Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2. Bab 133. Rangga & Amelia Menikah


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 134


Rangga secepatnya kembali ke Kota Kembang, meski harus pulang dengan pesawat keberangkatan terakhir. Dia ingin ikut menyelesaikan masalah yang terjadi antara Amelia dengan kedua orang tua Noah. Untuk bisa pulang dia rela begadang selama 2 hari 3 malam.


Meski kecelakaan yang dialami oleh Noah tidak ada hubungannya sama sekali dengan Amelia. Niken masih saja meneror gadis itu. Dia tidak mau putra yang sekarang ini mengalami kelumpuhan, masa depannya juga menjadi suram. Setidaknya wanita itu ingin sang anak bisa hidup bahagia bersama dengan wanita yang dia cintai.


"Sebaiknya kita menikah saja sekarang! Meski secara siri terlebih dahulu," titah Mama Shinta dan disetujui Papa Damar.


Rangga tentu saja tidak setuju, karena bagaimanapun juga Amelia adalah seorang gadis dari keluarga terpandang.


"Aku setuju," jawab Amelia.


Rangg sangat terkejut mendengar jawaban dari perempuan itu. Dia tidak menyangka kalau calon istrinya menginginkan hal ini juga.


"Amelia, kamu seharusnya pikirkan baik-baik dahulu. Apa kata para tetangga nanti?" ujar laki-laki berbaju kemeja biru.


"Aku sudah memikirkan semuanya secara matang," balas Amelia.


Ternyata Pak Hasan dan Bu Sari juga setuju jangan pendapat kedua orang tua Rangga. Ini adalah solusi agar Amelia menjadi istri sah dari Rangga, sehingga keluarga Noah tidak bisa memaksanya untuk menikah dengan pemuda itu.


***


Setelah selesai shalat berjamaah Subuh, Rangga dan Pak Hasan mengucapkan ikrar ijab qobul di masjid yang ada di dekat rumah keluarga Amelia. Ada beberapa warga yang ikut menyaksikan proses pernikahan itu.


"Bismillahirrahmanirrahim,"


"Saya nikah dan kawinkan engkau Rangga Putra Abimana bin Damar Abimana dengan putri saya Amelia Rahmania bin Hasan Basri dengan mas kawin sebuah mobil Pajero sport."


"Saya terima nikah dan kawinnya Amelia Rahmania binti Hasan Basri dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

__ADS_1


"SAH!"


"SAH!"


"Alhamdulillah,"


“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.” (Artinya: mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan)


Dikarenakan ini pernikahan serba dadakan, jadinya mas kawin yang diberikan adalah berupa mobil pribadi milik Rangga. Berbeda dengan niat awal yang sudah mereka rencanakan beberapa waktu yang lalu berupa uang tunai. 


"Sayang, mama berikan cincin ini untuk kamu. Pakaikan pada istrimu!" titah Mama Shinta sambil memberikan cincin berlian miliknya yang tentu saja harganya sangat mahal.


"Tapi, Ma." Rangga tahu kalau cincin itu merupakan perhiasan kesukaan mamanya. 


"Mama ridho dan nanti juga akan diberikan kepada istri kamu," lanjut wanita paruh baya bergamis putih.


Akhirnya, Rangga menyematkan cincin berlian itu di jari Amelia. Dikecupnya kening perempuan yang mengenakan gamis dan jilbab berwarna putih. Dia pun mengucapkan doa.


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu kebaikan atas dirinya dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya. Dan aku mohon perlindungan kepadaMu dari kejelekan atas dirinya dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya."


***


"Apa kita pergi ke rumah Amelia, sekarang?" tanya Alvan yang masih berada dalam pangkuan istrinya.


Pulang dari masjid tadi, Alvan seperti biasa akan bermanja-manja pada Aulia. Apalagi jika istrinya itu sedang mengaji, dia akan duduk di sebelahnya. Setelah itu dia akan meletakan kepala di atas paha Aulia sambil mendoakan dan mengajak bicara calon bayi mereka.


