Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2. Bab 139. Dua Gundukan Tanah Merah


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 139


Kakek Yusuf dan Nenek Halimah dikebumikan di desa Sukacita, di samping makam kedua putra kembarnya. Tanah merah yang menggunung tanpa adanya bunga atau apa pun atasnya, hanya ada batu saja yang menjadi penanda di atas kuburannya. Aulia tiada berhenti menangis semenjak dia tersadar dari pingsannya. Kedua tangannya menyentuh tanah berwarna merah dan menggenggam sekepalan.


"Kakek … Nenek, semoga kita bisa berkumpul kembali kelak di akhirat. Carilah aku nanti … aku ingin bisa bersama-sama lagi dengan kalian berdua nanti," ucap Aulia dengan suaranya yang parau karena kebanyakan menangis.


"Ananta, kita pulang. Ini sudah sore, tidak baik untuk kesehatan kamu dan bayi kita," ajak Alvan sambil merangkul bahu istrinya.


"Aku ingin pulang ke rumah Kakek dan Nenek," pinta Aulia dan Alvan pun menyanggupinya.

__ADS_1


Terlihat wajah Alvan yang kelelahan, karena dia yang mengurus segalanya tadi, dibantu oleh Rangga dan Rafael. Bahkan Papa Regan meminjamkan helikopter miliknya untuk membawa jenazah Kakek Yusuf dan Nenek Halimah ke kampung Sukacita. Pihak Kiai Akbar langsung menjemput kedatangan mereka di tanah lapang miliknya dan membawa kedua jenazah itu ke pesantren.


"Nak, yang sabar, ya. Insha Allah tempat terbaik untuk Ustadz Yusuf dan Ustadzah Halimah sudah Allah siapkan untuk mereka," ucap Bu Nyai Khadijah sambil memeluk Aulia.


Wajah Aulia terlihat pucat dan layu. Bahkan dia tidak bisa makan. Setiap makanan atau minuman yang masuk ke dalam mulutnya pasti dimuntahkan lagi, seakan tubuhnya itu menolak. Maka, mau tidak mau Aulia harus menjalani perawatan. Alvan memanggil dokter dan meminta menginfus sang istri agar kesehatan dirinya dan bayi mereka baik-baik saja.


"Ning Annisa, sedang apa di sini? Ini sudah tengah malam," tanya Aulia.


"Aku akan menginap di sini dan menemani kamu ngobrol," kata Ning Annisa dengan senyum tipisnya.


Semua harta peninggalan Kakek Yusuf dan Nenek Halimah di wakaf-kan untuk kemajuan umat dan demi menegakkan agama Islam. Aulia ingin harta peninggalannya itu bisa menambah pahala untuk keduanya. Buku-buku di perpustakaan milik Kakek Yusuf pun di berikan ke pesantren agar bisa dimanfaatkan oleh para santri yang sedang mencari ilmu. Ladang-ladang dikelola oleh pihak pesantren dan hasilnya akan diberikan kepada warga yang kurang mampu atau pun musafir. Di sini pihak pesantren bekerjasama dengan badan amal zakat agar bisa menyalurkan sedekah dari harta milik Kakek Yusuf. Rumahnya juga bisa dipakai oleh orang-orang yang singgah sementara waktu, atau tamu pesantren. Setidaknya tidak ada yang akan memberatkan Kakek Yusuf dan Nenek Halimah, kelak di akhirat atas pertanggungjawaban hartanya.


***

__ADS_1


Dua bulan sudah berlalu semenjak meninggalkannya Kakek Yusuf dan Nenek Halimah. Meski begitu, kesedihan masih dirasakan oleh Aulia. Dia selalu kesulitan melupakan rasa kesedihan saat ditinggalkan oleh orang yang berarti dalam hidupnya. Saat ditinggalkan oleh ibunya saat masih kecil, ditinggalkan oleh bapaknya saat masih remaja, ditinggalkan oleh Ahmad saat ingin mewujudkan impiannya, dan kini oleh kedua orang berarti dalam hidupnya. Orang yang sudah menuntunnya pada cahaya indahnya Islam.


Saat sedang mengaji Aulia merasakan bayi di dalam perutnya bergerak terus dan membuatnya linu. Dia pun mengusap-usap perutnya sambil bersholawat. Hal yang sama dia rasakan juga, ini terjadi dua hari yang lalu dan dokter bilang itu kontraksi palsu.


Akan tetapi kali ini dia merasakan sakit yang teramat sangat. Lalu, dia pun membaca doa, "Allahumma as aluka husnal khuluqi wa haunat thalqi, ya kholiqan nafsi minan nafsi, ya mukhollisan nafsi minan nafsi, ya mukhrijan nafsi minan nafsi khallisni." (" Ya Allah, Aku meminta kepada-Mu diberikan perangai yang baik dan kemudahan melahirkan. Ya Allah Yang Maha Menciptakan janin, Yang Mempermudah keluarnya janin, Yang Mengeluarkan janin dari rahim ibunya. Permudahlah proses persalinanku.")


Alvan sedang pergi ke masjid dan biasanya kembali setelah berjamaah Isya. Sebab, di saat waktu seperti ini dia bisa berinteraksi dengan para tetangga. Dia juga tidak pernah membawa handphone miliknya.


***


Apakah Aulia dan bayinya akan selamat? Atau akan syahid? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.

__ADS_1



__ADS_2