
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.
***
Bab 60
Sebuah sepeda motor dengan dua orang yang menaikinya dan melaju mendekati Aulia yang sedang berjalan di pinggir jalan. Orang yang dibonceng menarik tas selempang milik Aulia.
"Jambret!" teriak Aulia sambil berlari mengejar motor.
"Aulia?" Alvan yang sedang duduk di dalam mobil terkejut mendengar teriakan perempuan itu. Dia pun langsung membalikan badan saat melihat Aulia berlari mengejar motor yang sudah menjambret tasnya.
"Hei, kamu mau ke mana?" teriak Alvan saat melihat si sopir ikut mengejar jambret.
"Bukannya akan lebih cepat kalau dikejar pakai mobil," kata Alvan.
Alvan pun mengeluarkan kepala dan berteriak, "Hei, percuma tidak akan terkejar!"
"Jambret!" Aulia berlari sambil berteriak sedangkan motor itu sudah jauh meninggalkannya.
Sebuah motor lain mengejar motor si penjambret dan menendangnya sampai oleng. Motor itu pun jatuh bersama pengendaranya.
Lalu, orang itu pun turun dari motornya dan menghajar kedua orang penjambret itu. Pukulan dan tendangan dia berikan bertubi-tubi pada kedua penjambret itu. Bahkan dia membuka helm dan menggunakan sebagai senjata untuk menghantam kepala kedua orang itu sampai terkapar tidak berdaya.
Aulia yang baru sampai sana pun merasa shock, saat salah seorang penjambret itu bangun dan mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Penjambret itu akan menusuk orang yang hendak menolongnya.
"Awas!" teriak Aulia dengan histeris.
Mendengar teriakan Aulia, orang yang menolongnya itu pun membalikan badannya dan berhasil menahan tangan si penjambret yang memegang pisau lipat. Tangan itu diperintil ke belang sampai pisaunya terlepas. Lalu, dia menendang perutnya pakai lutut dan jatuh tersungkur ke tanah.
Bayangan Ahmad yang tubuhnya penuh luka sayatan kembali terbayang di pelupuk matanya. Seluruh tubuh Aulia mendadak lemas dan akhirnya terjatuh ke tanah. Air matanya kembali mengalir membasahi niqob miliknya. Tubuhnya juga bergetar hebat.
"Nona, Anda kenapa?" tanya sopir yang berhasil mengejar Aulia.
"Panggil polisi!" teriak orang itu.
"Ah. I-ya, baik!" balas si sopir.
"Gus Fathir?" lirih Aulia. Kini, dia bisa melihat orang yang sudah menolongnya.
"Aulia?" Fathir baru sadar jika orang yang sudah ditolongnya itu adalah wanita yang dicintainya.
Fathir pun membantu Aulia bangun dan mendudukkannya di sebuah kursi semen tidak jauh dari sana. Sopir itu kembali dan mengajak Alvan ke sana.
__ADS_1
Alvan merasa tidak suka saat ada laki-laki asing yang begitu dekat pada Aulia. Apalagi saat laki-laki itu memberikan air minum dan Aulia menerimanya. Dia merasa kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa menolong perempuan yang di sukai olehnya itu saat dalam kesulitan.
"Aulia, kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Alvan dengan sorot mata khawatir.
"Tidak apa-apa, Tuan," jawab Aulia.
"Dia, siapa?" tanya Fathir.
"Gus, kenalkan ini Tuan Alvan. Atasan tempat aku bekerja saat ini," ucap Aulia.
"Kamu kenal dengan laki-laki ini?" tanya Alvan balik.
"Tuan, kenalkan dia ini Gus Fathir. Kakaknya Ning Annisa," balas Aulia.
"Apa?" pekik Alvan terkejut.
"Anda juga kenal dengan adikku," ucap Fathir dengan ramah.
"Ya, saat kemarin aku tinggal di rumah Aulia yang ada di kampung. Ning Annisa juga tinggal bersama kami," balas Alvan.
Alvan menatap dengan penuh selidik kepada Fathir. Hal yang sama juga dilakukan oleh Fathir, dia menatap ke arah Alvan.
'Laki-laki yang bisa menjadi saingan aku untuk mendapatkan Aulia. Dia tampan dengan wajahnya teduh dan bercahaya. Pasti dia memiliki ilmu agama yang tinggi. Apa dia dan Ahmad sama? Akan gawat kalau saingan aku memiliki kriteria yang diinginkan oleh Aulia.' Alvan hanya bisa bicara dalam hatinya.
'Ya Allah, kenapa bayangan Mas Ahmad kembali terbayang. Mimpi-mimpi dulu jangan sampai aku alami lagi. Sungguh aku tidak akan sanggup jika harus melihat nasib orang dekat dengan aku seperti Mas Ahmad,' kata Aulia dalam hatinya.
Polisi pun datang dengan cepat dan membawa kedua penjambret itu. Aulia dan Fathir pun diminta keterangan oleh polisi mengenai kejadian tadi.
