.


"Sepertinya usaha kita semalam belum membuahkan hasil, ya? Kalau begitu nanti kita harus lebih rajin lagi membuatnya," balas Alvan dengan senyum manis dengan kedua alis di naik turunkan.


Aulia hanya bisa tersenyum tipis dan mengusap pipi suaminya. Hampir setiap hari mereka melakukan kerja rodi untuk mencetak generasi penerus. Meski tidak ada jadwal khusus. Semaunya Alvan dan Aulia saat menginginkan hal itu.


"Sepertinya kita harus membuat jadwal saat melakukan ibadah itu. Misal seminggu dua atau tiga kali dan melakukannya setelah kita selesai sholat tahajud," kata Aulia.


"Tidak. Mana bisa aku tahan tidak menyentuh dirimu lama-lama," sahut Alvan menolak ajakan Aulia.


"Bukannya Suamiku ini ingin segera punya anak? Ya, harus mau berkorban dan bersabar," ucap Aulia.


"Justru kita harus semakin sering membuatnya agar cepat jadi anak. Sehari kita bercinta dua atau tiga kali, bagaimana?" tanya Alvan.


***


Apakah Rangga sedang cemburu? Akankah Aulia dan Alvan akan segera punya anak? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.



__ADS_2