
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 75
Aulia memeluk nenek Halimah, dia menumpahkan rasa sedihnya pada wanita tua itu. Melihat Aulia menangis seperti ini membuat nenek Halimah dan kakek Yusuf merasa kasihan.
"Ini harus menjadi air mata kesedihan yang terakhir untuk bayimu itu, Aulia," ucap kakek Yusuf.
"Iya, Kek. Aulia sudah ikhlas dari dulu, hanya saja kini hati aku sedang sakit luka itu terbuka lagi," lirih Aulia.
"Ini adalah insting seorang ibu yang mengingat kembali anak yang pernah dikandung. Pasti ada rasa rindu akan kehadirannya bersama kita. Nenek tahu bagaimana rasanya seorang ibu yang sudah kehilangan buah hati mereka. Nenek juga kadang menangis saat merindukan kehadiran mereka," kata nenek Halimah.
Seharian itu nenek Halimah dan kakek Yusuf menghibur Aulia dengan kisah-kisah lucu yang pernah mereka alami saat masih muda. Aulia sangat senang mendengar kisah pasangan yang menikah muda karena dijodohkan oleh guru mengaji mereka. Ternyata keduanya itu malu-malu tapi mau.
"Ternyata Kakek Yusuf itu romantis, ya! Aulia tidak menyangka, loh. Aku juga kayaknya bakal suka sama Kakek Yusuf, nih, kalau hidup di zaman saat Kakek Yusuf muda," ucap Aulia.
"Aduh, untung nggak sezaman dengan kamu. Bisa-bisa nenek kalah saingan sama kamu, Aulia," kata nenek Halimah tertawa.
"Justru kakek yang harus bersyukur mendapatkan nenek. Dia itu dulunya kembang desa," timpal kakek Yusuf.
Kesedihan di dalam hati Aulia kini sudah sirna. Luka yang sempat terbuka tadi, kini sudah tertutup rapat oleh kisah cinta nenek Halimah dan kakek Yusuf.
***
Keesokan harinya Aulia pergi bekerja seperti biasa. Dia melakukan semua yang sudah biasa menjadi tugasnya sehari-hari.
Alvan menjadi lebih pendiam dan hanya bisa menatap secara diam-diam Aulia. Dia bingung mau memulai bicara itu harus apa. Dia sudah menceritakan kepada orang tuannya kalau orang yang dulu ditabrak olehnya itu adalah Aulia. Mereka menyuruh Alvan untuk mengabulkan satu permohonan Aulia. Apapun itu dia harus mengabulkannya.
"Aulia," panggil Alvan.
"Iya, Tuan," balas Aulia sambil mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk.
Belum juga Alvan bicara pintu kantornya di ketuk oleh seseorang. Yukari masuk setelah di suruh oleh Alvan.
"Ada apa?" tanya Alvan.
"Ada pak Rangga," jawab Yukari.
"Suruh dia masuk," balas Alvan.
__ADS_1
Rangga begitu masuk langsung menghampiri Aulia dan memegang tangannya. Namun, langsung melepaskannya begitu ingat kalau hal itu tidak boleh dilakukan olehnya. Apalagi Alvan juga langsung menghampirinya dan mendorong tubuh Rangga.
"Apa-apaan, sih, kamu!" bentak Alvan.
"Maafkan aku, Aulia," ucap Rangga.
Aulia yang terkejut atas perbuatan Rangga barusan membuatnya terdiam mematung. Dia sungguh tidak menyangka kalau laki-laki itu akan memegang tangannya.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Alvan.
"Mau bertemu dengan kekasihku!" jawab Rangga dengan tegas.
"Apa?" teriak Alvan dengan mata yang terbelalak.
"Iya, aku tahu kalau kamu adalah Aulia, kekasihku. Aulia Nur Assyifa itu nama lengkapnya," balas Rangga.
"A-pa?" Alvan tergagap.
Lagi-lagi Alvan mendapatkan kabar yang mengejutkan dari Aulia. Dia melihat ke arah Aulia meminta penjelasan.
Bola mata Aulia membulat karena dia tidak menyangka kalau Rangga akan mengenalinya saat ini. Dia sampai tidak bisa menelan ludahnya. Apalagi berbicara kepada laki-laki yang menatap dengan tatapan akan sarat kerinduan.
"Aulia … aku selama ini mencari dirimu. Tapi, kenapa kamu menyembunyikan identitas dirimu, bahkan mengubah gaya bicara kamu," ucap Rangga masih memperhatikan setiap yang Aulia lakukan walau itu hanya berkedip.
