Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2. 135. Alvan & Rafael


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 135


Alarm berbunyi dan itu membuat Aulia terjaga. Saat dia membuka mata terlihat kalau Alvan juga sudah membuka matanya.


"Assalamu'alaikum, Ananta," ucap Alvan seperti biasa dan memberikan ciuman sekilas di kening dan bibir sang istri.


Keduanya pun lantas bangun dan menjalankan sholat sepertiga malam seperti biasanya. 


'Entah kenapa rasanya ada yang aneh? Tapi apa, ya?' Aulia bertanya-tanya dalam hatinya.


Perempuan itu lupa dengan sahabatnya yang sedang menginap di rumahnya. Bahkan semalam mereka tidur bersama sebelum Alvan membawanya ke kamar milik mereka. Aulia dan Alvan menjalani awal kesehariannya seperti biasa.


Sementara itu, di kamar tamu. Saat Ning Annisa membuka mata, dia berada dalam dekapan suaminya. Tentu saja ini membuatnya terkejut. Sebab, semalam dia tidur bersama sahabatnya. Dia pun duduk dan mengedarkan pandangannya mencari sosok Aulia. 


"Kenapa malah Rafael yang tidur di sini? Aulia ke mana?" gumam Ning Annisa.


"Ayang, bangun. Ini sudah waktunya tahajud." Ning Annisa membangunkan sang suami sambil mengguncangkan tubuhnya.


Rafael membuka matanya sedikit, lalu menarik kembali tubuh Ning Annisa agar kembali ikut berbaring.


"Ayang, bangun! Ini di rumah orang lain," bisik Ning Annisa sambil mencubit kedua pipi pemuda itu dengan gemas.


Rafael pun langsung membuka mata. Dia baru sadar kalau itu bukan kamar tidur mereka. Pemuda itu baru ingat dengan kejadian semalam.


"Kenapa kamu bisa tidur di sini?" tanya sang istri sambil menelisik dengan intens.


"Semalam kak Alvan bilang tidak bisa tidur kalau tidak memeluk kak Aulia. Lalu, dia bilang akan membawa kak Aulia ke kamarnya. Ya, sudah aku juga tidur di sini. Kasihan Cinta tidur seorang diri. Nanti kedinginan," jawab Rafael.


'Yang ada kamu itu yang kedinginan, karena tidak bisa memeluk tubuh aku.' (Ning Annisa)

__ADS_1


"Ini cerita benaran, 'kan? Bukan karangan?" tanya Ning Annisa dengan sangsi.


Rafael yang kesal sekaligus gemas sama sang istri, langsung menerjang tubuh yang jauh lebih kecil dari dirinya dan menindih tanpa aba-aba. Ning Annisa yang akan memekik langsung di bungkam oleh ciumannya.


"Jangan berteriak Cinta, ini di rumah orang," bisik Rafael membalikan ucapan Ning Annisa.


Keduanya pun melaksanakan sholat tahajud berjamaah. Dilanjutkan dengan mengaji.


Di kamar sebelah saat Aulia mengaji, tiba-tiba saja dia teringat akan Ning Annisa. Dia pun menyudahi tilawahnya.


"Alvan-kun, bukannya semalam aku tidur dengan Ning Annisa? Kenapa saat bangun tidur aku bisa ada di sini?" tanya Aulia meminta penjelasan pada sang suami.


"Itu karena aku merasa kasihan kepada Rafael, Ananta. Dia itu orang yang tidak begitu mengenal kita, pastinya akan merasa tidak nyaman tinggal di rumah orang lain. Makanya aku membantu dia agar betah di sini," jelas Alvan.


Aulia pun beranjak dari duduknya, lalu pergi ke kamar Ning Annisa, berada. Dia takut kalau sahabatnya itu bangun kesiangan, karena semalam mereka begadang. 


Perempuan itu pun mengetuk pintu, tetapi tidak ada sahutan atau respon dari dalam. Takut terjadi sesuatu kepada tamunya, maka Aulia membuka pintu itu dan terlihat kalau kedua orang itu seperti selesai solat. Ning Annisa sedang mencium tangan Rafael. Sementara itu, pemuda yang berwajah bule itu mencium ubun-ubun Ning Annisa.


