
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.
***
Bab 73
Hari Minggu ini adalah hari terakhir Mutiara di Kota Kembang ini. Kebetulan juga Annisa sengaja datang hanya untuk bisa berlibur bersama sahabatnya. Ketiga perempuan itu pun menghabiskan waktu bersama. Jalan-jalan menelusuri jalanan kota mencari oleh-oleh dan tentunya memburu jajanan di pinggir jalan yang beraneka ragam jenisnya mau makanan asin, asam, asin, atau pedas. Makanan yang di goreng, di kukus, di kuah, atau di bakar, pokoknya semua ada. Tentu harga makanan di sini jauh lebih murah dibandingkan dengan di restoran-restoran.
"Aulia, kita makan di dalam mobil, 'kan?" tanya Annisa dengan kedua tangannya penuh makanan.
"Tunggu, mobilnya di kunci," jawab Aulia sambil memberikan kode kalau kuncinya ada di tas selempangnya.
"A-ku ba-wa-kan ma-kan-an pu-nya ka-mu," ucap Mutiara yang tangannya hanya memegang jajanan dengan satu tangan karena semua dia masukan ke dalam sekantong keresek.
"Terima kasih, Ara." Aulia pun memberikan salah satu makanannya pada Mutiara.
Ketiga perempuan itu makan di dalam mobil sambil bincang-bincang. Kebanyakan keduanya suka menggoda Aulia.
"Nah, kamu mau pilih mana?" tanya Annisa sambil menaik turunkan alisnya.
"Apaan, sih! Kalian berdua ini, suka sekali bersekongkol memojokkan aku," gerutu Aulia.
"Bukannya begitu, nggak baik, loh. Kalau kamu terus menolak laki-laki baik yang ingin meminang," ujar Annisa dengan alis mengangkat dan minta dukungan dari Mutiara.
"Be-nar." Mutiara mengangguk.
"Tinggal pilih mau yang mana?" lanjut Annisa dengan senyum jahilnya.
"Menurut kalian, aku harus pilih siapa?" tanya Aulia meminta pendapat kedua temannya.
__ADS_1
"Tuan Alvan!"
"Gus Fa-thir!"
Annisa dan Mutiara memberikan jawaban yang berbeda. Lalu, keduanya pun saling menatap, sedetik kemudian mereka tertawa bersama.
"Tuh, kalian saja berbeda memberikan pilihan siapa yang harus aku pilih." Aulia berdecak dan memutar bola matanya.
"Hehe, sayang saja kalau laki-laki sekeren Tuan Alvan di sia-siakan," ucap Annisa sambil memamerkan deretan giginya yang rapi.
"Gus Fa-thir, I-mam yang ba-ik," bantah Mutiara sambil mengacungkan kedua jari jempolnya.
***
Seperti biasa hari Senin adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Alvan karena bisa seharian melihat Aulia. Walau tidak bisa melihat wajahnya, tetapi dengan merasakan keberadaan asistennya berada dekat dengan dirinya sudah membuatnya bahagia.
"Aulia tolong ambilkan berkas kerja sama dengan perusahaan KEMBANG MELATI yang ada di ruang kerja papi!" perintah Alvan yang sedang memasang dasi.
Saat Aulia lewat kamar orang tua Alvan yang pintunya terbuka, terdengar kalau Ojichan menyebut-nyebut nama bi Eneng. Aulia tahu kalau kakek tuannya itu ingin menikah lagi dengan bi Eneng. Namun, papi Kenzo menolaknya karena beberapa hari yang lalu bi Eneng bilang tidak ingin menikah dengan Ojichan.
"Kenapa?" tanya Ojichan.
"Dia mau mencari laki-laki yang bisa membimbing dirinya dan keluarganya. Sedangkan Otousan tidak percaya kepada Allah. Laki-laki yang dia cari itu yang satu iman dengannya," jawab papi Kenzo.
Aulia pun masuk ke ruang kerja dan membawa berkas yang bertuliskan kontrak kerja sama dengan perusahaan KEMBANG MELATI. Saat dia melihat pigura foto ada dua orang pemuda yang sedang menaiki motor dengan setelan baju balapnya. Keduanya tersenyum lebar dengan tangan memegang helm.
Berkas yang ada di tangan Aulia pun jatuh. Tubuh Aulia pun terhuyung karena tiba-tiba terasa lemas. Air matanya meluncur dengan sendirinya.
"Tidak! Ini … tidak mungkin!" Aulia menggelengkan kepala.
__ADS_1
Aulia ingat jelas dengan motor yang sudah menabraknya malam itu. Bahkan nomor plat motor itu sama.
"Aulia, ketemu tidak berkasnya?" tanya Alvan yang datang menyusul.
Aulia menatap Alvan dengan tatapan antara tidak percaya dan benci. Gara-gara laki-laki ini dia harus kehilangan bayinya.
Alvan merasa ada yang aneh dengan Aulia. Dia melihat mata dan bulu mata sang asisten basah, itu tandanya dia menangis.
"Kamu kenapa, Aulia?" tanya Alvan sambil mendekati perempuan yang masih mematung.
"A-pa motor yang dinaiki itu milik Anda?" tanya Aulia dengan mengerahkan semua kekuatan agar bisa bicara.
"Iya. Itu foto aku dan David sebelum aku mengalami kecelakaan dulu," jawab Alvan.
Tubuh Aulia bergetar dengan hebat bahkan dia jatuh ke lantai karena kedua kakinya kehilangan tenaga. Tangannya pun memegang dadanya yang sakit karena sesak. Kejadian malam itu kini berputar lagi dalam ingatannya.
"Aulia ada apa? Kenapa kamu seperti ini?" Alvan mendekati Aulia dan hendak membantunya berdiri.
"Jangan sentuh aku!" bentak Aulia saat Alvan mengulurkan tangannya.
Alvan bisa melihat sorot mata Aulia yang sedang marah dan cenderung ada rasa benci di sana. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Lalu, dia melihat ke arah pigura foto dirinya dan David yang sedang menaiki motor.
"A-pa … kamu adalah …." Wajah Alvan mendadak pucat.
***
Mendekati akhir kisah Aulia, apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya, ya!
Mampir ke karya aku lainnya juga, yuk!
__ADS_1