
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 127
Kehidupan orang-orang di sekitar Aulia saat ini sedang sibuk dengan urusan masing-masing untuk menggapai kebahagiaan. Amelia sedang mencoba mencari pendamping hidup yang bisa membuatnya merasa menjadi orang yang berarti dan diharapkan keberadaannya.
Yukari dan Mario sedang mempersiapkan pesta pernikahan mereka yang akan digelar di Jepang sesuai keinginan pihak keluarga Yukari. Lalu, Ning Annisa sedang manis-manisnya menjalani hidup bersama berondong muda, setelah masalah kesalah pahaman menghiasi konflik rumah tangga mereka. Lalu, Aulia kini harus berjuang untuk bisa hamil, karena Alvan sudah ingin punya anak.
"Kenapa Alvan membeli alat tes kehamilan banyak sekali?" gumam Aulia saat melihat ada kotak yang berisi banyak test pack dengan bermacam merk.
"Ada apa, Ananta?" tanya Alvan yang datang dan memeluk tubuh Aulia dari belakang.
"Alvan-kun, kenapa banyak sekali membeli alat tes kehamilan?" tanya Aulia sambil menujuk kotak berisi test pack.
"Itu untuk cadangan, agar kamu bisa setiap hari memeriksa, apakah sudah hamil atau belum?" balas laki-laki berdarah campuran Jepang.
Aulia terkejut saat mendengar ucapan suaminya ini. Dia pun tersenyum geli karena membayangkan saat Alvan membeli sendiri alat tes kehamilan ini.
"Alvan-kun, ingat kita tidak boleh boros atau membeli segala sesuatu secara berlebihan," kata Aulia.
Alvan tahu kalau dia sudah membuat sesuatu yang seharusnya tidak boleh dia lakukan. Dia pun menundukkan kepala dan meminta maaf.
Aulia balas memeluk dan menatap wajah suaminya dengan senyum seulas agar laki-laki itu tidak bersedih. Diusapnya kedua pipi Alvan dengan lembut dan ini membuat sang suami tersenyum tipis.
"Kita harusnya membeli alat tes kehamilan, jika aku sudah terlambat datang bulan. Namun, karena ini sudah terlanjur di beli, ya, akan aku manfaatkan nanti," tutur Aulia dan membuat Alvan senang.
***
__ADS_1
"Amelia, aku menyukaimu. Maukah kamu menjadi pendamping hidupku sampai maut memisahkan kita?" Noah mengungkapkan perasaannya saat datang berkunjung ke rumah setelah Magrib.
Amelia sendiri saat ini merasa bingung dengan perasaannya. Dia merasa kalau Rangga lebih baik dari Noah dari segi agama, tetapi sikap dan perhatian Noah jauh jika dibandingkan dengan Rangga.
"Apa kamu serius dengan apa yang baru saja kamu katakan?" tanya Amelia.
"Iya tentu saja. Aku sudah menyukaimu sejak lama. Niat aku pulang ke Indonesia juga selain untuk berbisnis, aku juga ingin menjadikan kamu sebagai pasangan hidupku," aku Noah jujur.
Amelia menjadi bimbang saat ini, di satu sisi hati dia mulai tertuju kepada Rangga. Namun, tidak mendapat sambutan dari laki-laki itu.
Akan tetapi, dia juga tahu kalau Noah sayang dan peduli kepadanya. Laki-laki ini orang yang berharga, karena selalu menemani masih kecil.
"Bolehkah aku memikirkan ya terlebih dahulu?" Amelia meminta persetujuan kepada Noah.
"Iya, tentu saja boleh. Aku akan menerima apapun hasil keputusanmu nanti," balas laki-laki berambut hitam kemerah-merahan itu.
***
"Menikah bukanlah sesuatu yang mudah.
Menikah adalah menyatukan individu antara laki-laki dengan wanita menjadi pasangan suami istri. Selain itu, kita harus menyatukan dua keluarga yang mempunyai pemikiran berbeda dalam satu ikatan," kata Pak Hasan yang kini sedang duduk di depan putrinya.
