
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia selalu.
***
Bab 40
Ada empat orang yang menghadang Ahmad dan pasangan suami istri itu. Masalahnya adalah keempat penjahat itu memegang senjata sementara Ahmad dan yang lainnya tidak punya senjata apapun.
"Apa Anda punya ilmu beladiri?" tanya Ahmad.
"Tidak, aku tidak suka berkelahi," jawab laki-laki itu.
'Maksud aku bukan itu. Orang yang bisa menguasai banyak ilmu beladiri juga bukan orang yang suka berkelahi.' Ahmad hanya bicara dalam hatinya.
"Tapi, kita harus melawan mereka agar bisa selamat," ucap Ahmad.
"Sudah aku bilang, kalau aku tidak suka berkelahi," kata laki-laki itu lagi.
"Nona, apa Anda bisa mengendarai motor?" tanya Ahmad.
"Bisa," jawab wanita itu.
Kalau begitu, minta bantuan orang lain atau pada polisi. Sekitar dua kilo dari sini ada kantor polisi. Mintalah bantuan pada mereka!" titah Ahmad.
Perempuan itu pun menaiki motornya dan pergi minta bantuan. Saat salah seorang penjahat akan menghentikan wanita itu, Ahmad menghadangnya dan terjadilah perkelahian di antara mereka.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menyusulnya," kata Ahmad.
Laki-laki yang ditolong oleh Ahmad malah pergi dengan membawa motor Ahmad yang kebetulan kuncinya masih terpasang. Teman-teman penjahat lainnya pun menyerang Ahmad secara bersamaan.
"Lihat orang yang kamu tolong sudah meninggalkan kamu! Sekarang kamu hanya sendirian," kata penjahat itu sambil tertawa terbahak. Begitu juga dengan teman-teman semuanya menertawakan Ahmad.
"Ya Allah, hanya kepada kamu aku meminta pertolongan. Semoga Engkau selalu melindungi hamba yang lemah ini. Hidup dan mati aku berada dalam kuasa-Mu," lirih Ahmad.
Ahmad pun melawan mereka dengan tangan kosong. Dia mencoba menjatuhkan lawannya satu per satu. Meski dia beberapa kali terkena sayatan samurai di tangan dan kakinya.
***
Sementara itu, Aulia yang sedang tertidur. Dia bermimpi melihat sebuah istana yang begitu indah. Pintu gerbangnya juga begitu tinggi dan kokoh. Rasanya dia ingin masuk ke dalam istana itu.
"Istana ini indah sekali! Milik siapa, ya?" tanya Aulia seorang diri.
Datanglah seorang laki-laki berjubah putih dengan mukanya yang bersinar. Maka Aulia pun menundukkan kepalanya.
"Assalamu'alaikum," salamnya.
"Wa'alaikumsalam," balas Aulia.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya laki-laki itu.
"Saya sedang melihat sebuah istana yang sangat indah dan megah ini. Milik siapakah ini?" tanya Aulia.
"Ini istana milik hamba Allah yang selalu melakukan amar makruf nahi mungkar," ucapnya lagi.
"Beruntung sekali orang yang bisa tinggal di sini," lanjut Aulia.
Aulia melihat banyak bidadari yang masuk ke sana. Dia juga merasa ingin masuk ke sana, tetapi laki-laki itu mencegah dirinya.
"Istana ini tidak boleh di masuki oleh dirimu," katanya.
Hati Aulia merasa sangat sakit mendengar itu. Kenapa orang lain boleh masuk sedangkan dirinya tidak boleh. Dia pun menangis dan mengadu kepada Tuhannya untuk diizinkan masuk ke istana itu.
"Aulia! Aulia! Bangun, Nak!" terdengar suara kakek Yusuf mengetuk pintu Aulia agak keras.
Aulia pun membuka matanya, dia tersadar kalau tadi dia sedang bermimpi. Pipinya ternyata basah oleh air mata, lalu dia pun dengan cepat mengusapnya.
"Aulia!"
"Iya, sebentar, Kek," balas Aulia bangun dari tempat tidurnya.
Aulia pun membuka pintu dan terlihat wajah kakek Yusuf yang terlihat cemas biasanya tenang dan berseri.
"Ada apa, Kek?" tanya Aulia.
