
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip agar terbaca oleh sistem. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.
***
Bab 68
Keesokan harinya Aulia mendatangi rumah orang tua Alvan. Sebab, saat ini dia sedang tinggal di sana selama Ojichan berada di Indonesia. Saat menunggu pintu gerbang dibuka, Aulia melihat Rangga yang sedang joging di komplek perumahan. Tidak ada niatan untuk menyapa karena takut ada Karmila dan malah menjadi salah paham.
Hal yang mengejutkan kembali terjadi pagi-pagi ini. Ojichan sedang berolahraga hanya menggunakan celana pendek tanpa atasan (kalian mengerti celana pendek yang dipakai oleh Sumo. Nanti kena sensor NT dan lama lolos reviewnya).
"Astaghfirullahal'adzim." Aulia lalu menutup matanya dengan kedua tangan.
'Ya Allah, ini kakek dan cucu kelakuannya sebelas dua belas. Zina mata!' teriak Aulia dalam hati.
Menyadari kehadiran seseorang, Ojichan pun membalikan badannya.
"Ohaiyo, Aulia!" sapa Ojichan sambil melambaikan tangan.
"Ohaiyo, Ojichan." Aulia masih berjalan sambil menutup matanya.
"Ojichan … kenapa tidak pakai baju?" Mami Siska pun mengambil kimono dan memakaikan pada ayah mertuanya.
"Aku sedang berolahraga sambil berjemur di bawah mentari pagi," ucap Ojichan.
" Mulai sekarang dilarang polosan begitu. Harus pakai baju!" titah mami Siska.
"Tapi—"
"Lihat Aulia, Ojichan! Dia malu melihat Ojichan," potong mami Siska.
Ojichan pun melihat Aulia yang masuk ke dalam rumah sambil menutup matanya. Dia malah tertawa terkekeh melihat hal itu.
"Masa dia belum pernah laki-laki tidak pakai baju," ucap Ojichan.
"Dia itu masih gadis, belum menikah," balas mami Siska dan pergi meninggalkan mertuanya.
***
Aulia di antar oleh seorang pelayan di rumah itu ke kamar Alvan. Saat Aulia masuk ke dalam kamar tuannya, dia disuguhkan pemandangan yang menggoda iman.
"Astaghfirullahal'adzim. Tuan, kenapa berpakaian seperti itu!" teriak Aulia sambil membalikan badannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu, histeris seperti itu? Aku kan masih pakai baju. Apa kamu suka melihat tubuhku ini?" tanya Alvan dengan penuh percaya diri. Dia memiliki tubuh yang proporsional dengan perut yang eight pack dan otot lengan serta paha yang kokoh.
"Aku baru selesai olahraga bersama papi. Ini mau mandi," lanjut Alvan.
"Aurat … Tuan! Itu, aurat!" pekik Aulia.
"Aku tidak polosan," ucap Alvan.
"Iya, tapi celana Tuan kependekan. Batas aurat laki-laki itu lutut sampai pusar," jelas Aulia.
Alvan pun melihat dirinya, celana dia memang di pertengahan paha. Maka, dengan cepat dia masuk ke kamar mandi.
"Ya Allah, ampuni aku. Apa aku menyerah saja bekerja pada tuan Alvan. Dan mencari kerja di tempat lain?" gumam Aulia sambil merapikan tempat tidur Alvan, lalu menyiapkan baju kerjanya.
Seperti biasa Aulia harus menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk Alvan. Melihat hal itu Ojichan pun heboh kembali.
"Aulia, kamu menikah sama Alvan, ya?" Suara Ojichan memecah keheningan di meja makan.
Aulia yang sedang menata makan ke misting pun sempat terhenti. Kemudian dia melihat ke arah Ojichan. Dia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh kakek-kakek itu.
"Otousan (ayah), tidak boleh seperti itu," kata papi Kenzo.
"Kenapa?" tanya Ojichan tidak mengerti.
"Dia baik," jawab Aulia dan membuat perasaan Alvan melambung tinggi.
"Menurut kamu Alvan itu laki-laki bertanggung jawab atau pecundang?" tanya papi Kenzo lagi.
"Laki-laki bertanggung jawab," balas Aulia dan itu membuat Alvan semakin bahagia. Senyum tampannya terus terpasang di muka dia.
"Aulia, apa kamu punya kekasih?" tanya papi Kenzo pada Aulia.
