Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 112. Salah Alamat


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 112


Amelia sedang berjuang membuka hati Rangga. Meski laki-laki itu tidak menjaga jarak dengannya, tetapi hatinya masih belum dibuka untuk wanita manapun. Meski sekarang Safiyah kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan Amelia dibandingkan dengan Aulia yang sedang sibuk mengurus untuk acara pernikahannya.


"Izinkan aku untuk mengetuk hatimu," kata Amelia saat Rangga mengantarkan gadis itu pulang setelah mereka pergi jalan-jalan sekeluarga Papa Damar.


"Aku tidak akan melarang dirimu untuk mendekati dan mengetuk hatiku. Hanya saja jangan terlalu memaksa untuk membukanya. Biarkan dia terbuka dengan seiring berjalannya waktu," balas Rangga.


Hati Amelia bergetar mendengar ucapan Rangga. Dia merasa kalau itu adalah sinyal dari laki-laki ini, bahwa dia juga sedang berusaha.


"Terima kasih," ucap Amelia dengan senyum manis menghiasi wajahnya.


"Justru aku yang harus mengucapkan terima kasih kepada kamu, karena sudah mau berperan menjadi ibu bagi Safiyah," tukas Rangga.


***


Begitu juga dengan Yukari dan Mario juga sudah memutuskan untuk menjalin hubungan ke yang lebih serius. Bahkan saat ini laki-laki itu juga sudah membawa kekasihnya pulang ke tanah kelahiran untuk dikenalkan kepada orang tuanya. Sekalian untuk menjemput mamanya yang ingin menghadiri pernikahan Alvan.


"Mama, kenalkan ini Yukari. Dia kekasihku dan kami berniat akan menikah," ucap Mario kepada wanita yang sudah melahirkan dirinya ke dunia ini.


Yukari memeluk wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meski usianya sudah berkepala lima. Mamanya Mario pun menyambut calon menantunya dengan penuh suka cita.


"Cantik sekali calon istri kamu, Mario," kata Maria (Aku lupa apa dulu pernah kasih nama untuk mamanya Mario 🤭)


"Tentu saja, Ma. Makanya aku menyukainya dan ingin menikahinya," balas Mario dengan penuh semangat.

__ADS_1


Kedua wanita berbeda generasi itu pun tertawa. Mereka langsung bisa berbaur dan merasa nyambung saat banyak membicarakan sesuatu. Ini menjadi poin tambahan Maria mau menerima Yukari sebagai calon menantunya.


***


Sementara itu, Alvan sedang menyiapkan hatinya untuk menghadapi hari spesial dalam hidupnya yang akan menjadi salah satu hari bersejarah dan akan selalu dia kenang nanti. Dia sudah tidak sabar untuk segera mengucapkan ijab qobul dihadapan wali hakim nanti. Bahkan sudah hapal di luar kepala bacaan itu.


"Assalamu'alaikum, calon bidadari aku," ucap Alvan saat menerima panggilan Aulia.


^^^"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Alvan. Ini Nenek Halimah."^^^


Alvan terasa mukanya dipukul dengan kuat oleh suatu yang tidak terlihat. Betapa malunya dia saat ini, sampai warna kulit wajahnya kini sudah berubah merah. Sebab, dia sudah salah alamat.


"Maaf, Nek. Aku kira ini Aulia."


^^^"Tidak apa-apa, Nak Alvan. Aulia juga ada di sini."^^^


'Apa?' (Alvan sudah tidak menentu perasaannya saat ini saking malunya)


^^^"Ini Aulia mau menanyakan berapa orang yang akan ikut menghadiri acara saat pengucapan ijab qobul di masjid nanti?"^^^


"Oh, mungkin sekitar dua puluh orang yang akan menghadiri dari pihak aku."


^^^"Baiklah kalau begitu. Jadinya, kami bisa memperkirakan seberapa banyak kita memasak menu makanan nanti."^^^


Di sisi lain Aulia menahan tawanya yang sejak tadi. Setelah Alvan mengangkat panggilannya. Bahkan Kakek Yusuf yang kebetulan baru datang juga ikut tersenyum geli.


"Nenek kena rayuan gombal Alvan, nih." Aulia akhirnya tertawa begitu Nenek Halimah mengakhiri panggilan itu.


"Jangan-jangan kamu cemburu," balas Nenek Halimah diiringi tawa kekehan kecil.

__ADS_1


"Mana ada aku cemburu sama Nenek," bantah Aulia kemudian memeluk wanita tua itu. Mereka bertiga pun tertawa bahagia.


***


Tinggal seminggu lagi hari pernikahan Aulia dengan Alvan. Semua sudah siap 90% tinggal mendekorasi gedung tempat diselenggarakannya pesta nanti. Akan ada dua ruang yang digunakan dalam pesta itu. Tamu undangan laki-laki dan perempuan akan di pisah.


"Mama mau melakukan perawatan bersama Aulia. Nanti akan ada pegawai salon yang datang ke rumah Aulia," ucap Mama Siska setelah selesai sarapan.


Alvan hanya menghela napasnya, selama satu minggu ini Aulia akan dipingit. Bahkan sudah izin cuti. Belum juga sehari tidak melihat sosok sang pujaan hati, pemuda itu sudah merindukannya.


"Ma, nanti saat di sana video call aku, ya! Biar aku bisa lihat Aulia," pinta Alvan.


"Tidak boleh!" tolak Mama Siska sambil melotot ke arah putranya.


Papi Kenzo hanya diam mendengarkan pembicaraan antara ibu dan anak ini. Dia tahu kalau sudah seperti ini pastinya sang nyonya rumah yang akan memenangkan perdebatan itu.


"Mama pelit sekali," ujar Alvan tidak suka.


"Ini biar pas malam pertama nanti kamu bisa puas-puasin melepas rindu sama Aulia," tutur Mami Siska.


"Akan beda rasanya kalau kamu melihat Aulia nanti," lanjut Papi Kenzo sambil mengedipkan matanya sebelah kepada putra semata wayangnya.


Alvan pun langsung tersenyum lebar. Dia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi di malam pertama mereka nanti.


***


Apakah pernikahan mereka berjalan lancar? Atau tidak sesuai harapan? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.

__ADS_1



__ADS_2