Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 123. Doa Alvan & Aulia


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 123


Setelah selesai acara pernikahan antara Alvan dan Aulia. Tidak ada acara apa-apa kecuali makan bersama itu juga disediakan oleh Bintang, istri Dokter Ghazali. Apalagi yang datang hanya beberapa orang saja tidak sampai lebih dari 30 orang.


Semua tamu undangan kembali ketika waktu memasuki waktu Ashar. Ini dilakukan agar Alvan bisa beristirahat. Tentu saja ini membuat pengantin laki-laki sangat merasa bahagia sekali, karena dia akan punya waktu berdua saja dengan sang istri.


"Apa Mami Siska dan Papi Kenzo sudah kembali ke hotel?" tanya Aulia ketika keluar dari kamar mandi.


"Iya. Katanya mereka akan kembali ke Kota Kembang nanti malam bersama dengan kakak Yusuf dan nenek Halimah. Jadi saat ini mereka sedang bersiap-siap," jawab Alvan sambil menatap ke arah istrinya.


Kini hanya ada Alvan dan Aulia di ruang rawat itu. Alvan menginginkan Aulia duduk di samping. Menyentuh istrinya sepuas mungkin.


Aulia pun ikut duduk di sofa berdampingan dengan suaminya. Uluran tangan Alvan disambut baik olehnya. Kini pasangan pengantin baru itu duduk sambil menatap satu sama lain dengan tatapan mesra. Tidak lupa dengan tangan yang saling bertautan dalam genggaman hangat.


"Bolehkah aku membuka cadar ini?" tanya Alvan dengan suaranya yang pelan.


Aulia pun beranjak dulu dan memastikan kalau pintu sudah dikunci. Lalu, duduk kembali di samping Alvan. Lalu, dia membuka kain penutup wajahnya. Kini laki-laki itu bisa melihat dengan jelas wajah perempuan yang dicintainya ini. Bahkan bisa menyentuh semua bagian dari wajah itu.


"Ananta, kamu sangat cantik," bisik Alvan dengan tatapan mata tidak lepas dari wajah istrinya.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Keindahan dan kecantikan itu hanya milik Allah," balas Aulia dengan senyum tersipu malu.


Alvan membelai lembut wajah milik Aulia. Dia menyentuh kedua alis, kedua kelopak mata, hidung, pipi, bibir, dan dagu secara lembut dan perlahan. Aulia hanya bisa memejamkan matanya dengan jantung yang bertalu-talu dan keringat mulai membasahi tubuhnya. 


Perasaan Alvan juga tidak jauh dari Aulia. Jantung dia berdetak kencang seakan melompat dari tempatnya. Aliran darahnya mengalir dengan cepat seperti sungai yang deras aliran airnya. Apalagi kulit milik Aulia yang sangat lembut itu menghantarkan aliran listrik melalui ujung-ujung jarinya ke seluruh tubuh dia.


Alvan memegang kepala Aulia seraya berdoa, "Ya Allah, aku memohon pada-Mu, jagalah istriku dari fitnah lahir dan batin. Karuniai ia rizki halal. Jadikan ia sebaik-baik istri bagiku dan jadikan aku sebaik-baik suami baginya.”


"Aamiin," balas Aulia.


Lalu, Alvan dengan lembut mengecup kening Aulia. Senyum perempuan itu pun terus mengembang menggambarkan perasaan kebahagiaan dia saat ini.


Aulia pun tidak mau kalah. Dia mengucapkan do'a untuk sang suami. Perempuan itu memegang tangan Alvan dan menciumnya dengan takdzim. 


"Ya Allah, berikanlah kepadaku suami yang terbaik di sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat." Aulia memulai berdoa dengan suaranya yang lembut.


"Ya Allah, wahai harapan orang-orang yang rindu. Sediakanlah untukku sebagian dari rahmat-Mu yang luas. Berikanlah aku petunjuk kepada ajaran-ajaran-Mu yang terang, serta bimbinglah aku dan suamiku menuju kepada kerelaan-Mu yang penuh dengan kecintaan-Mu." Air mata Aulia mulai menumpuk di pelupuk netranya.


"Aamiin," ucap Alvan dengan suara yang mulai bergetar.


"Ya Allah, wahai Pemberi Petunjuk orang-orang yang sesat. Berikanlah aku dan suamiku dzikir berupa dzikir mengingat-Mu secara berkesinambungan, serta dengan taufiq-Mu. Bantulah aku dan suamiku untuk melaksanakan puasanya, dan ibadah malamnya, serta jauhkanlah aku dan suamiku dari kelalaian dan dosa-dosanya." Air mata Aulia akhirnya jatuh dan menetes di tangan Alvan.


"Aamiin ya rabbal alamin," ucap Alvan dengan derai air mata.

__ADS_1


"Ya Allah, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara semua pengasih. Jadikanlah aku dan suamiku berada di antara orang-orang yang memohon ampunan. Jadikanlah aku dan suamiku sebagai hamba-Mu yang sholeh, sholehah, dan setia. Serta jadikanlah aku dan suamiku di antara Auliya’-Mu yang berada dekat di sisi-Mu, dengan kelembutan-Mu." Aulia berdoa dengan suara yang bergetar. Inilah doa-doa yang selalu ingin dia panjatkan untuk laki-laki yang menjadi imamnya.


Alvan sendiri hanya bisa meng-aamiin-kan semua doa istrinya. Betapa bahagianya dia mempunyai istri seperti Aulia. Dia merasa tidak salah pilih dalam milih dan memperjuangkan rasa cintanya untuk perempuan yang dalam dekapannya saat ini.


Malam pun sudah menyelimuti alam dunia. Di ruang inap itu hanya ada Alvan dan Aulia saja. Tidak ada Papi Kenzo atau Mami Siska. Tentu saja ini membuat Alvan senang. Dia sudah membayangkan apa yang akan terjadi malam ini dengan sang istri.


"Ananta, kita beribadah malam, yuk!" ajak Alvan dengan senyum tampan dan kerlingan mata yang genit.


Aulia hanya menundukkan kepala. Dia berjalan mendekati suaminya. Lalu, dia berbisik di telinga Alvan.


"Aku baru saja mendapat datang bulan," ucap Aulia dengan perasaan tidak enak, karena sudah mengecewakan suaminya.


'Apa? Tidak ada malam pertama di hari pertama pernikahan aku!' (Alvan)


Alvan membawa Aulia ke dalam pelukan dan mengusap punggungnya. Dia tahu kalau saat ini Aulia sedang merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, lagian kesehatan aku masih belum full. Mungkin minggu depan tubuh aku sudah benar-benar sehat dan kuat. Kamu juga sudah selesai masa datang bulannya," balas Alvan.


Aulia mempererat pelukannya. Dia merasa senang karena punya suami yang pengertian.


***


😓 Tidak ada malam pertama, kasihan sekali Alvan 😅. Bagaimana acara malam pertama nanti? Apakah berjalan lancar atau gagal? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.



__ADS_2