Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 46. Menyiapkan Keperluan Untuk Alvan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa kasih like dan komentar. Semoga kalian sehat selalu.


***


Bab 46


     Pagi yang cerah dan udara masih segar berbeda terbalik dengan pikiran Aulia yang tercemar gara-gara laki-laki tampan yang hanya menggunakan kolor tanpa atasan. Tubuh atletis terlihat jelas dari tonjolan-tonjolan di perutnya yang berbentuk kotak-kotak.


"Astaghfirullahal'adzim, Tuan! Apa yang sedang Anda lakukan?" teriak Aulia sambil membalikan badannya.


"Kenapa reaksi kamu seperti itu?" tanya Alvan tidak mengerti kenapa reaksi Aulia seperti itu.


"Pakai bajunya, Tuan! Itu udel sama paha kemana-mana. Aurat! Aurat!" teriak Aulia.


"Eh, pusar sama paha aku masih ada di sini, tidak kemana-mana," sahut Alvan tidak memahami maksud Aulia.


"Kalau Tuan tidak pakai baju dan celana, saya akan pergi dari sini," ujar Aulia mengancam.


"Aku mau mandi, kamu siapkan baju untuk aku. Semua bajuku ada di walk in closet," perintah Alvan kepada Aulia. Dia pun masuk ke kamar mandi.


    Aulia merasakan panas di wajahnya. Dia pun merapikan dulu tempat tidur milik Alvan, setelah itu baru menyiapkan baju untuk kerja.


'Bagaimana cara dia memakai celananya, ya?' batin Aulia saat melihat setelan jas, kemeja, dan celana kerja milik tuannya.


"Astaghfirullahal'adzim, Aulia … kamu jangan pikirkan yang macam-macam!" gumam Aulia sambil menggelengkan kepalanya.


"Ini gara-gara tuan Alvan, pikiran aku jadi kacau," ucap Aulia.


"Audzubillah himinas syaiton nirojim," ucap Aulia.


"Ada apa?" tiba-tiba suara Alvan mengejutkan dari arah belakang.


"Astaghfirullahal'adzim. Tuan, jangan membuat aku kaget," ucap Aulia dan membalikan badan.


"Aaaaakh! Tuan, kenapa suka sekali tidak memakai baju," teriak Aulia sambil memejamkan mata dan menutupnya dengan kedua tangan. Gara-gara itu Aulia melemparkan baju yang ada di tangannya ke muka Alvan dan jatuh pada pangkuannya.


    Alvan bukannya marah, dia malah tersenyum senang melihat tingkah Aulia yang sangat lucu menurutnya. Entah kenapa dia suka sekali membuat perempuan berhijab itu kesal dan mengomeli dirinya.


"Aku akan menunggu Tuan di lantai bawah," ucap Aulia sambil jalan dengan mata tertutup.


     Alvan terus memperhatikan Aulia sampai keluar dari kamarnya. Senyum terukir kembali di wajahnya yang datar. Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah lagi tersenyum apalagi tertawa setelah kecelakaan yang menimpa dirinya sampai tidak bisa berjalan.


***


     Aulia turun dan mendatangi dapur, dia bertanya sarapan yang akan dimakan oleh Alvan. Menyiapkan sarapan juga sudah menjadi salah satu tugasnya.

__ADS_1


"Tuan itu jarang sarapan menu yang berat. Paling buah-buahan, air lemon, dan sereal," kata kepala pelayan.


"Oh, begitu," balas Aulia.


"Apa buah-buahan berbentuk salad atau hanya potongan buah yang original tanpa campuran apapun?" tanya Aulia penasaran.


"Hanya potongan buah tanpa campuran apapun," jawab kepala pelayan.


"Baiklah kalau begitu, akan saya buatkan. Kalau boleh tahu buah-buahan apa saja yang tuan sukai?" tanya Aulia saat melihat banyak sekali jenis buah-buahan di kulkas.


"Hampir semua jenis buah-buahan tuan Alvan menyukainya," jawab kepala pelayan.


"Jadi, tidak ada pantangan atau alergi?" tanya Aulia lagi.


"Tidak ada," jawab laki-laki tua itu.


     Aulia pun memotong buah pepaya dan dikasih perasan air jeruk nipis ditaburi dengan gula pasir (kesukaan aku, kalian boleh coba). Lalu minumannya dia membuat air hangat pakai madu.


