
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 124
Keadaan kesehatan Alvan pun sudah semakin baik. Sudah satu minggu sama aja Aulia dan Alvan menikah. Selama itu juga mereka tidak di hotel dekat Rumah Sakit Harapan, agar memudahkan perawatan yang sedang dijalani oleh laki-laki itu.
Alvan dan Aulia punya panggilan sayang masing-masing untuk memanggil satu sama lain. Alvan-kun panggilan sayang Aulia kepada Alvan, sedangkan panggilan Alfan kepada Aulia adalah Ananta (Sayang), sama-sama dalam bahasa Jepang.
"Ananta tolong ambilkan baju punya aku!" pinta Alvan kepada Aulia untuk membantu dia membawakan baju ganti karena tadi dia langsung masuk kamar mandi.
Aulia sudah tahu kebiasaan Alvan yang satu ini. Sejak dia menjadi asistennya dulu, laki-laki itu selalu saja lupa membawa baju ganti saat ke kamar mandi.
Saat Aulia memberikan pakaian itu, Alvan dengan sengaja menarik tubuh istrinya agar ikut masuk ke dalam kamar mandi. Tentu saja ini membuat Aulia terkejut dan menjerit seketika.
"Alvan kun apa yang kamu lakukan?" pekik Aulia.
Alvan hanya tertawa terkekeh melihat ekspresi istrinya. Mata Aulia terbelalak saat melihat sang suami tidak memakai pakaian.
"Alvan kun cepat pakai baju kamu!" perintah sang istri sambil membalikan badan.
Akan tetapi Alvan malah memeluk tubuh Aulia dari belakang. Dia mencium pucuk kepala perempuan itu.
"Ananta, apa kamu bulanannya sudah selesai?" tanya Alvan berbisik kepada Aulia.
Ditanya seperti itu membuat Aulia menjadi gugup. Meski ini bukan pertama kali bagi dia melakukan hubungan badan dengan seorang laki-laki, tetapi dia merasa seperti seorang perawan yang akan melakukan malam pertama dengan suaminya untuk pertama kali.
Perempuan itu pun hanya menganggukan kepala. Muka dia sudah sangat marah seperti kepiting rebus, karena merasa sangat malu.
Alvan memilih menggunakan kimono handuk dan membawa Aulia keluar dari kamar mandi. Dia tidak sabar ingin melakukan malam pertama yang tertunda.
"Jadi malam ini kita bisa melakukannya, 'kan?" tanya Alvan dengan senyum lebar.
__ADS_1
"Iya," jawab Aulia sambil tersenyum malu-malu.
Waktu Magrib tiba Alfan dan Aulia sholat berjamaah. Melanjutkan dengan sholat sunat dua rakaat lainnya.
"Apa tidak tanggung waktunya karena jarak Magrib ke Isya sekitar satu jam?" tanya Aulia dengan polos.
Alvan udah tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh seseorang saat melakukan hubungan suami istri. Sementara itu, dia ingin melakukan ritual ibadah pertamanya ini akan memberikan kesan yang mendalam dalam ingatan mereka.
"Baiklah kalau begitu kita lakukan setelah selesai shalat Isya saja," balas Alvan.
Akhirnya mereka memutuskan makan malam terlebih dahulu, sambil menunggu waktu adzan Isya.
Alvan sudah menyiapkan rencana makan malam romantis untuk mereka berdua. Dia sengaja merubah balkon kamar dengan hiasan yang cantik untuk tempat makan malam kali ini. Dia ingin memberikan kejutan untuk istrinya. Terbukti Aulia sangat menyukai acara makan malam yang sudah direncanakan oleh sang suami.
"Apa kamu menyukainya,Ananta?" tanya Alvan dengan kedua tangannya memegang tangan Aulia, kemudian dikecupnya jari-jari lentik milik sang istri.
Pemandangan kota malam dengan balkon yang sudah dihias dengan lampu-lampu dan juga bunga segar, membuat suasana makan malam terasa romantis.
