
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan dan dilancarkan segala urusannya.
***
Bab 51
Agenda Alvan hari sangat padat sejak pagi sudah ada jadwal pertemuan dengan jajaran direksi perusahaan. Apalagi papinya yang menjabat sebagai komisaris akan datang ke kantornya.
"Mario, aku tidak mau kalau sampai ada kekacauan dalam laporan yang akan di periksa oleh papi hari ini," ucap Alvan kepada asistennya.
"Tenang saja Bos, aku sudah cek berulang kali dan semua sudah sempurna," balas Mario sambil mengacungkan jari jempol.
"Bagus," lanjut Alvan sambil memeriksa dukumen yang akan dia laporkan nanti.
"Aulia, kamu akan ikut kami rapat?" tanya Mario sambil mengalihkan perhatiannya kepada gadis berjilbab mocca.
"Aku sebaiknya menunggu di sini saja. Masih ada yang perlu aku periksa," jawab Aulia sambil menepuk tumpukan map yang harus dia periksa karena bisa saja ada yang tertinggal ditandatangani oleh Alvan.
***
Rapat berlangsung cukup lama, hampir 3 jam 17 menit. Aulia juga sudah menyelesaikan pemeriksaannya. Untuk melemaskan badannya yang kaku, dia pun berjalan-jalan di ruang kantor sambil sesekali menggerakan kedua tangan, kaki, kepala, dan pinggangnya.
Saking menikmati olahraga ringan, Aulia tidak menyadari kalau Alvan sudah masuk ke ruang kerjanya. Kebetulan posisi Aulia membelakangi pintu.
Melihat itu Alvan malah merekamnya lewat handphone miliknya. Dia juga menutup pintu secara pelan agar Aulia tidak terkejut.
Aulia memutar-mutar pinggangnya, lalu kedua bahunya. Sampai dia merasa tidak kaku lagi otot-ototnya. Selain itu dia juga mengatur pernapasannya.
"Ah, lumayan. Badan sudah tidak sekaku dan sesakit tadi," ucap Aulia mengakhiri olah raga ringannya. Alvan pun dengan cepat menyimpan handphonenya.
Liciknya Alvan, dia memegang gagang pintu biar dikira baru datang. Di waktu yang bersamaan Aulia memutar tubuhnya dan melihat padanya.
'Aduh ada Tuan Alvan. Dia lihat aku lagi menggerakan badan nggak, ya?' batin Aulia.
"Tuan sudah datang," kata Aulia. Sesuatu yang tidak perlu ditanyakan atau dikatakan karena sudah jelas-jelas Alvan ada di dalam ruang kantornya sekarang.
"Iya," jawab Alvan singkat sambil bergerak ke arah meja kerjanya.
Saat Aulia meletakan secangkir air teh, pintu di ketuk dari luar dan terlihat Yukari datang bersama dua orang laki-laki paruh baya. Aulia sangat terkejut melihat laki-laki yang dia kenal.
"Tuan Kenzo?" panggil Aulia.
__ADS_1
"Apa kamu, Aulia?" tanya laki-laki yang bernama Kenzo.
"Iya, Tuan. Saya, Aulia," jawab Aulia.
"Papi kenal sama Aulia?" tanya Alvan terkejut.
"Iya, dia itu gadis baik hati yang sudah mendonorkan darahnya pada papi. Gadis yang dulu pernah papi ceritakan padamu," jawab Kenzo sambil tersenyum.
"Tuan Kenzo, saya tinggal sebentar. Ada telepon masuk," kata laki-laki yang datang bersama Kenzo.
"Iya."
Aulia, papi Kenzo, dan Alvan pun bicara di sofa sambil minum teh. Pertemuan yang jarang terjadi di antara anak dan bapak karena mereka tinggal beda rumah.
"Alvan, kamu jangan mempersulit Aulia. Kalau sampai Aulia mengeluh, siap-siap saja mami kamu akan menghajar dan mengomeli kamu tujuh hari tujuh malam," ucap papi Kenzo.
"Memangnya aku atasan seperti apa, sampai Papi bisa bicara seperti itu?" tanya Alvan dengan nada menggerutu.
"Atasan yang tega berbuat kejam pada bawahan," jawab papi Kenzo.
'Benar, Tuan Kenzo. Itu benar sekali!' ucap Aulia dalam hatinya.
'Nasehat apaan? Itu namanya membentak kalau sambil marah-marah,' kata Aulia dalam hati.
"Tanya saja pada Aulia kalau tidak percaya," ujar Aulia.
'Astaghfirullahal'adzim. Kok aku jadi tukang mengumpat akan kelakuan atasan aku,' ucap Aulia dalam hati.