***
Alvan diam di ruang kerjanya sambil menengadah dan melihat langit-langit yang berukir indah. Dia memikirkan kejadian siang tadi. Gara-gara kakinya tidak bisa berjalan dia tidak bisa menolong Aulia. Alvan pun mengguarkan rambutnya melampiaskan rasa kekesalannya. Lalu, dia mengambil handphone dan menghubungi seseorang.
"Selamat malam dokter. Apa saya bisa melanjutkan kembali terapi yang dulu sempat tertunda?" tanya Alvan menghubungi dokter yang menanganinya dulu.
^^^"Wah, akhirnya Anda mau juga melakukan terapi. Tuan Kenzo pasti sangat senang."^^^
"Iya, papi sangat senang jika aku bisa berjalan kembali."
^^^"Besok bisa datang ke rumah sakit."^^^
"Baiklah. Terima kasih, Dok."
Alvan pun kembali ke kamarnya. Dia mencoba menggerakkan kakinya yang tidak bertenaga itu. Dia memukul kakinya, ada rasa sakit. Kakinya bukan mati rasa, tetapi tidak ada tenaga sama sekali.
__ADS_1
"Ya Allah, semoga saja aku bisa berjalan kembali," ucap Alvan dengan lirih dan penuh harap.
***
Malam ini Aulia tidak bisa tidur. Bayang-bayang sosok Ahmad kembali hadir. Entah kenapa hal ini bisa terjadi lagi setelah dua tahun berlalu tidak pernah terlintas lagi dalam ingatannya. Untuk menghilangkan bayangan buruk itu, Aulia pun berdzikir menyebut nama Allah Sang Pemberi Ketenangan jiwa. Sampai dia pun jatuh tertidur.
'Ini di mana?' batin Aulia berjalan di sebuah taman yang sangat indah. Aulia pun terus berjalan di taman bunga dan berumput hijau, juga banyak pohon yang tumbuh rindang. Sejauh mata memandang hanya ada keindahan dan takjub yang bisa Aulia rasakan.
"Aulia, sedang apa kamu di sini?" Suara seseorang yang tidak asing baginya mengapa ke telinga Aulia.
Aulia pun membalikan badannya. Dia melihat sosok lelaki yang gagah dan berparas tampan dengan wajah yang bercahaya. Tidak ada cacat di sana.
"Mas Ahmad," lirih Aulia dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Ahmad.
"Karena Mas Ahmad sudah meninggalkan aku. Mas Ahmad bilang mencintai aku, tetapi tidak mau menikahi aku. Aku sungguh ingin menjadi istrimu. Menjadi bidadarimu di dunia dan di akhirat kelak." Mata Aulia masih mengalirkan air matanya.
"Seseorang sedang menunggu kamu. Dia menginginkan dirimu untuk menjadi bidadarinya. Lalu, kenapa kamu masih saja di sini? Datangi dia. Dia adalah lelaki yang akan menjadikan kamu Ratu dalam hidupnya." Ahmad bicara dengan suaranya yang halus seperti biasanya.
"Kenapa bukan Mas Ahmad yang menjadikan aku Ratumu?" Aulia maju selangkah dan Ahmad mundur satu langkah.
"Maafkan aku. Itu tidak bisa," ucap Ahmad dengan wajah yang sendu.
"Aku tahu, aku tidak pantas untuk dirimu, 'kan?" Aulia tersenyum miris hatinya merasa sakit.
"Bukan. Justru ada laki-laki yang lebih pantas untuk dirimu dibandingkan diriku. Allah tahu mana yang terbaik buat kamu, Aulia." Ahmad menggelengkan kepalanya.
"Siapa?" tanya Aulia.
"Lihatlah, dia sedang menunggu kamu!" Ahmad menunjuk ke arah sebuah dataran yang lebih tinggi.
Aulia bisa melihat ada seseorang di atas sana, tetapi dia tidak bisa melihat wajahnya. Aulia pun meletakan telapak tangannya di atas alis agar tidak silau penglihatannya. Namun, dia tetap tidak bisa melihat wajahnya.
"Siapa dia, Mas? Aku tidak bisa melihat wajahnya," tanya Aulia.
Tidak mendapatkan jawaban dari Ahmad, Aulia pun membalikan badan dan melihat ke arah tempat Ahmad tadi berdiri. Namun, sosok Ahmad sudah tidak ada di sana.
"Mas Ahmad!" panggil Aulia dengan mengedarkan penglihatannya ke segala penjuru.
***
Apakah Alvan akan bisa jalan kembali? Siapa jodoh Aulia? (ini masih lama kayaknya 😆)
__ADS_1
Tulisan yang aku tebalkan itu dalam mimpi Aulia, ya. Meski kalian bisa membedakannya, tetapi ada juga pembaca yang suka loncat-loncat baca bab-nya. Biar tidak ada kesalahpahaman.