Aulia tahu kalau suaminya sangat senang jika diberi ciuman di bibir. Namun, ciuman lembut itu biasanya akan berakhir dengan ciuman mesra yang bisa membangkitkan gairah mereka.
"Makan yang banyak, Ananta. Aku tidak mau kalau nanti sampai kelaparan," kata Alvan sambil menyuapi Aulia.
Biasanya Aulia yang menyuapi Alvan, tapi kali ini sebaliknya. Laki-laki itu ingin menjadikan istrinya itu ratu dalam hidupnya. Namun, setiap kali ada bumbu masakan yang menempel di bibir atau di dekat bibir, Alvan akan membersihkan dengan mencium dan menjilatinya. Ini membuat tubuh Aulia terasa panas dingin.
'Aduh, kenapa sekarang aku yang mudah jatuh pada pesona Alvan.' (Aulia)
Sementara itu, Alvan selalu tersenyum senang jika melihat pipi Aulia marona. Bahkan mereka pun minum dalam satu gelas padahal ada dua gelas di sana.
Setelah acara makan malam sudah selesai dan Aulia duduk bersandar pada dada Alvan, terdengar suara adzan isya dari kejauhan. Tentu saja ini membuat Alvan senang.
"Ayo, Ananta!" Alvan menggendong tubuh Aulia dengan gaya bridal style.
"Alvan kun, turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri," ucap Aulia dengan kedua tangan merangkul leher suaminya.
__ADS_1
Akan tetapi, Alvan malah mengecup bibir Aulia agar terdiam. Hasilnya terbukti, perempuan itu pun langsung terdiam.
Keduanya pun shalat Isya berjamaah dan dilanjutkan dengan shalat sunat. Setelah selesai, Aulia meminta izin terlebih dahulu untuk mengganti pakaian. Dia ingin berpenampilan terbaik malam ini untuk membuat suaminya senang.
Aulia membawa pakaian hadiah dari Ning Annisa. Sebuah lingerie berwarna merah yang menampilkan semua bagian tubuhnya di balik kain tipis itu. Selain itu dia suka memakai wangi-wangian yang harus juga memakai make up tipis dan menambah aura kecantikan dirinya.
"Aulia, kamu bisa memberikan yang terbaik untuk suamimu," kata perempuan itu kepada diri sendiri.
Sementara itu, Alvan yang berada dalam kamar merasa sangat gugup sampai keluar keringat di sekujur tubuhnya. Untuk mengurangi rasa kegugupan itu Alvan berjalan mondar-mandir.
Begitu kamar mandi dibuka dan menampilkan sosok Aulia yang baru pertama kali dilihat oleh Alvan. Membuat laki-laki itu diam bagai patung. Mereka sudah menikah selama satu minggu ini pertama kalinya Alvan melihat tubuh Aulia.
'Masya Allah, itu tubuh manusia?' (Alvan)
Laki-laki itu menelan air liurnya saat melihat bentuk tubuh milik Aulia. Ternyata istrinya itu mempunyai bentuk tubuh yang sangat indah, apalagi di bagian-bagian tertentu dan itu disukai oleh kaum laki-laki.
Aulia berjalan mendekat ke arah Alvan, karena suaminya hanya diam terpaku dan menatap ke arahnya tanpa berkedip. Sebenarnya dia sangat malu sekali berpenampilan seperti ini. Namun, dia harus melepaskan dulu rasa malu itu saat berduaan dengan suaminya. Apalagi saat ini dia akan melayani sang suami.
"Ada apa?" tanya Aulia dengan tatapan penuh tanya.
"Ananta, kamu cantik dan menggoda sekali malam ini," jawab Alvan dengan jujur.
"Apa suamiku ini menyukainya?" tanya Aulia dengan senyum malu-malu.
"Iya, tentu saja aku sangat menyukainya sekali," jawab Alvan.
***
Pengantin baru sudah siap akan melakukan malam pertama mereka 🙈😍. Apakah mereka akan melewati malam yang panas seperti pasangan lainnya? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.
__ADS_1