Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 97. Nasehat Kakek Yusuf & Nenek Halimah


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 97


Jantung Alvan berdetak sangat kencang saat ini. Padahal berhadapan dengan Kakek Yusuf dan Nenek Halimah hampir setiap hari. Namun, saat dirinya ingin membicarakan sesuatu yang penting mendadak menjadi gugup.


Bukan hanya Alvan saja yang gugup perasaannya saat ini, begitu juga dengan Aulia yang tangannya mendadak dingin dan berkeringat. Perempuan itu malah merasa ada perasaan takut kalau keinginan mereka berdua ditolak.


"Jadi, hal penting apa yang ingin kalian berdua bicarakan dengan kamu?" tanya Kakek Yusuf sambil menatap kedua anak manusia yang ada di depannya.


Aulia dan Alvan saling melirik sekilas. Namun, bagaimanapun juga mereka harus membicarakan ini.


"Aku ingin meminang Aulia," jawab Alvan.


Kakek Yusuf melihat ke arah Aulia, dia ingin melihat bagaimana reaksi anak angkatnya itu.


Aulia terlihat menganggukkan kepala. Tanda kalau dia sudah menentukan pilihan, siapa yang akan menjadi pendamping dalam hidupnya.


"Apa kamu siap menjadi seorang imam bagi Aulia dan keluarganya nanti?" tanya Kakek Yusuf.


"Insha Allah, siap, Kek," jawab Alvan tanpa ragu-ragu.


"Lalu, apa kamu siap menjadi seorang suami yang akan melindungi dan menjaga Aulia?"


"Insha Allah, siap. Akan aku menjaga, melindungi, dan membimbingnya sampai maut memisahkan kita."


"Apa kamu tidak akan pernah berbuat kasar kepada Aulia? Baik itu pada fisik ataupun hatinya?" 


"Insha Allah, aku tidak akan pernah melukai atau menyakiti hati dan tubuhnya."


Kakek Yusuf dan Nenek Halimah pun tersenyum ikut bahagia. Kini gadis itu sudah bisa membuka hati lagi untuk laki-laki yang lain. Sudah beberapa tahun ini perasaan Aulia terperangkap oleh pesona Ahmad, sehingga sulit sekali baginya untuk bisa menerima pinangan dari laki-laki lain.


"Buatlah Aulia bahagia dengan berada di sisimu!" pinta Nenek Halimah.


"Insha Allah, itu yang selalu ingin aku lakukan untuknya," balas Alvan dengan segenap hati.

__ADS_1


Mendengar perkataan Alvan, kedua orang tua itu dan Aulia merasa sangat bahagia. Setidaknya dengan itu mereka merasa tenang.


"Kakek hanya akan memberikan nasehat kepada kalian seperti apa yang dinasehatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad," kata Kakek Yusuf.


"Ini mungkin sudah Aulia tahu, karena dulu kami sudah memberi tahu kepadanya. Tidak ada salahnya untuk mengingatkan kembali," lanjut laki-laki tua itu dan Aulia pun mengangguk.


Dalam pernikahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah, Rasulullah SAW memberikan khutbah berisi tuntunan, pandangan, dan wejangan mengenai pernikahan.


Pertama, pernikahan adalah kuasa Allah. Semua yang ada di alam semesta ini tidak terlepas dari kuasa Allah SWT, termasuk pernikahan.


“Dialah yang yang menciptakan makhluk dengan kekuasaan-Nya. Dialah yang menerangi jalan hambanya dengan ketetapan-Nya,” kata Rasulullah saw dalam khutbah pernikahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah.


Dalam pernikahan, Allah SWT telah membuat sebuah ketetapan. Jika pasangan suami istri mengikuti yang telah ditetapkan-Nya, pernikahan akan langgeng dan bahagia, begitupun sebaliknya.


Kedua, sarana memperoleh keturunan. Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW menyeru kepada umatnya untuk menikah dengan perempuan yang subur, agar dapat mempunyai keturunan.


Tapi yang terpenting bukan hanya memperoleh keturunan atau anak yang banyak, tetapi juga bisa mendidik dan berusaha membentuk generasi yang beriman, bertakwa, dan berilmu.


"Engkaulah yang Maha Tinggi dan Maha Mulia telah menjadikan perkawinan sebagai sarana memperoleh keturunan,” sambung Rasulullah SAW dalam khutbah pernikahan Fatimah.


Sesungguhnya pernikahan dalam Islam tidak hanya melibatkan dua individu (mempelai laki-laki dan perempuan), tetapi juga keluarga besar kedua belah pihak. Umumnya, setelah sah menikah, dua keluarga besar akan memiliki ikatan yang kuat.


Nasehat Rasulullah SAW mengenai pernikahan adalah petunjuk paling sempurna. Dengan mengikuti atau mengamalkan nasehatnya, kesehatan akan terpelihara, kenikmatan dan kesenangan jiwa menjadi sempurna serta tujuan dari pernikahan bisa tercapai.


Alvan mendengarkan perkataan Kakek Yusuf dengan baik-baik agar jangan sampai ada yang terlewatkan. Dia ingin menjadi seorang imam yang baik bagi Aulia dan keluarganya nanti.


"Nenek juga ingin menambahkan beberapa nasehat kepada kalian," lanjut wanita tua bergamis hitam itu.


"Boleh, Nek. Beri tahu kepada kami nasehat apapun itu. Agar kami tidak salah dalam melangkah saat membangun rumah tangga nanti," kata Alvan dengan penuh antusias.