"Tidak, Papi," jawab Aulia.
"Apa kamu sudah punya calon suami?" tanya papi Kenzo.
"Belum, Papi," balas Aulia.
"Kalau begitu menikahlah dengan Alvan!" titah papi Kenzo.
"Alvan setuju. Bersedia menjadikan Aulia sebagai seorang istri," lanjut Alvan dan membuat Aulia tercengang.
__ADS_1
Sungguh Aulia merasa sangat terkejut bagai tersetrum listrik bertegangan tinggi. Diam kaku, membisu, dan seperti patung manekin.
***
Saat berada di kantor pun Alvan tanpa sadar tebar pesona. Semua pegawainya terkejut melihat Alvan bisa berjalan dan senyum tampan menghiasi wajahnya.
"Tuan, ada pak Rangga sedang menunggu di dalam," ucap Yukari.
Rangga sangat terkejut melihat sahabatnya itu bisa berjalan lagi. Sampai-sampai dia tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya tangisan haru penuh kebahagiaan saat melihatnya bisa berdiri dengan kedua kakinya.
"Selamat. Akhirnya, kamu bisa berlari lagi. Kapan-kapan kita main basket," kata Rangga sambil melepaskan pelukannya.
"Terima kasih. Tumben pagi-pagi sudah datang ke sini?" tanya Alvan.
"Saham perusahaan Barata kini sedang berada di pucuk kehancuran. Nilainya turun secara drastis hari ini," jawab Rangga.
"Ya, aku dan papi sudah membeli hampir empat puluh persen saham di sama atas mana Mutiara. Aku kira dia akan ingat dengan nama itu. Tapi, sepertinya dia sudah lupa dengan anak kecil yang sudah dia siksa sampai cacat seumur hidupnya," ujar Alvan.
"Aku sudah mengajukan gugatan cerai dan kedua mertua aku sangat shock saat aku perlihatkan bukti-bukti perselingkuhan Kamila. Sampai-sampai mama mertua pingsan dan papa mertua menghancurkan beberapa benda di rumahnya," kata Rangga.
"Bagus dengan begini, pintu kebahagian kamu akan terbuka," ucap Alvan dengan mimik wajah yang senang.
"Entahlah. Mama aku sekarang seperti orang yang linglung setelah pertengkaran dengan papa tempo hari. Ternyata aku punya adik perempuan beda ibu. Papa tidak pernah memberi tahu kepada kami kalau dia sempai punya istri lain dan punya anak dengannya," ucap Rangga dengan suara yang lirih.
"Maaf, aku tidak memberitahukan kepada kamu, tentang kejadian di restoran tempo hari. Aku dan Aulia berada di sana saat itu dan menyaksikan semuanya," ujar Alvan.
"Kata papa, dulu dia pergi ke kota di ujung timur. Papa yang tidak pernah minum alkohol di suruh oleh rekan bisnisnya untuk minum-minum bersama. Saat dia sadar di pagi harinya, ternyata dia sedang tidur bersama seorang wanita. Wanita itu memberi tahu papa kalau dirinya hamil dan minta dinikahi.
"Waktu itu posisi papa sedang serba salah. Maka, mereka melakukan perjanjian. Mereka akan bercerai setelah bayinya lahir dengan uang konfensasi yang sangat besar. Selian itu semua kebutuhan anak mereka selamanya di tanggung oleh papa.
"Sampai hari kejadian itu, papa secara diam-diam memberikan uang kepada putri dan mantan istrinya itu setiap bulannya. Pantas saja, papa menyuruh aku ikut kerja di perusahaan lain jangan perusahaannya sendiri. Dia melakukan hal itu karena takut saat melakukan pemeriksaan keuangan, aku akan menemukan penggelapan uang itu," jelas Rangga dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sabar, ya. Semoga kebahagiaan akan segera datang menghampiri dirimu," lanjut Alvan.
"Aku juga akan mencari Aulia. Aku mendapat kabar kalau dulu Aulia mengalai kecelakaan dan bayi kami meninggal," kata Rangga dengan air mata yang jatuh meluncur di pipinya.
Tiba-tiba saja tubuh Aulia menegang. Dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa melindungi bayinya.
***
Keluarga Alvan se-server semua kayaknya. Apa Aulia akan kuat berada di antara mereka? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
😭😭😭 besok lagi, ya. Sambil menunggu baca karya aku yang lainnya saja.