
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan bahagia selalu.
***
Bab 59
Alvan mengajak Rangga dan Barata ke ruang rapat di ruang 13 di ujung lorong dekat dengan lift. Dia sengaja melakukan hal ini karena terlihat jelas kalau tatapan Aulia berubah saat melihat laki-laki paruh baya itu.
Sepeninggalan mereka bertiga, Aulia pun ke kamar mandi yang di ruang kantor Alvan. Dia mengambil air wudhu untuk menghilangkan rasa marah dalam hatinya. Air wudhu itu bisa meredakan amarah atau bahkan menghilangkan marah dalam diri seseorang. Dinginnya air memadamkan panas dalam hati Aulia.
Dia melihat pantulan wajahnya yang kini lebih fresh dan bercahaya dibandingkan dulu. Dia juga tadi sebenarnya takut kalau Rangga bisa mengenali dirinya dan mengganggu kehidupannya lagi sekarang. Setiap mereka bertemu, Rangga selalu menatapnya dengan penuh selidik. Kehidupan Aulia sekarang ini sudah merasa tenang tanpa ada gangguan dari mantan dan keluarganya.
"Tenang Aulia, semuanya dikembalikan kepada Allah. Kamu jangan takut oleh Rangga atau keluarganya. Yakinlah, Allah tahu yang terbaik untuk kamu," gumam Aulia sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.
Aulia pun kembali ke meja kerjanya. Kini dia sendiri dan melanjutkan pekerjaannya. Saat dia sedang mengerjakan tugasnya, tiba-tiba pintu terbuka. Aulia mengira itu Alvan, tetapi betapa terkejutnya saat dia melihat ada Rangga yang masuk ke dalam kantor itu sendirian.
"Maaf, handphone aku tertinggal di sini," ucap Rangga dan berjalan ke arah meja, lalu mengambilnya.
Aulia hanya diam saja saat Rangga bicara barusan. Dia berpikir itu bukan ucapan yang harus dijawab. Dilihatnya Rangga memasukan handphone miliknya ke dalam saku jasnya di bagian dalam.
"Kamu tidak akan ikut makan siang bersama kami?" tanya Rangga.
"Bukannya Tuan Alvan sudah punya janji dengan manajer dari Perusahaan Maju Pantang Mundur?" Aulia sudah tahu betul apa jadwal hari ini.
"Iya. Kami semua akan makan bersama dengan manajer dari perusahaan itu. Mario juga akan ikut, masa kamu tidak," ucap Rangga.
"Tidak, itu bukan tugas yang ditanggungjawabkan kepada aku. Saat ini, ini 'lah tugas yang diberikan oleh mereka kepada aku," balas Aulia sambil mengangkat map yang sedang dia pegang.
"Kamu orangnya tanggung jawab. Aku suka dengan sikap kamu ini," ujar Rangga.
"Terima kasih atas pujiannya, Tuan Rangga." Aulia pun kembali memegang proposal lainnya. Dia tidak mau lagi meladeni ucapan dari laki-laki yang kini berdiri di depan meja kerjanya.
Merasa keberadaan dirinya mengganggu Aulia yang sedang bekerja. Maka Rangga pun pergi meninggalkan ruangan kantor Alvan.
***
"Alvan, apa ada yang salah dengan proposal yang diajukan oleh Om kepada papi kamu?" tanya Barata mencoba mengorek informasi dari Alvan.
"Memangnya kenapa, Om?" tanya Alvan balik. Dia pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Om mengajukan kerja sama pada papi kamu, tetapi langsung ditolak tanpa ada pembicaraan sama sekali. Biasanya dia tidak seperti itu," jawab Barata.
'Iyalah. Itu karena dulu papi tidak tahu kalau Om sudah berbuat jahat kepada teman lama papi,' batin Alvan menggerutu.
"Mungkin papi tidak tertarik dengan proyek yang akan dijalankan oleh Om," ujar Alvan datar.
"Proyek ini akan mendatangkan keuntungan yang sangat banyak, loh. Apa tidak menyayangkan kesempatan ini?" tanya Barata.
"Mungkin papi tidak tertarik karena itu sesuatu yang bukan haknya," kata Alvan memberikan sindiran.
"Kenapa tidak kamu ambil saja kerja sama proyek ini?" tanya Barata.
"Saya sudah punya proyek baru. Dan itu sesuatu yang aku tunggu-tunggu," jawab Alvan dengan tegas.
"Om sangat berharap sekali kalau kamu mau bekerja sama," ucap Barata dengan tatapan sorot mata yang kecewa.