Meski Alvan bersahabat baik dengan Rangga dan tahu siapa kekasihnya, tetapi dia belum pernah bertemu dengan Aulia sebelumnya. Dia hanya tahu Aulia lewat foto yang diperlihatkan oleh Rangga. Sementara itu, wajah Aulia sang asisten tidak pernah diperlihatkan kepadanya.
"Ya. Aku adalah Aulia Nur Assyifa. Wanita yang pernah menjalin asmara dengan Rangga Abimana," jawab Aulia pelan dan dia pun melanjutkan ucapannya, "itu adalah diriku yang dulu. Sekarang aku adalah Aulia Nur Assyifa, wanita yang terus berjuang mencari ridho Allah di sisa hidupku."
Baik Rangga maupun Alvan bertekad kalau wanita yang sedang duduk di meja kerja itu harus menjadi pendamping hidup. Mereka ingin membahagiakan di sisa hidupnya dengan lautan cinta dan kasih sayang.
***
Langit malam yang cerah dengan bertaburan bintang membuat semua orang senang saat melihatnya. Aulia berdiri di halaman rumahnya menikmati pemandangan indah ini untuk menenangkan hatinya.
Tadi saat makan siang dia bertemu dengan nyonya Shinta. Wanita paruh baya itu mendatanginya dan meminta maaf sambil memohon dan berlutut di depannya. Dia menangis tergugu sambil menyesali perbuatannya dulu kepada keluarganya. Apalagi sampai menyuruh menggugurkan bayi yang masih ada di dalam kandungan. Juga, gara-gara ucapannya bapak Aulia sampai meninggal.
Meski awalnya terasa berat untuk berbicara dengan Shinta, Aulia pun memutuskan untuk mengakhiri konflik yang terjadinya pada mereka berdua. Aulia sudah berjanji tidak akan melihat kesalahan orang lain padanya. Justru dia akan berusaha untuk menjalin hubungan yang baik kepada semua orang. Memaafkan kesalahan orang yang sudah membuat hidup kita menderita itu sangat sulit bagi kebanyakan orang. Namun, jika kita niatnya ikhlas karena Allah, insha Allah semuanya dimudahkan. Meski akan banyak orang yang mencibir dengan sebutan bodoh karena tidak membalas kejahatannya. Bagi Aulia ketenangan hati yang dicarinya.
"Assalamu'alaikum," salam seseorang dan membuat Aulia terkejut.
"Wa'alaikumsalam," balas Aulia.
__ADS_1
Seorang laki-laki yang berwajah teduh itu tersenyum kepadanya. Terlihat di tangannya membawa sekantong keresek yang tercium wangi.
"Kakek Yusuf dan nenek Halimah, apa masih bangun?" tanya Fathir.
"Ada, barusan sedang duduk di ruang depan," jawab Aulia.
Terdengar suara klakson mobil, Aulia pun melihat siapa yang datang. Seorang laki-laki berwajah oriental turun dari mobil sambil membawa sekantong keresek yang berisi makanan.
"Assalamu'alaikum, Aulia." Senyum tampan langsung di lancarkan oleh Alvan.
"Wa'alaikumsalam, Tuan Alvan."
"Apa aku sudah mengganggu acara kamu?" tanya Alvan sambil menatap tajam pada Fathir.
"Tidak. Saya tidak punya acara apapun malam ini," balas Aulia.
'Yes. Berarti si Fathir tidak janjian dengan Aulia,' batin Alvan.
"Assalamu'alaikum, Sayang. Eh, Aulia." Rangga yang muncul tiba-tiba di sana membuat terkejut semua orang yang ada di sana.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Aulia yang sangat terkejut dengan kedatangan mantan kekasihnya itu.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Alvan kepada Rangga.
"Tentu saja untuk bertemu dengan Aulia," jawab Rangga.
Kini kepala Aulia mendadak sakit. Ada tiga laki-laki yang saling menatap sengit satu kepada yang lainnya.
"Oh, ada tamu. Kenapa tidak masuk ke dalam?" Kakek Yusuf berdiri di dekat pintu.
"Wah, kenapa banyak orang yang bertamu malam ini. Ada apa, tumben?" tanya nenek Halimah.
"Mau melamar Aulia!" kata ketiga laki-laki itu kompak.
"Apa?" pekik Aulia membelalakkan matanya.
***
Siapa yang akan dipilih oleh Aulia? 🤔 Yang jelas tunggu kelanjutannya, ya! Semoga kalian tidak kecewa dan puas 😁.
Sambil menunggu up bab berikutnya, baca juga karya aku yang lainnya.
__ADS_1