
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 77
"Sebaiknya kalian semua melakukan sholat istikharah. Meminta petunjuk kepada Sang Pemberi jodoh," ucap kakek Yusuf.
Ketiga orang itu pun mengangguk paham. Mereka akan memasrahkan semuanya kepada Allah.
"Datanglah satu minggu lagi," ucap kakek Yusuf. Maka ketiga laki-laki itu pun pulang ke rumahnya masing-masing.
***
Waktu pun terus bergulir dan sudah satu minggu berlalu. Mereka melakukan sholat istikharah dan sholat hajat. Dalam hati mereka kalau dirinyalah orang yang akan dipilih oleh Aulia.
Kini ketiga laki-laki itu sudah datang ke rumah Aulia. Mereka datang dengan penampilan yang sangat rapi dan necis. Tentu saja di hadapan mereka sudah ada kakek Yusuf, nenek Halimah, dan Aulia sang calon istri idaman.
"Apapun hasilnya kalian harus menerima keputusan Aulia," kata kakek Yusuf.
"Baik, Kakek!" ucap ketiganya.
"Aulia, siapa yang akan kamu pilih sebagai pendamping hidupmu?" tanya nenek Halimah.
Aulia dalam hati terus berdzikir menyebut asma Allah. Dia memohon agar laki-laki yang dipilih olehnya itulah yang terbaik untuk dirinya.
"Bismillah, saya memilih … Gus Fatih," ucap Aulia.
Rangga dan Alvan sangat terkejut, dalam hatinya ada rasa kecewa. Namun, mereka menerima dengan lapang dada akan keputusan Aulia.
Betapa bahagianya Fathir cintanya kini disambut oleh sang pujaan hati. Dalam hati dia tidak henti-hentinya bersyukur dengan menyebut nama Asma Allah.
***
Satu bulan kemudian ….
Keluarga Kiai Akbar datang ke rumah Aulia yang ada di kota Kembang. Bahkan Annisa dan Mutiara terus menggoda Aulia karena dia akan menjadi seorang pengantin.
"Kakak ipar, cepat-cepat kasih aku keponakan yang lucu-lucu," goda Annisa.
"Ja-ngan. Men-ding pa-ca-ran du-lu," ucap Mutiara.
__ADS_1
Muka Aulia merah merona ketika kedua sahabatnya itu terus menggodanya. Untung saja saat ini mereka sedang berada di halaman samping sedangkan para orang tua berada di ruang tamu.
"Itu … terserah Allah, mau kasih langsung Alhamdulillah. Tidak langsung juga tidak apa-apa." Tiba-tiba saja terdengar suara Fathir. Entah sejak kapan laki-laki itu berdiri di sana.
***
15 tahun kemudian ….
"Mas, jangan ganggu." Fathir memeluk Aulia dari belakang saat wanita itu sedang memasak sarapan.
"Kangen, Sayang" bisiknya.
"Cuma di tinggal tiga hari nempelnya sejak semalam belum puas juga," gerutu Aulia.
"Abah. Kita latihan ceramah, yuk! Besok acara lomba PILDACIL yang kakak ikuti tingkat nasional akan dimulai," suara putra mereka terdengar mendekat.
"Ali mencari kamu, Mas," bisik Aulia sambil memutar kepala ke belakang. Fathir pun memberikan satu kecupan di bibir istrinya.
"Aku akan melatih Ali dulu, Sayang." Fathir pun pergi meninggalkan Aulia yang masih memasak.
***
"Kita sambut peserta berikutnya dari Ali. Anak laki-laki yang selalu langganan jadi juara PILDACIL, MTQ, dan Adzan. Hari ini akan membawa tema kewajiban seorang anak terhadap orang tuannya," kata pembawa acara dan mendapat tepukan.
Bocah laki-laki yang baru berusia 9 tahun itu, berdiri dengan gagah di depan ribuan orang yang sedang menyaksikan lomba PILDACIL ini. Aulia dan Fatih dulu menikmati masa pacaran setelah menikah. Apalagi Aulia juga ingin kuliah. Jadi, mereka baru punya anak setelah 6 tahun menikah.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hari ini Ali akan membawakan tema kewajiban anak terhadap orang tua. Apa sajakah kewajiban kita sebagai anak kepada orang tua?" Ali memulai acara pidato.
"Meminta uang jajan!" teriak seorang akan kecil yang tidak lain adalah Aliya, adiknya sendiri yang duduk paling depan.