"Nona, kenapa Anda membuat banyak sekali?" tanya kepala pelayan.


"Apa ini kebanyakan?" tanya Aulia yang memotong setengah buah pepaya.


"Iya, ini kebanyakan untuk tuan Alvan," jawab laki-laki berumur 55 tahun itu.


      Alvan pun datang di saat bersamaan dengan Aulia menyimpan menu sarapan Alvan di meja. Pandangan mereka bersirobok, Aulia langsung memalingkan mukanya.


"Lain kali kalau menyiapkan baju itu sama **********. Kenapa kamu tidak menyertakan sekalian?" kata Alvan tiba-tiba begitu dia duduk di samping Aulia.


"Apa? Kenapa aku harus menyiapkan barang itu juga?" tanya Aulia gugup dan menahan malu. Kalau niqob dia di buka, wajah Aulia pasti terlihat merah.


"Kamu pikir aku tidak perlu memakainya," sindir Alvan dan membuat Aulia terdiam.


"Aku ini masih gadis mana mungkin memegang benda begituan, 'kan malu," lirih Aulia pelan dan tidak begitu jelas terdengar.


"Kamu bicara apa?" tanya Alvan sambil memandang Aulia dengan lekat.


"Tuan, kalau ****** ***** sebaiknya Anda yang memakainya sendiri," kata Aulia karena menyadari perkataannya kurang tepat, dia pun melaratnya. "Maksud saya itu harus disiapkan sendiri karena itu barang sangat pribadi."


     Alvan ingin tertawa terbahak-bahak saat melihat pancaran mata Aulia di saat gugup dan juga malu. Guliran bola matanya yang bergerak-gerak sangat menggemaskan. Ini malah membuat Alvan semakin menyukai Aulia.


"Lalu ini, apa?" tanya Alvan saat melihat potongan pepaya tetapi tidak begitu tercium baunya.


"Sarapan untuk Tuan," jawab Aulia.


     Alvan pun memakan potongan buah pepaya itu. Terasa manis dan segar, dia sangat menyukainya. 

__ADS_1


"Buah pepaya ini terasa enak sekali," ucap Alvan sambil memasukan kembali satu potong.


"Saya mencampurnya dengan perasan jeruk nipis dan gula pasir," jelas Aulia.


     Alvan sangat menyukainya, bahkan dia minta tambah lagi karena melihat masih banyak di dalam kotak yang akan disimpan ke dalam kulkas. Akhirnya semua potongan buah pepaya itu habis dimakan saat itu juga.


"Aku suka ini," kata Alvan sambil tersenyum. 


     Kepala pelayan dan beberapa orang pegawai di sana terkejut melihat tuan mereka tersenyum. Mereka saling memberikan kode melihat ke arah Alvan.


"Baiklah, kita berangkat sekarang!" perintah Alvan kepada Aulia.


      Tanpa sadar Aulia mendorong kursi roda Alvan secara refleks. Bahkan tas kerjanya juga dia bawa. Mereka ke kantor naik mobil milik Alvan dan di antarkan oleh sopir.


***


"Mario, kamu sudah sampai kantor?" tanya Alvan menghubungi asistennya.


^^^"Tentu saja sudah, Bos," jawab Mario.^^^


"Bagus. Apa yang aku perintahkan semalam sudah dikerjakan?" tanya Alvan.


^^^"Sudah. Semua sudah beres, tenang saja," balas Mario.^^^


"Bagus. Aku akan segera sampai di kantor," kata Alvan.


^^^"Tumben pagi-pagi sudah mau datang ke kantor," ujar Mario menggoda atasannya.^^^


"Karena ingin melihat para pegawai mana saja yang suka datang kesiangan," balas Alvan.


"Yang jelas bukan aku. Aku ini pegawai yang rajin," bantah Mario.


***


     Kedatangan Alvan dan Aulia memancing rasa penasaran orang-orang yang melihat mereka. Apalagi, pemimpin mereka terlihat berbeda hari ini. Lebih cerah, fresh, dan bersemangat.


"Alvan!" teriak seseorang saat Aulia dan Alvan akan masuk ke dalam lift.


Aulia pun menghentikan langkahnya. Betapa terkejutnya dia melihat laki-laki yang seakan selalu bergentayangan di dekatnya.


"Hai," balas Alvan sambil tos pada orang yang baru sampai di sana.


***


Kira-kira siapa tuh makhluk yang selalu bergentayangan di dekat Aulia? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2