
Teman-teman baca sampai selesai ya, terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan.
***
BAB 27
Terdengar suara salam seseorang di depan rumah. Kakek Yusuf pun membukakan pintu untuk melihat tamu yang datang malam-malam.
"Assalamu'alaikum, Pak Ustadz," salam Mang Jalil.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas kakek Yusuf.
"Pak Ustadz, tolong anak saya! Ima badannya panas dan kejang-kejang, harus dibawa ke rumah sakit," pinta Mang Jalil.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, ayo cepat! Kita harus bawa ke rumah sakit," kata kakek Yusuf. Dia pun meminta Aulia untuk membawa anaknya mang Jalil ke rumah sakit.
Aulia, kakek Yusuf, mang Jalil, bi Imamah, dan Ima menaiki mobil sedan untuk menuju rumah sakit. Sementara itu, nenek Halimah menjaga kedua anak mang Jalil lainnya di rumah.
***
Berselisih jalan, Fathir dan Annisa pun mengunjungi rumah kakek Yusuf. Mereka sudah mengucapkan salam, tetapi tidak ada yang menjawab. Padahal lampu ruang depan masih menyala.
"Assalamu'alaikum, Ustadz Yusuf." Kali ini Fathir agak nyaring suaranya saat memberikan salam. Dia menduga kalau orang-orang penghuni rumah sedang berada di dapur.
"Sepertinya mereka sedang keluar. Tidak ada siapa-siapa di rumah ini. Mobil milik Aulia juga tidak ada," kata Annisa.
"Mas juga sudah tiga kali mengucapkan salam. Nanti kita kembali lagi ke sini," ucap Fathir dengan lirih dan tatapan nanar ke arah pintu.
"Ya, mungkin mereka ada suatu keperluan sebentar di luar rumah," ujar Annisa. Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan rumah kakek Yusuf.
***
Anak mang Jalil dan bi Imamah segera mendapatkan penanganan begitu sampai ke IGD. Kedua orang tua bocah itu masih belum bisa tenang. Kondisi Ima juga belum diketahui. Aulia membeli air teh manis dan memberikan kepada mereka. Apalagi malam ini sangat dingin.
"Mang Jalil … Bi Imamah, ini minum dulu air teh hangatnya! Tenanglah, dokter dan perawat sedang mengobati Ima. Insha Allah semuanya akan baik-baik saja," kata Aulia.
"Terima kasih, Aulia," ucap bisa Imamah.
__ADS_1
Dokter pun mengatakan kalau Ima sudah dalam keadaan membaik. Untungnya tadi saat di rumah sudah mendapatkan pertolongan pertama. Ima pun dipindahkan ke ruang rawat inap.
"Mang Jalil … Bi Imamah, saya permisi dulu mau pulang. Kakek Yusuf juga terlihat sudah lelah, beliau harus istirahat di rumah," kata Aulia pamit kepada pasangan suami istri itu.
"Terima kasih, ya, Aulia. Semoga Allah membalas kebaikan kamu dan Ustadz Yusuf," ucap mang Jalil.
"Hati-hati di jalan, ya." Bi Imamah memeluk tubuh Aulia dengan terisak. Betapa dia malu karena dulu pernah memfitnahnya. Namun, saat ini justru Aulia yang menolong dan membantu pengurusan administrasi tadi.
"Iya, terima kasih. Saya pamit, assalamu'alaikum," ucap Aulia.
"Wa'alaikumsalam," balas kedua orang itu.
***
Aulia dipersetiga malam kembali bermunajat kepada Sang Khalik. Tuhan yang menciptakan makhluk secara berpasang-pasangan. Dia menginginkan keridhoan dan keikhlasan dalam dirinya dengan apa yang terjadi dalam hidupnya.
"Ya Allah, Engkaulah yang membolak-balikkan hati. Aku titipkan rasa cintaku ini kepada-Mu. Jangan biarkan aku mencintai makhlukmu, melebihi rasa cintaku kepada-Mu. Hadirkanlah kembali cintaku untuk lawan jenisku di hati ini hanya untuk laki-laki yang menjadi suamiku kelak. Jangan biarkan dosa yang lalu, kembali menimpa diriku. Ampunilah aku, Ya Allah." Air mata Aulia begitu deras keluar dari matanya.
Aulia teringat kembali dengan ucapkan kakek Yusuf semalam saat mereka pulang dari rumah sakit. Perkataan yang membuat hatinya bergetar dan air matanya tumpah kembali.
"Aulia, tahukah kamu? Cinta itu ibarat mata air yang selalu mengalirkan kesegaran kepada jiwa yang dahaga. Oleh karena itu, agar cinta selalu terjaga kesuciannya, tumbuh berkembang secara baik, hendaknya seseorang mengetahui cara merawatnya," kata kakek Yusuf yang duduk di kursi jok samping.