"Benar itu Aulia? Kalau Alvan berbuat sesuatu yang tidak kamu sukai, bilang saja sama papi atau mami," kata papi Kenzo.
"Terima kasih Tuan Kenzo atas perhatiannya. Insha Allah Tuan Alvan atasan yang bisa berpikir dengan benar. Kapan waktunya dia bersikap tegas dan kapan waktunya dia bercanda," balas Aulia yang sejak tadi menundukkan kepalanya.
"Apa? Alvan bercanda?" papi Kenzo kini mengarahkan pandangnya kepada Alvan, "sejak kapan kamu jadi suka bercanda?"
"Entahlah. Mungkin aku di mata Aulia orang yang lucu dan menggemaskan," kata Alvan tanpa sadar dan itu membuat papi Kenzo mengaga tidak percaya dengan apa yang sudah dia dengan dari mulut putranya.
Alvan di mata papi Kenzo adalah anak yang pantang menyerah dan tidak mau kalah. Putranya itu selalu serius dan tidak suka banyak bicara yang dianggapnya tidak penting. Apalagi setelah mengalami kecelakaan, dia begitu jarang bicara.
'Aku harus kasih tahu mami, nih. Jangan-jangan Alvan seperti sudah jatuh cinta kepada Aulia,' batin papi Kenzo.
"Ada apa lagi, Papi?" tanya Alvan kesal karena sudah mengganggu waktunya. Apalagi saat ini dia ingin beristirahat dan menenangkan otaknya yang sejak tadi terus dia peras.
__ADS_1
"Mami kamu ingin kita makan malam bersama nanti," jawab papi Kenzo sambil menepuk bahu anaknya.
"Aulia, kamu mau ikut juga?" tanya papi Kenzo kini mengalihkan pandangannya kepada Aulia yang duduk di kursi tunggal.
"Maafkan saya, Tuan. Sepertinya tidak bisa," jawab Aulia dengan sopan.
"Ah, sayang sekali. Pasti mami akan senang jika kamu ikut juga," ujar papi Kenzo.
Laki-laki yang berkulit putih dan bermata sipit itu terlihat kecewa karena dia berharap kalau Aulia mau ikut makan malam bersama keluarganya. Meski papi Kenzo sudah berusia lebih dari 50 tahun, tetapi wajah dan badannya seperti laki-laki berusia 30 tahun-an. Seperti kakak beradik dengan Alvan.
***
Aulia sudah selesai menyiapkan barang keperluan untuk Alvan selama di sana. Dia juga sudah meminta izin terlebih dahulu kepada kakek Yusuf karena atasannya ingin ikut dan mau belajar agama secara langsung kepada orang yang mampu memberikan banyak ilmu padanya. Kakek Yusuf pun memberikan izin dan mereka akan tinggal di rumah Aulia yang pemberian Ahmad. Mutiara dan Iqbal juga akan ikut tinggal di sana untuk sementara waktu. Sekalian berkumpul bersama.
Selama Aulia menyiapkan keperluan Alvan, lelaki itu menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang tersisa agar saat di kampung kakek Yusuf dia tidak terlalu disibukkan oleh pekerjaan.
Alvan bekerja di kamarnya bukan di ruang kerja seperti biasa. Dia sesekali melihat ke arah Aulia, lalu senyum manis tercipta di wajahnya. Dia membayangkan jika mereka menjadi pasangan suami istri pasti akan menyenangkan seperti ini.
"Aulia," panggil Alvan.
"Ya, Tuan ada apa?" balas Aulia setelah menyimpan koper di pinggir pintu agar besok mudah saat membawanya.
"Kita menikah, yuk!" ajak Alvan tiba-tiba.
"Apa? Tuan sadar dengan apa yang sudah di ucapkan barusan?" tanya Aulia dengan nada terkejut.
"E, apa yang barusan aku katakan kepada kamu?" tanya Alvan balik.
"Tuan mengajak aku menikah," jawab Aulia.
"Apa? Aulia kamu ingin menikah dengan aku?" Alvan kali ini yang terkejut.
'Ada yang tidak benar nih, dengan otak Tuan Alvan,' batin Aulia.
"Tadi Tuan itu mengajak aku menikah. Tentu saja saya sangat terkejut. Bukan aku yang ingin mengajak Tuan untuk menikah," balas Aulia dengan mengerutkan alisnya.
'Ada apa dengan aku?' batin Alvan. Dia pun memijat kepalanya yang terasa sakit sekali.
***
Alvan ngebet banget ingin menikah dengan Aulia 😆. Bagaimana kisah mereka selanjutnya. Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1