
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 67
Keesokan harinya Aulia yang sedang menyiram bunga sambil melamun. Dia dikejutkan oleh seseorang yang memanggilnya sambil memeluknya dari belakang.
"Hayo, melamun!" ucap Annisa sambil menjawil hidung Aulia.
"Ning Annisa!" seru Aulia dengan senyum lebarnya dan membalas pelukan sahabatnya itu.
"Pasti kamu terkejut, ya! Kamu sedang melamunkan apa, sih? Sampai aku beri salam beberapa kali tidak balas," tanya Annisa dengan bibir mengerucut.
"Yang pasti aku tidak sedang melamunkan yang aneh," balas Aulia sambil tertawa kecil.
"Jangan-jangan kamu melamunkan Mas Fathir, ya?" Annisa menebak.
"Bukan," balas Aulia dengan berbisik.
"Apa, tuan muda itu? Alvan?" Annisa menebak lagi.
"Bukan," balas Aulia lagi sambil tertawa dan berlari ke teras rumah dan hendak masuk ke dalam.
Brug!
"Astaghfirullahal'adzim. Untung saja, kamu tidak jatuh." Fathir menarik pinggang Aulia dan menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Keduanya saling menatap dengan jarak yang sangat dekat. Fathir tidak sadar kalau saat ini kedua tangannya itu sedang melingkar di pinggang dan punggung Aulia. Sebaliknya Aulia melingkarkan sebelah tangannya di leher Aulia. Setan langsung pada berdatangan agar mereka lupa akan keadaan di sekitarnya, kayaknya.
Annisa yang melihat itu membelalakkan matanya. Belum juga mulutnya mengeluarkan suara ada seseorang yang menarik tubuh Aulia agar terlepas dari pelukan Fathir.
__ADS_1
"Lepaskan Aulia!" bentak orang itu. Anehnya, justru malah dia yang kini memeluk tubuh Aulia.
Masih shock dan terkejut akan kejadian barusan. Kini ada hal yang lebih mengejutkan Aulia. Seakan dia sedang bermimpi.
"Alvan!" seru beberapa orang secara bersamaan.
"Kamu, tidak boleh seenaknya main peluk-peluk Aulia," kata Alvan sambil menunjuk muka Fathir yang masih terdiam.
"Ka-mu bi-sa ja-lan sekarang?" tanya Aulia karena kursi roda milik Alvan ada di dekat mobilnya dan itu lumayan agak jauh dari teras rumah.
"Ehhh, jalan?" tanya Alvan tanpa melepaskan pelukannya pada Aulia. Dia sendiri tidak sadar bisa sampai ke sana. Kedua makhluk ini entah tidak sadar kalau sedang berpelukan, atau saking terkejutnya tubuh mereka menjadi kaku.
"Astaghfirullahal'adzim, Aulia. Apa yang sedang kamu dan Alvan lakukan?" Suara kakek Yusuf langsung membuat Aulia dan Alvan saling melepaskan diri.
"Astaghfirullahal'adzim," gumam Aulia merutuki dirinya yang sudah membiarkan seorang laki-laki yang bukan mahramnya memeluk tubuh dia.
"Maafkan aku. Sungguh aku tidak sadar sudah melakukan hal barusan. Aku tidak punya niat buruk padamu. Percayalah Aulia," kata Alvan dengan wajah yang panik.
"Nak Alvan sejak kapan kamu bisa jalan?" tanya nenek Halimah yang terkejut saat melihat pemuda itu berdiri di teras rumah.
"Apakah dia gadis yang disukai oleh Alvan?" tanya Ojichan (anggap saja dia bicara dengan bahasa Jepang).
"Iya, dia wanita yang sedang dekat dengan Alvan. Bahkan demi dia, Alvan mau melanjutkan lagi terapinya," bisik papi Kenzo.
"Ho, aku harus dukung dia berarti. Lalu, siapa laki-laki tampan yang ada di sana itu?" tanya Ojichan.
"Dia saingan Alvan untuk mendapatkan Aulia," jawab mami Siska asal nebak, meski itu benar.
"Apa? Dia punya saingan yang berat. Kalau begitu cepat lamar dia untuk cucuku. Jangan sampai keduluan oleh laki-laki itu," pinta Ojichan.
"Tidak bisa begitu, Ojichan. Harus ada pembicaraan dulu dengan kedua belah pihak keluarga," kata mami Siska.
__ADS_1
"Iya, bagaimana kalau kita ditolak? Bisa-bisa si Alvan menghilang bak ditelan bumi," lanjut papi Kenzo.
"Kalian itu selalu lambat. Biar aku saja yang bicara," kata kakek yang memiliki tubuh tinggi dan tegap. Ojichan pun melangkah mendekati orang-orang yang ada di teras.
"Halo, calon cucu menantu. Apa kabar?" tanya Ojichan pada Aulia.
Sosok kakek asing yang bicara pada Aulia, membuatnya terbengong karena tidak tahu apa yang sedang diucapkan padanya. Aulia pun tersadar kalau dia adalah Ojichan yang datang hari kemarin ke Indonesia.
"Halo, Ojichan," balas Aulia.
"Kenapa wajah kamu ditutup?" tanya Ojichan dengan tangannya yang terulur pada niqob.
"Ojichan, jangan!" Alvan menahan tangan kakeknya.
Aulia pun memundurkan dirinya saat kakek Yusuf menghadang Ojichan. Kini posisi Aulia berada di balik punggung kakek Yusuf.
"Tuan, Aulia memakai niqob untuk melindungi dirinya dari pandangan laki-laki yang bukan keluarganya," ucap kakek Yusuf dalam bahasa Jepang.
"Kakek Yusuf bisa bahasa Jepang?" tanya Alvan dan keluarganya bersamaan.
"Ya, karena dulu aku hidup di zaman penjajahan. Jadi, bisa sedikit-sedikit," jawab kakek Yusuf.
"Oh, maaf. Aku tidak tahu," ucap Ojichan.
Kini ruang tamu di rumah Aulia penuh dengan orang-orang yang datang tak diundang olehnya, alias datang sendiri. Bahkan Aulia dan Annisa duduk di kursi plastik yang sering di simpan di halaman samping.
Kedatangan Fathir adalah untuk mengantarkan Annisa yang kebetulan sedang berlibur. Sementara keluarga Alvan datang mau bersilaturahmi untuk mengenalkan Ojichan pada Aulia, kakek Yusuf, dan nenek Halimah.
Aulia menatap tajam kepada Alvan karena dia tidak menyangka kalau tuannya itu bisa berjalan. Dalam hatinya di bertanya-tanya, 'Sejak kapan tuan bisa berjalan? Apa selama ini sebenarnya dia itu bisa berjalan dan pura-pura lumpuh?'
Berbeda dengan isi hati Aulia, Alvan yang mengetahui Aulia sedang melihat ke arahnya, merasa senang dan hatinya merasa berbunga-bunga. Dia pun berkata dalam hatinya, 'Aulia sekarang suka sama aku 'kan? Karena aku sudah bisa berjalan lagi? Apa aku tembak lagi dia, ya? Sepertinya dia juga suka sama aku karena melihat terus ke arah aku.'
__ADS_1
***
Tingkat percaya diri Alvan semakin meningkat sampai tahap menggali tingkat tinggi 🙈. Apa yang akan diperbuat oleh Alvan untuk mendapatkan Aulia? Tunggu kelanjutannya, ya!