"Kak Rangga dan Amelia berharap kita bisa datang ke sana," balas Aulia.


Aulia dan semua keluarganya mendatangi rumah Amelia. Ternyata di sana sudah ramai dengan keluarga setempat yang sedang makan bersama atas undangan Pak Hasan.


"Assalamualaikum, Ning Annisa." Aulia langsung memeluk dari belakang sahabatnya itu yang sedang antri mengambil makanan. Di depannya ada Rafael yang menggandeng tangan perempuan itu.


"Astaghfirullahal'adzim. Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. Aulia kamu mengagetkan aku saja," balas Ning Annisa sambil mencubit pipi Aulia dan membuat tertawa sang sahabat.

__ADS_1


"Yang lagi mesra-mesraan, sampai lupa kalau ada temannya juga akan datang ke sini," sahut Aulia sambil melirik nakal Ning Annisa.


"Ish, iri saja kamu. Tuh, bukannya sekarang sudah punya PakSu, bisa mesra-mesraan juga. Lagian tadinya aku mau main ke rumahmu setelah pulang dari sini," ucap adik dari Gus Fathir.


"Janji, ya! Kamu harus ke rumah aku sebelah dari sini. Karena aku punya banyak cerita yang aku bicarakan kepada kamu," balas wanita hamil muda yang belum kelihatan perutnya membucit.


"Insha Allah. Jadi penasaran apa yang mau kamu ceritakan kepadaku," kata Ning Annisa.


Kedua perempuan itu malah asyik berbicara di pojok yang tidak terlihat oleh orang lain saat mereka sedang makan. Bahkan Rafael dan Alvan duduk agak jauh dari mereka, bersama Kakek Yusuf dan Nenek Halimah.


Alvan belakangan ini makan sangat banyak sekali. Dia bahkan mengambil semua jenis masakan yang disajikan oleh tuan rumah. Di matanya semua makanan itu terlihat enak dan dia ingin memakannya.


"Makan yang secukupnya Alvan," ujar Kakek Yusuf mengingatkan.


"Aku lapar sekali, Kek," balas Alvan dengan malu-malu.


Alvan melihat ada puding di depan Rafael. Dia menelan ludahnya, karena puding yang bertabur potongan buah-buahan itu terlihat segar di matanya.


"Kamu dapat makanan itu dari mana?" tanya Alvan pada pemuda berwajah campuran bule.


***


Alvan ngiler lihat makanan milik Rafael. Kira-kira akan dikasihkan nggak puding itu kepadanya? Bagaimana kisah Aulia dan Alvan dalam menyambut buah hatinya? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya terbaru aku ini. Ceritanya nggak kalah bagus dan seru dari kisah Aulia, loh! Cus meluncur ke novelnya.


"Innallaha ma'ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)"


Rinjani seorang janda kembang dengan 3 anak yang masih kecil. Utang dalam jumlah banyak, rumah yang hampir roboh, dan biaya sekolah kedua anaknya, membuat Rinjani harus banting tulang menjadi buruh serabutan, mencuci dan menyetrika, karena dia tidak punya ijazah untuk melamar pekerjaan. Dibantu oleh anak sulung yang berusia 9 tahun, mereka juga jualan keripik keliling.


Seakan nasib buruk tidak mau jauh darinya, anak bungsunya pun mengidap penyakit leukemia, yang mengharuskan dia melakukan pengobatan rutin. Selain harus menanggung beban membayar hutang, Rinjani juga harus bisa menjaga kehormatannya karena banyak sekali laki-laki yang berusaha untuk menggodanya.


Ditengah-tengah kesulitan keluarga Rinjani ada sosok misterius yang selalu menolong dia dan keluarganya.

__ADS_1


Siapakah orang misterius itu? Kenapa dia selalu menolong Rinjani? Siapa sebenarnya Rinjani?



__ADS_2