Amelia membenarkan hal ini, karena prinsip keluarganya dengan keluarga Noah berbeda. Gaya hidup mereka juga berbeda, bahkan bertolak belakang.
"Keputusan untuk menikah tidak bisa asal diputuskan begitu saja. Perlu adanya pertimbangan yang matang, jangan asal-asalan apalagi hanya berdasarkan atas keinginan semata. Sebab, setiap orang pasti ingin mengalami pernikahan sekali seumur hidup saja," lanjut Bu Sari.
Gadis itu mengangguk tanda mengerti dan setuju dengan ucapan kedua orang tuanya. Dia juga ingin membina rumah tangga seperti ayah dan ibunya yang selalu beriringan dan saling mendukung, sehingga kehidupan rumah tangganya harmonis.
"Makanya, sebelum memutuskan naik ke pelaminan, kamu harus pastikan dulu keputusan tersebut berdasarkan kesiapan atau sekadar keinginanmu saja. Jangan sampai, kamu menikah hanya demi menuruti ego dan bukannya karena sudah benar-benar siap lahir dan batin," tambah Pak Hasan.
__ADS_1
***
Alvan menatap Aulia yang duduk di pangkuannya dengan menggunakan baju dinas malam. Hari ini dia sudah dalam keadaan suci. Setelah selesai menunaikan sholat sunat, keduanya saling mencumbu memberikan sentuhan untuk membangkitkan gairah pasangannya.
Pasangan suami istri itu melakukan pemanasan dengan sentuhan lembut dan kata-kata mesra. Alvan memberikan ciuman lembut dan mesra kepada Aulia sampai perempuan itu mengeluarkan suara melodi indah yang sangat disenangi olehnya.
"Ananta, apa kamu sudah siap?" tanya Alvan dengan napas yang memburu dan suaranya menjadi berat.
Aulia mengangguk dengan malu-malu. Dia juga sudah tidak bisa menahan gejolak yang terjadi kepada tubuhnya.
“Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna.” (Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami)
Alvan memulai dengan berdoa, agar apa yang dilakukan bersama sang istri mendapatkan pahala. Dalam Islam, berhubungan intim merupakan bentuk ibadah bagi pasangan suami istri. Islam juga telah mengatur secara detail bagaimana cara berhubungan intim yang baik dan benar. Salah satunya ialah diharuskan untuk membaca doa terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan intim. Hal ini bertujuan untuk menghindari gangguan setan saat sedang berhubungan.
Ketika berhubungan intim, bukan hanya kepuasan batin saja yang dapat kita raih. Dengan doa sebelum dan sesudah berhubungan suami istri, kita juga dapat meraih keberkahan dari Allah. Selain itu, lewat doa ini kita berharap dapat menghasilkan keturunan yang saleh dan salehah.
Saat bercinta Alvan tidak pernah terburu-buru. Dia selalu melakukannya dengan tenang dan menikmati sentuhan satu sama lainnya. Sampai dia merasa kalau dirinya akan melakukan pelepasan. Maka, laki-laki itu pun mempercepat gerakannya. Akhirnya, Alvan dan Aulia mencapai kepuasan bersamaan.
"Allahummaj’al nuthfatna dzurriyyatan thayyibah." (Ya Allah jadikanlah nutfah kami ini menjadi keturunan yang baik (saleh)).
Napas keduanya memburu, keringat membasahi sekujur tubuh mereka. Alvan mencium kening sang istri dengan lembut. Aulia membalas dengan senyum kebahagiaan. Setelah merasa puas dan selesai melakukan hubungan badan, mereka pun membaca doa.
"Alhamdulillaahi lladzii khalaqa minal maa i basyaraa." (Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air mani ini menjadi manusia (keturunan)).
Harapan keduanya kalau hasil ibadah malam ini akan membuahkan hasil. Setelah beberapa saat mereka memutuskan mandi bersama karena sebentar lagi waktu subuh akan tiba.
***
🙈 Aku malu banget pas nulis bagian Alvan dan Aulia. Apakah harapan mereka untuk segera punya anak akan terkabul? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.