***
Alvan kembali bersama Mario saat jam hampir menunjukan 14.20 dan saat itu Aulia baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dia sudah memeriksa semua laporan dan ada beberapa laporan yang typo.
Otak Aulia yang cerdas meski tidak mengenyam pendidikan sampai kuliah. Dia membaca dan mempelajari ilmu perekonomian bersama dengan Annisa. Dia juga sering membantu Annisa saat banyak tugas, sekalian hitung-hitung belajar. Belum lagi punya atasan seperti Alvan yang selalu tegas pada semua karyawan. Aulia banyak mendapatkan ilmu berbisnis dari bos nyebelinnya itu. Apalagi ini langsung dipraktikkan.
"Iya, Tuan," jawab Aulia singkat.
"Lalu, kenapa ini menjadi dua tumpukan?" tanya Alvan sambil menunjuk map yang dia tas mejanya.
"Tumpukan map yang ini sudah saya cek isinya benar. Sementara itu, tumpukan satunya lagi ada beberapa kesalahan dalam pengetikan," jawab Aulia.
"Wow, kamu hebat Aulia! Tugas segitu banyaknya sudah kamu selesaikan. Kalau orang lain, bakalan sampai lembut," puji Mario sambil menepuk tangannya.
"Inilah yang aku suka dari Aulia. Tidak pernah lelet dalam bekerja," tambah Alvan dengan senyum khasnya.
"Sudah sepatutnya aku mengerjakan tugas yang diberikan kepada saya, Tuan," balas Aulia.
Mario merasa ada yang aneh dengan Aulia. Biasanya perempuan berjilbab itu bicara dengan nada ceria dan ramah. Namun, sekarang terasa datar. Maka, Mario pun melirik ke arah Alvan. Atasannya itu terlihat biasa saja.
'Apa cuma perasaan aku saja, ya? Aulia terasa beda saat ini. Apa dia suka sama Tuan? Atau saat liburan kemarin sudah terjadi sesuatu kepada mereka?' Mario bertanya-tanya dalam hatinya.
***
__ADS_1
Hari sudah sore, Alvan dan Aulia pun mempersiapkan diri untuk pulang. Seharian ini, Aulia tidak banyak bicara dan itu membuat Alvan diam-diam memperhatikannya.
"Tuan, sudah siap?" tanya Aulia.
"Ya," jawab Alvan dan Aulia pun mendorong kursi rodanya.
Saat di pertengahan jalan Alvan melihat ada nenek-nenek tukang penjual rempeyek. Maka, Alvan pun minta sopir untuk menepikan mobilnya. Dia meminta Aulia untuk membeli semua sisa dagangan nenek-nenek itu.
"Nek, ini satu bungkusnya berapa?" tanya Aulia.
"Tiga ribuan, Neng," jawab si nenek penjual rempeyek.
"Tuan saya ingin memborong semua dagangan punya Nenek. Kita hitung ada berapa," ucap Aulia.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Neng. Nenek sangat senang," balas si nenek dengan mata berkaca-kaca. Dia merasakan kebahagiaan yang teramat sangat.
"Terima kasihnya kepada tuan saya, Nek. Tuh, di dalam mobil," tunjuk Aulia dengan sopan.
"Semoga tuan itu sama Neng, diberikan kesehatan dan kemudahan segala urusan oleh Allah," kata si nenek mendoakan.
"Aamiin," balas Aulia.
Maka, Aulia pun menghitung sisa rempeyek yang ada di wadah. Tenyata sisanya ada 36 bungkus dikalikan 3000 rupiah, jadi total pembayaran itu adalah 108.000 rupiah. Aulia pun mengeluarkan uang pecahan 100.000 dan 20.000 dan memberikannya kepada si nenek.
"Ini Nek uangnya. Ijab qobul dulu ya, Nek. Biar jual belinya penuh berkah," kata Aulia.
"Iya atuh, Neng. Juga biar jadi halal jual belinya," balas si Nenek sambil tersenyum. Lalu, mereka pun melakukan ijab qobul dalam jual beli.
"Tunggu uang kembaliannya!" seru si nenek saat Aulia beranjak pergi.
"Tidak perlu kembaliannya, Nek. Saya ikhlas," balas Aulia.
"Ya Allah, berkahilah hidup si Neng," ucap si nenek.
Aulia pun berjalan ke arah mobil Alvan. Namun, ada sepeda motor yang tiba-tiba mendekat ke arahnya dan menarik tas milik Aulia.
"Jambret!" teriak Aulia.
***
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan oleh Alvan saat Aulia mengalami kemalangan? Tunggu kelanjutannya, ya!