"Tumben tengah malam seperti ini kakek minta di antar ke rumah sakit. Apa kakek sakit?" tanya Aulia.
"Ya. Antar kakek ke rumah sakit, ya!" pinta kakek Yusuf lagi.
"Baik, Kek," balas Aulia dan melihat jam hampir 01.00 dini hari.
Aulia, kakek Yusuf, dan nenek Halimah pergi ke rumah sakit. Ada yang aneh menurut Aulia saat kakek Yusuf langsung masuk ke IGD, dan mencari korban begal.
"Ahmad, buka mata kamu, Nak!" lirih kakek Yusuf.
Aulia membeku tidak bisa bergerak hanya air matanya saja yang jatuh, saat melihat seorang laki-laki yang belakangan ini selalu dia pikirkan kini berbaring di atas brankar. Beberapa alat terpasang pada tubuhnya, banyak luka yang dibalut perban ditangan, dada, perut dan kepalanya. Ahmad layaknya seorang mumi.
"Kakek, apa Anda keluarga korban?" tanya seorang dokter.
"Iya, dokter. Bagaimana keadaan cucu saya?" tanya kakek Yusuf.
"Korban dalam keadaan koma, dan sangat tipis kemungkinan untuk bertahan. Ada beberapa organ penting di tubuhnya yang terluka parah dan korban juga kehilangan banyak darah," jawab dokter.
"Mas Ahmad," cicit Aulia akhirnya, dia pun kini berjalan mendekati Ahmad.
"Bagaimana bisa cucu aku sampai terluka seperti ini?" tanya nenek Halimah dengan berlinang air mata.
__ADS_1
"Itu, bisa ditanyakan kepada pihak polisi," jawab dokter itu.
"Dokter, aku mohon selamatkan calon suami aku!" pinta Aulia dengan tatapan memohon.
"Apa Nona yang bernama Aulia?" tanya dokter melihat ke arah Aulia.
"I-ya, saya Aulia," jawab Aulia.
"Pasien sempat menyebut nama Anda beberapa kali sebelum kehilangan kesadarannya," kata dokter itu.
Dada Aulia terasa diremat kuat, sakit, sesak, dan kaki Aulia terasa berubah menjadi jelly, sehingga tidak mampu menopang berat badannya. Dia menangis tergugu sambil memegang dada kiri yang terasa sakit sekali.
"Mas Ahmad, aku mohon buka mata. Ini aku! Aku sudah datang," lirih Aulia di sela-sela tangisannya.
"Ya Allah, dokter, Ahmad membuka matanya! seru kakek Yusuf senang.
Aulia pun langsung berdiri. Dia tersenyum senang melihat calon suaminya membuka matanya meski sedikit.
Dokter itu pun hendak memeriksa, tetapi tangan Ahmad memberi isyarat menahannya. Ahmad membuka alat bantu napasnya.
"Aulia," lirihnya Ahmad.
"Iya, Mas. Jangan bicara dulu, biar Dokter memeriksa dulu keadaan Mas Ahmad," ucap Aulia.
"Maafkan aku … carilah calon imam pengganti diriku. Carilah laki-laki yang lebih baik dari aku," ucap Ahmad dengan pelan.
"Tidak, Mas! Tidak ada laki-laki yang lebih baik dari Mas Ahmad bagiku." Aulia menggelengkan kepalanya.
"Kamu berhak hidup dengan bahagia lagi, yakinlah, kalau kamu akan mendapatkan seorang laki-laki yang sangat mencintai diri kamu apa adanya," kata Ahmad dengan menahan ringisannya.
"Tidak. Kakek nikahkan aku dan Mas Ahmad sekarang juga. Aku mohon, Kek. Nikahkan kami sekarang!" pinta Aulia pada kakek Yusuf.
"Aulia—"
"Kek, izinkan aku menjadi istri Mas Ahmad," kata Aulia dengan suaranya yang lirih.
***
Akankah Aulia dan Ahmad menikah? Tunggu kelanjutannya, ya!
Aku: Thor, kamu kejam 😭.
Author: Bukan sengaja niat kejam pada nasib tokohnya 🥺. Ini sudah aku buat dari dulu kerangakanya dan tidak mungkin aku ubah lagi 😢.
Aku: Semoga para reader tidak pada ngamuk.
Author: Tidak, mereka kan baik-baik.
__ADS_1