
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan.
***
Bab 31
"Assalamu'alaikum," salam seseorang sambil mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam," balas Aulia begitu membukakan pintu.
"Maaf, kopiah saya tertinggal," kata Iqbal dengan perasaan malu.
"Oh, silakan masuk," ucap Aulia membuka lebar pintunya.
Kopiah milik Iqbal ada di tempat yang tadi Iqbal duduki. Dia pun langsung mengambil dan memakainya.
"Aulia, terima kasih sudah mau menerima Ahmad. Dia adalah laki-laki baik hati, penyabar, dan penyayang. Insha Allah, dia pasti akan berusaha untuk selalu membahagiakan dirimu. Aku senang kamu mau menerima kekurangan yang ada pada sahabatku itu. Semoga kalian benar-benar berjodoh," kata Iqbal sebelum pamit.
Aulia pun yakin kalau Ahmad adalah orang yang sangat baik. Cara pemuda itu menatap dirinya, bukan tatapan menghina atau merendahkan. Justru tatapan penuh kekaguman. Begitu juga dengan dirinya. Dia melihat Ahmad adalah lelaki hebat, idaman dirinya. Lelaki yang memiliki iman, ilmu, adab, dan berakhlak. Ahmad juga punya penghasilan yang halal untuk membiayai hidup keluarganya nanti.
***
Fathir mondar-mandir di ruang tamu. Pikirannya kini dipenuhi pembicaraan antara Aulia dan Annisa tadi siang. Keduanya membicarakan Aulia yang melakukan ta'aruf dengan Ahmad, senior Fathir. Dia tahu Ahmad adalah laki-laki yang sangat baik dan pantas untuk dijadikan seorang suami. Namun, hati kecilnya merasa tidak rela kalau melihat Aulia dengan laki-laki lain.
"Fathir lupakan Aulia, biarkan dia bahagia dengan laki-laki pilihannya," gumam Fathir sambil memejamkan mata.
"Sampai kapan Gus Fathir bisa melupakan Aulia?" Ning Aliyah sudah berdiri di dekat suaminya.
"Sepertinya aku tidak bisa melupakan dirinya seumur hidupku," balas Fathir.
__ADS_1
Fathir baru tahu kebenaran dibalik penyebaran gosip tentang Aulia dahulu. Ternyata itu adalah ulah salah seorang kerabat jauh dari keluarga Kiai Rojaq yang menikah dengan salah seorang kerabatnya. Orang itu sengaja menyebarkan tentang Aulia baik dilingkungan pesantren maupun lingkungan warga. Tentu saja alasannya agar Aulia tidak bisa menjadi istrinya. Padahal orang tua dan para tetua keluarganya sudah bisa menerima Aulia meski dengan syarat.
Sekarang Fathir tahu kenapa pihak keluarga Kiai Rojaq begitu terburu-buru ingin menikahkan Ning Aliyah dengan dirinya. Ternyata ada rencana dari putra pemilik pesantren lain yang ingin mengkhitbah Ning Aliyah saat itu. Sungguh dia sangat kesal sekali, dirinya menjadi korban rencana orang lain.
"Apa Gus Fathir sadar kalau ucapan barusan sudah melukai hati saya?" Ning Aliyah menatap tajam dengan mata yang berkaca-kaca.
"Perbuatan keluarga kamu jauh lebih menyakiti hatiku," balas Fathir lalu pergi meninggalkan istrinya.
Ning Aliyah menangis, dia tahu kalau keluarganya sudah merencanakan semua ini. Dirinya juga lebih memilih Fathir dari pada laki-laki yang dulu kakeknya rencanakan untuk menjadi suaminya. Sebab, dilihat dalam segi apapun Fathir jauh lebih baik dari laki-laki itu.
***
"Kakek, maaf ada yang mau aku tanyakan mengenai Mas Ahmad," kata Aulia setelah selesai makan malam.
"Apa itu?" tanya kakek Yusuf.
"Tadi Mas Ahmad tanya apa nggak apa-apa kalau mas kawinnya rumah beserta isinya. Terus Aulia bilang jangan terlalu berlebihan, semampunya Mas Ahmad saja. Kata Mas Ahmad, itu sudah dia rencanakan dari dulu kalau ingin memberikan mahar seperti itu," jawab Aulia merasa tidak enak hati.
"Masalahnya Kek, rumah itu adalah rumah mewah dan besar. Isinya juga barang-barang mewah. Ada mobilnya juga. Aulia merasa tidak pantas mendapatkan mahar yang seperti itu. Itu sangat berlebihan bagi Aulia, Kek," ujar Aulia.