"Aulia tidak tahu, Kek," balas Aulia jujur.
"Saat ini masalah yang sedang membelit dirimu adalah cinta kepada sesama manusia. Adapun cara merawat cinta itu adalah, pertama, meluruskan niat. Agar cinta berbuah ibadah, sucikan niat dalam bercinta karena Allah SWT semata," ucap kakek Yusuf dan Aulia pun mengangguk.
"Kedua, mencintai secara proporsional. Nabi SAW pernah berpesan, 'Cintailah kekasihmu sekadarnya saja, karena boleh jadi suatu hari nanti dia akan menjadi sesuatu yang kamu benci; dan bencilah sesuatu yang tidak kamu sukai sekadarnya saja, karena boleh jadi suatu hari nanti dia akan menjadi sesuatu yang kamu cintai'," kata kakek Yusuf lagi.
Aulia membenarkan hal ini. Dulu dia begitu tergila-gila kepada Rangga. Sehingga rela memberikan kehormatannya. Namun, saat laki-laki itu tidak bertanggung jawab, membuat dia membenci dirinya.
"Ketiga, mengokohkan cinta dengan doa. Nabi SAW mengajarkan, 'Ya Allah, sesungguhnya aku memohon anugerah cinta-Mu, dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu, serta usaha yang dapat mengantarkan aku kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu sesuatu yang paling aku senangi.' Dengan demikian, jika cinta terawat dengan baik, kesucian cinta seseorang akan tetap terjaga sehingga ia terbebas dari kungkungan cinta yang menyengsarakan," jelas kakek Yusuf.
"Terima kasih, Kek. Kini pikiran Aulia terasa lebih terbuka lagi," jujur Aulia dengan linangan air mata.
"Jagalah cinta di hati kamu untuk laki-laki yang pantas untuk mendapatkannya," pinta kakek Yusuf dan Aulia pun mengangguk
flashback off.
__ADS_1
***
"Assalamu'alaikum," salam Aulia ketika ada nomor asing menghubunginya.
^^^"Wa'alaikumsalam. Apa benar ini dengan keluarga kakek yang bernama Yusuf Abdullah Rahman," kata si penelepon dengan suara bergetar dan terisak.^^^
"Iya, benar. Saya cucunya, Aulia. Anda siapa?" tanya Aulia.
^^^"Saya adalah orang yang sudah menabrak kakek Anda. Sekarang sedang berada di rumah sakit," jawabnya dengan tergugu.^^^
"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Bagaimana keadaan kakek saat ini?" tanya Aulia dengan berderai air mata.
^^^"Beliau masih mendapatkan penanganan oleh dokter. Saya bisa menghubungi Anda karena menemukan KTP dan ponselnya di dalam saku celananya," jujur orang itu.^^^
"Baiklah, saya akan ke rumah sakit sekarang!" Aulia pun bergegas memberi tahu nenek Halimah dan mereka pun pergi ke rumah sakit.
Lagi-lagi untuk kedua kalinya Fahir mendatangi rumah kakek Yusuf, sebelum waktu Dzuhur. Dia datang bersama Kiai Akbar dan Nyai Khadijah. Mereka tidak tahu kalau saat ini kakek Yusuf mengalami kecelakaan dan di rumah sakit.
"Bagaimana ini Umma? Batas waktu yang di minta Kiai Rojaq adalah ba'da Dzuhur," tanya Fathir.
"Coba telepon lewat ponselnya!" titah Nyai Khadijah.
"Sudah, tapi tidak diangkat juga," balas Fathir.
"Sudahlah, Allah tahu apa yang terbaik untuk kamu," ucap Kiai Akbar dengan tatapan sendu kepada putra keduanya.
***
Hari-hari pun berganti, Aulia sibuk mengurus kakek Yusuf yang dirawat di rumah sakit. Kaki kakek Yusuf mengalami patah tulang ringan. Mengharuskan dia banyak istirahat dan jangan berlari dulu. Aulia dan Nenek Halimah berjaga bergantian siang dan malam.
Kabar kecelakaan yang menimpa kakek Yusuf pun sudah tersebar sehari setelah kejadian. Banyak kenalan kakek Yusuf yang datang menjenguk ke rumah sakit.
Hanya keluarga ndalem yang belum datang menjenguk. Itu karena mereka sedang berada di kota sebelah. Lebih tepatnya di Pesantren Darussalam.
***
Semoga kakek Yusuf segera sembuh. Apa yang akan terjadi dengan hubungan Aulia dan Fathir kedepannya? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1