"Ananta, sekarang baru pukul tiga lebuh. Masih ada waktu sampai subuh, aku ingin menjenguk calon bayi kita," bisik Alvan setelah menggendong sang istri dan membuatnya memekik. Hal ini membuat Ning Annisa dan Rafael terkejut.


***


Pagi harinya setelah sholat Subuh, Aulia mengajak Ning Annisa untuk membuat sarapan bersama. Mereka banyak bercerita menu sarapan kesukaan suami masing-masing.


"Alvan itu paling suka kalau aku membuat nasi goreng, meski tidak terlalu banyak toping yang menyertainya," kata Aulia.


"Kalau Rafael suka sarapan sesuatu yang membuatnya segar. Jus buah-buahan, puding buah, atau salad buah. Sedangkan untuk bekal ke sekolah dia suka makanan yang agak pedas dan tidak terlalu banyak porsinya. Meski begitu aku selalu menyiapkan makanan penutup untuknya. Biasanya dia minta salad buah," ucap Ning Annisa mengingat kebiasaan suaminya.


Menu makan sarapan sudah selesai disiapkan sesuai kebiasaan para suami mereka. Alvan nasi goreng dengan jus jeruk. Untuk Kakek Yusuf dan Nenek Halimah, dibuatkan bubur tim sayuran. Sedangkan Rafael puding susu di potong-potong dan ditaburkan pada salad buah-buahan. Air minumnya jus tomat, karena di kulkas banyak tomat.


Alvan yang melihat menu makanan untuk sarapan milik Rafael, hanya menelan ludahnya. Makan itu terlihat menggiurkan dan jus tomat yang berwarna merah, terlihat begitu menggoda di matanya.


Rafael tahu kalau Alvan terus memperhatikan dirinya. Namun, dia pura-pura tidak tahu. Sengaja dia dengan cepat memakan salad buahnya itu. Aulia yang melihat Alvan menatap Rafael dengan pandangan lapar, langsung menyenggol kakinya yang ada di bawah meja.

__ADS_1


"Mau aku suapi?" tanya Aulia.


Rafael langsung mengalihkan perhatiannya kepada Alvan. Dalam hati dia berkata, 'Kak Alvan kalau makan minta disuapi, ya.'


"Ingin makanan seperti punya Rafael," kata Alvan dengan tatapan memelas seperti anak kucing.


'Apa? Aku kebetulan tidak buat puding. Itu juga Ning Annisa membuat untuk Rafael, Kakek, dan Nenek. Karena agar-agarnya tinggal satu bungkus tadi. Tahu gitu, tadi aku minta sedikit saja buat suamiku.' (Aulia)


"Kalau Kak Alvan mau. Ini ambil saja punya aku. Belum sempat aku makan, kok." Ning Annisa mendorong mangkuk berisi salad buah di campur dengan puding susu.


"Lalu, Cinta, kamu sarapan apa?" tanya Rafael dengan iba.


"Makan berdua saja dengan Ayang, bagaimana?" tanya Ning Annisa dengan bisikan manja agar Rafael tidak marah.


Rafael merasa sangat senang saat mendengar ucapan istrinya. Lalu, dia pun mengaanggukkan kepala tanda setuju.


"Kita makan di teras belakang rumah, yuk! Sambil berjemur sinar matahari pagi," ajak Rafael.


"Ikut!" kata Alvan refleks.


"Ish, jangan! Aku dan Cinta mau sayang-sayangan. Nanti Kak Alvan pingin lagi," balas Rafael.


Aulia tertawa melihat kelakuan kedua laki-laki itu. Dia merasa kalau Alvan dan Rafael seperti kakak beradik yang tidak mau saling kalah saingan.


'Kenapa Alvan jadi begini? Apa ini akibat ngidam?' (Aulia)


***


😆 Alvan malu-maluin sebagai tuan rumah. Apa kehamilan Aulia membawa dampak perubahan kepada Alvan? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.


__ADS_1


__ADS_2