
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian dimudahkan segala urusannya.
***
Bab 23
Ruang tamu di kediaman kakek Yusuf penuh dengan warga. Laki-laki duduk di sebelah kanan dan perempuan duduk di sebelah kiri. Sementara itu, kakek Yusuf, nenek Halimah, dan Aulia di tengah-tengah membatasi kelompok mereka.
"Siapa yang pertama kali memberikan ide untuk mendatangi rumah saya dan melakukan protes ini?" tanya kakek Yusuf dengan tenang, tetapi tatapan matanya penuh selidik kepada orang-orang yang ada di sana.
"Pak Ustadz, jangan tanya siapa? Masalahnya adalah Aulia tidak boleh menjadi istri Gus Fathir," balas laki-laki yang sejak tadi ambil vokal.
"Darso, aku tanya seperti itu karena ada fitnah kepada Aulia. Kalian yang tidak tahu apa-apa beraninya memberikan panggilan hina itu!" Suara kakek Yusuf terdengar tegas dan lantang.
Semua orang di sana terdiam. Mereka malah saling melirik satu sama lain.
"Siapa yang pertama kali bilang kalau Aulia akan dipinang oleh Gus Fathir sedangkan kalian semua tidak ada yang datang ke sini semalam?" tanya kakek Yusuf lagi sambil kembali mengedarkan pandangannya.
"Pak Ustadz, kalau Aulia pernah hamil di luar nikah, wajarlah kita semua berpikiran kalau dia itu memang pantang untuk mendapat panggilan itu," balas Darso lagi.
"Tentu saja beda, Darso. Apa kamu tidak bisa membedakannya?" sindir kakek Yusuf dan lelaki itu pun diam.
__ADS_1
"Maaf, Pak Ustadz. Meski Aulia bukan seorang wanita penghibur, tetap saja kelakuan dia di masa lalu itu tidak pantas untuk menjadi seorang pendamping calon pemimpin pondok pesantren. Bisa-bisa nanti Pesantren Al-Ikhlas mendapat cemoohan dari orang-orang julid atau orang yang benci dengan agama Islam," ujar Bi Imamah.
"Ini harus menjadi pembelajaran buat kita semua. Jangan seenaknya memberikan gelar buruk kepada orang lain. Apalagi kepada saudara sesama muslim. Apa kalian lupa kalau Allah berfirman dalam Al-Qur'an surah Al Hujurat ayat 11, 'Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.' Apa kalian tahu maksud dari ayat itu?" tanya kakek Yusuf. Semua orang di sana masih diam dan melihat ke arah kakek Yusuf atau entah ke Aulia yang duduk berdekatan dengannya.
"Allah mengingatkan kaum Mukminin supaya jangan ada suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain karena boleh jadi, mereka yang diolok-olokkan itu di sisi Allah jauh lebih mulia dan terhormat dari mereka yang mengolok-olokkan. Demikian pula di kalangan wanita, jangan ada segolongan wanita yang mengolok-olokkan wanita yang lain karena boleh jadi, mereka yang diolok-olokkan itu pada sisi Allah lebih baik dan lebih terhormat dari wanita-wanita yang mengolok-olokkan. Allah melarang kaum mukminin mencela kaum mereka sendiri karena kaum Mukminin semuanya harus dipandang satu tubuh yang diikat dengan kesatuan dan persatuan," jelas kakek Yusuf. Orang-orang di sana merasa tersentil hatinya.
"Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dengan ucapan, perbuatan atau isyarat, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang dinilai buruk buruk oleh orang yang kamu panggil itu sehingga menyakiti hatinya. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk fasik setelah iman. Yakni seburuh-buruk panggilan kepada orang-orang mukmin adalah bila mereka disebut orang-orang fasik sesudah mereka dahulu disebut sebagai golongan yang yang beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, setelah melakukan kefasikan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim kepada diri sendiri dan karena perbuatannya itu maka Allah menimpakan hukuman atasnya," lanjut kakek Yusuf.
Semua orang pun terdiam tidak ada yang berani bicara lagi. Mereka meresapi perkataan kakek Yusuf.
"Untuk masalah meminang biarkan itu menjadi urusan kami dengan keluarga ndalem. Jika Allah sudah berkehendak mereka berjodoh, sekuat apapun kita menentang dan mencoba memisahkan. Percayalah kalau mereka akan tetap bersatu meski jalannya berliku," lanjut kakek Yusuf.
"Kita ini hanya manusia lemah yang tidak akan mampu melawan kehendaknya. Jika, Aulia dan Gus Fathir sudah tercatat sebagai jodoh di Lauh Mahfudz, maka itu pasti akan terjadi," ucap kakek Yusuf dengan suaranya yang tenang.
***
"Kalian itu harusnya tahu waktu jika ingin mendatangi rumah orang lain. Bukannya dalam agama juga diajarkan hal itu. Mana adab yang sudah diajarkan oleh para guru kalian? Jika ada yang ingin kalian sampaikan datanglah dengan cara baik-baik, bukan berteriak-teriak seperti ini?" Kiai Akbar berdiri di depan kerumunan orang banyak.
"Maafkan kami, Pak Kiai. Karena kami sudah tidak bisa menahan emosi, sehingga melakuakan hal yang tidak pantas seperti ini," ucap salah seorang santri senior.
"Apa kalian sudah sarapan?" tanya Kiai Akbar. Para santri itu pun menggeleng.
__ADS_1
"Apa kalian sudah mandi hari ini?" tanya Kiai Akbar. Lagi-lagi para santri kebanyakan menggelengkan kepalanya. Hanya ada sebagian kecil yang mengangguk.
"Apa kalian sudah melaksanakan sholat Dhuha?" tanya Kiai Akbar. Para santri itu menundukkan kepala.
Kiai Akbar pun menghela napasnya. Lalu berkata, "Lihatlah perbuatan kalian ini! Sebaiknya lakukan semua kegiatan sebagaimana mestinya. Sarapan, mandi, sholat Dhuha. Lalu masuk kelas. Bukannya nanti ada waktunya kalian bebas atau luang. Datanglah saat itu. Begitu juga dengan keluarga kami. Kami belum sarapan, belum mandi, dan belum sholat Dhuha. Kalian malah berbuat kegaduhan. Itu sangat mengganggu."
Kemudian para santri pun membubarkan diri. Dalam waktu singkat ndalem sudah sepi kembali. Kiai Akbar pun masuk ke dalam dan terlihat kedua anak dan istrinya tersenyum sambil mengacungkan jempol.
***
Kegaduhan di rumah Kakek Yusuf pun sampai ke telinga keluarga ndalem. Sebaliknya juga Aulia mendengar para santri juga melakukan protes. Mereka tidak setuju akan pinangan Gus Fathir kepada Aulia. Ini membuat Aulia semakin kacau pikirannya.
"Kek, apa sebaiknya Aulia menolak permintaan Gus Fathir?" Aulia mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
"Kenapa begitu?" tanya kakek Yusuf.
"Terlalu banyak orang yang tidak setuju dengan khitbah Gus Fathir," jawab Aulia dengan lirih.
"Kamu, jangan berpikiran seperti itu," ucap nenek Halimah.
"Tapi, Nek …." Aulia menatap nenek Halimah dengan sendu.
__ADS_1
***
Akankah Aulia dan Gus Fathir melanjutkan khitbah atau gagal? Tunggu kelanjutannya, ya.