"Darimana kamu tahu itu rumah mewah?" tanya kakek Yusuf.
"Mas Ahmad mengirimkan video rumah itu. Katanya jika ada yang kurang bilang saja, dia akan melengkapinya," jawab Aulia sambil menyerahkan handphone miliknya yang memutar video kiriman tadi.
"Ahmad itu bukan orang yang kikir pada siapa pun. Apalagi sama kamu yang merupakan calon istrinya. Pastinya dia ingin memberikan yang terbaik untuk kamu, Aulia," kata kakek Yusuf.
"Jadi, apa Aulia harus menerima rumah itu sebagai maharnya nanti?" tanya Aulia.
"Terima saja. Buat calon suami kamu senang, karena apa yang dia rencanakan bisa berjalan lancar," ucap kakek Yusuf sambil tersenyum.
__ADS_1
***
Kedatangan Annisa ke rumah kakek Yusuf pagi-pagi sekali membuat Aulia terkejut. Dia tidak menyangka sahabat baiknya akan datang bertamu.
"Ada apa Ning, pagi-pagi sudah datang bertamu?" tanya Aulia.
"Aulia, apa kamu tahu kalau Ustadz Azka sudah dinikahkan oleh kakaknya di kampung halamannya. Aku marah, aku sakit hati," ucap Annisa menangis dalam pelukan Aulia.
"Sabar, Ning. Ini sudah takdir, kita hanya bisa berencana, Allah-lah yang menentukan," kata Aulia.
"Aku tidak habis pikir, kata Ustadz Azka dia pulang karena kakaknya sakit. Tapi, nyatanya dia menikah di sana," ucap Annisa dalam isak tangisnya.
"Yakinlah, kalau Allah akan memberikan jodoh yang terbaik buat kita," ujar Aulia sambil mengusap punggung gadis malang yang sedang patah hati itu.
Annisa menangis cukup lama dan dia pun bisa tenang setelah kakek Yusuf menenangkannya. Setelah itu dia baru pulang ke ndalem.
Sebagai seorang teman, tentu saja Aulia juga ikut sedih. Annisa sudah lama menyukai Ustadz Azka, begitu juga sebaliknya, tetapi takdir mereka bukan untuk menjadi pasangan suami istri.
***
Meski Ahmad dan Aulia sudah memutuskan untuk menjalin hubungan pernikahan, pemuda itu hanya sekali mengunjungi rumah kakek Yusuf. Dia takut menjadi fitnah di antara mereka. Kalau ada apa-apa yang menjadi perantaranya adalah kakek Yusuf atau nenek Halimah. Rencananya pernikahan mereka akan digelar tiga bulan-an lagi. Meski Ahmad memiliki banyak uang dan tidak keberatan jika mengadakan pesta pernikahan yang mewah. Aulia memilih menikah dengan sederhana karena yang dibutuhkan adalah doa dari orang-orang yang mengenal mereka. Akhirnya, mereka memutuskan akan mengadakan resepsi pernikahan di rumah kakek Yusuf.
"Kek, apa Mas Ahmad akan mengundang kerabatnya?" tanya Aulia ketika sedang menuliskan nama-nama tamu yang akan diundang.
"Setahu kakek, dia sudah tidak punya keluarga lagi. Ahmad itu terlahir dari keluarga baik-baik, hanya saja nasib mereka memiliki umur yang pendek. Buyutnya Ahmad adalah seorang pejuang yang meninggal saat mempertahankan kemerdekaan negeri ini. Kakeknya juga meninggal saat terjadi pemberontakan oleh kaum komunis, lalu bapak, ibu, dan adiknya meninggal karena kecelakaan yang disengaja oleh saingan bisnisnya. Padahal mereka adalah orang baik yang selalu menbelanjakan hartanya di jalan Allah. Mereka bukan orang yang gila harta atau silau akan gemerlap kehidupan dunia," jelas kakek Yusuf.
"Maaf, Kek. Apakah matanya Mas Ahmad juga akibat dari kecelakaan itu?" tanya Aulia. Selama ini dia tidak pernah bertanya akan hal itu. Bagi Aulia Ahmad adalah lelaki sempurna, tipe idaman dirinya.
***
__ADS_1
Apakah mata Ahmad karena kecelakaan atau bukan? Tunggu kelanjutannya, ya!
Teman-teman maaf ya, up terlambat karena aku ngetik lama dan sedikit-sedikit karena kondisi tubuh yang sedang tidak fit. Insha Allah, jika sudah sembuh akan seperti semula lagi. Terima kasih atas dukungan kalian selama ini. ❤️❤️❤️