Melihat reaksi calon suami Aulia, membuat Kakek Yusuf dan Nenek Halimah tertawa kecil. Mereka senang karena Alvan benar-benar ingin membangun bahtera rumah tangga dengan anak didik mereka yang sangat disayanginya.


"Agar mendapatkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Islam memandang bahwa pernikahan adalah sesuatu yang luhur dan sakral, bernilai ibadah kepada Allah subhanallahu wa ta'ala, dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa salam. Ini juga dilaksanakan atas dasar keikhlasan, tanggung jawab, dan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum yang ada.


"Pertama, niatkan menikah untuk ibadah. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menata niat menikah untuk ibadah. Penting untuk selalu diingat bahwa diri dan pasangan adalah manusia dengan segala kekurangannya, bukan malaikat yang tanpa cela.


Selanjutnya, adanya penekanan bahwa kewajiban suami adalah bekerja mencari nafkah. Pasalnya, bekerja merupakan wujud rasa syukur atas karunia Allah SWT. Bekerja adalah proses menjemput rezeki. Apabila tercapai hasil usahanya, maka itu ada hubungannya dengan takdir karena berkaitan dengan yang dilakukan. Apabila kurang puas dengan hasilnya, maka ada keharusan untuk merasa qana’ah."

__ADS_1


Qana'ah adalah suatu sikap rela menerima dan selalu merasa cukup dari usaha yang dilakukan, serta menjauhkan diri dari rasa tidak puas.


"Kedua, saling berkomunikasi. Kalian harus saling berkomunikasi dengan halus dan santun. Setiap kali berbicara, maka ucapkanlah dengan cara yang baik.


Jika suami dan istri dapat berkomunikasi dengan baik, ini akan meminimalisir kesalahpahaman dalam rumah tangga. Tidak hanya itu, kebiasaan baik ini juga akan dicontoh oleh anak-anaknya.


Jangan lupa, kalian juga harus komitmen untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan hak-hak yang telah diwajibkan atas dirinya kepada pasangannya.


Allah SWT kembali berfirman: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 228)"


Hati Aulia dan Alvan semakin bergetar. Dada mereka bergemuruh dan aliran darah dalam tubuh terasa mengalir dengan cepat. Betapa bahagianya kedua calon pengantin ini mendapatkan wejangan seperti ini dari orang yang menyayangi mereka.


"Aulia, kamu tahu betapa sayang kami kepadamu. Nenek hanya bisa memberikan beberapa kata yang mungkin akan berguna bagi kehidupan kamu kelak dalam membina rumah tanggamu," ucap Nenek Halimah sambil menatap gadis itu dengan mata yang sendu.


Aulia pun mengangguk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia sangat merasa terharu akan pengakuan wanita tua yang disayangi olehnya juga.


"Ketahuilah bahwa kebahagiaanmu itu sangat berhubungan dengan kebahagiaan suamimu. Karena itu, hendaklah kamu waspada terhadap konflik pertama yang sangat mungkin terjadi dengan suamimu. Dan konflik tersebut sangat berpotensi untuk berlanjut hingga tiada pernah berakhir.


Patuhilah suamimu semampumu. Hindarilah pembicaraan-pembicaraan yang mengolok-olok dan mengejek, serta perbincangan-perbincangan yang tidak layak didengarkan.


Hendaklah kamu takut dan menghindarkan diri dari kecemburuan karena cemburu merupakan pintu gerbang menuju perceraian.


Hendaklah kamu takut dan menghindarkan dari banyak mencela karena celaan itu berpotensi melahirkan kemarahan.


Banyak hal kecil yang lebih baik daripada beberapa hal besar. Hal kecil yang manis seperti perhatian kecil yang sering dilakukan lebih baik daripada kado besar di hari anniversary.


Belajarlah untuk mencintai ketidaksempurnaan pasangan. Para pengantin dapat memilih untuk terus berusaha mencapai kesempurnaan yang tidak akan pernah tercapai, atau menerima bahwa setiap orang memiliki keunikannya masing-masing.


Memaafkan kesalahan. Ini adalah yang paling sulit, tetapi menjadi hal yang paling penting. Menurunkan ego dan saling memahami membutuhkan waktu untuk tumbuh, tapi pasangan suami istri memilki banyak waktu untuk berproses bersama.


Kemandirian dan rasa hormat. Penting bagi pasangan untuk saling menghormati dan saling memberi ruang untuk tumbuh dan berkembang sebagai individu. Tentu saja sangat menyenangkan untuk melakukan hal-hal bersama juga. Itu pun akan membuat waktu menjadi lebih manis ketika pasangan memiliki waktu untuk menjadi dirinya sendiri."


Air mata milik Aulia akhirnya jatuh juga. Betapa bahagianya dia mempunyai orang tau angkat yang begitu memperhatikan dirinya. Apa yang Allah ambil darinya dulu, digantikan dengan yang lebih baik. Aulia sudah menganggap kalau Kakek Yusuf dan Nenek Halimah adalah orang tuanya, meski mereka tidak memiliki darah yang sama dengannya. Namun, kasih sayang dan perhatian mereka tidak jauh dari kedua orang tua kandungnya. Bahkan dia merasa Allah itu terlalu baik dan sayang kepadanya dengan menghadirkan orang pengganti kedua orang tuanya.


***


Bagaimana reaksi Gus Fathir saat mendengar kabar ini? 🤧 Dia baru pulang ke Indonesia. Lalu, bagaimana dengan Rangga? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2