Sontak saja semua orang yang mendengar itu langsung tertawa. Aulia dan Fathir sangat terkejut mendengar suara teriakan putrinya.
"Aliya Sayang, kenapa meminta uang jajan?" tanya Aulia.
"Kata Abah, kalau ingin jajan minta uangnya sama Abah atau Umma. Jangan sama eyang Uti atau eyang Kakung. Karena itu adalah kewajiban orang tua," jawab Aliya.
"Memberikan uang jajan, itu salah satu kewajiban orang tua kepada anak. Bukan kewajiban anak terhadap orang tua, Sayang," kata Fathir.
"Apa bedanya?" tanya Aliya.
Aulia pun menjelaskan agar putrinya tidak salah arti. Setelah itu Aliya jadi mengerti kalau kewajiban yang orang tua lakukan itu berarti hak untuk anak. Begitu juga sebaliknya, apa yang jadi kewajiban anak itu berarti adalah hak orang tua.
__ADS_1
***
Aulia dan Fathir sedang berada di kamar tidur mereka. Keduanya baru saja melakukan shalat malam.
"Anak-anak tidur lagi?" tanya Aulia.
"Iya, katanya ngantuk. Mungkin karena kelelahan setelah melakukan perjalanan jarak jauh," jawab Fathir.
"Kalau Mas mengantuk, lebih baik tidur saja lagi. Waktu subuh masih sangat lama, satu jam setengah lagi," kata Aulia saat melihat jam di dinding.
"Tidak, aku lebih baik menghabiskan waktu
dengan kamu, Sayang. Minggu depan aku akan sibuk oleh mahasiswa yang aku bimbing dalam membuat makalah," ujar Fathir.
"Jangan terlalu capek, Mas. Apalagi Pak Camat dan Pak Bupati selalu meminta untuk mengisi pengajian," kata Aulia sambil memijat bahu suaminya.
"Capek aku akan hilang saat melihat kamu dan anak-anak," balas Fathir.
"Aw, aku merasa tersanjung," ujar Aulia sambil tertawa kecil.
Fathir menarik lembut tangan Aulia yang sedang memijatnya. Lalu, menarik tubuh istrinya agar duduk di pangkuannya.
"Benar, Sayang. Kalian adalah sumber kekuatan aku, sumber kebahagiaan aku, kalian adalah pusat duniaku," bisik Fathir sambil menatap lembut Aulia.
"Aku juga begitu, Mas. Kamu dan anak-anak adalah segala-galanya bagi diriku. Hanya melihat dan berada di sisiku itu sudah membuat aku bahagia," balas Aulia.
"Terima kasih Aulia Nur Assyifa, sudah menjadi istri dan ibu untuk anak-anakku. Ana uhibbuka fillah (Aku mencintaimu karena Allah)" ucap Fathir sambil menatap Aulia dengan penuh cinta.
"Ahabballadzi ahbabtabi lahu (Semoga Allah mencintaimu, Dzat yang telah menjadikan kamu mencintai aku karena-Nya)" balas Aulia dan memberinya satu ciuman lembut dan mesra kepada suaminya.
"Apa kita akan buat adik untuk Aliya? tanya Fathir dengan senyum terukir menghiasi wajah teduhnya.
"Terserah kamu saja, Mas. Aliya juga tidak keberatan punya adik," balas Aulia dengan malu-malu. Pagi hari itu pun mereka lalui dengan mengarungi surga dunia.
***
Mungkin banyak dari kalian yang tidak mengerti kenapa aku buat Ending/Tamat dengan 4 versi. Seperti yang aku sebutkan sebelumnya karena terinsipirasi dari sebuah film kartun Jepang (anime) otak aku lebih tercemari sama film kartun dari pada sinetron Indonesia. Jadi halunya begini 😆.
Aku juga lagi belajar buat novel yang katanya mirip sinetron ikan terbang pada teman-teman aku. Intinya: Istri terdzholimi sama suaminya yang punya selingkuhan, ibu mertua kejam, ipar jahat, tetangga julid, teman kayak pagar makan tanaman atau musuh dalam selimut, si tokoh cewek menderita terus, lalu jadi orang sukses. Mantan suami jadi gelandangan luntang-lantung di tinggal sama si pelakor, mantan ibu mertua mati mengenaskan. 😆😆😆 Ya Allah, bener nggak nih? Aku ragu buat yang kayak gini 🤔🤔 Otak aku ngebul nggak, ya.
***
__ADS_1