Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 55. Kabut Kisah Mutiara


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan bahagia.


***


Bab 55


     Aulia mengedipkan matanya beberapa kali dan itu terlihat sangat menggemaskan di mata Alvan. Aulia merasa kalau atasannya itu kepribadiannya sudah benar-benar berubah.


"Aku rasa tidak seperti itu. Jujur saja, aku sama sekali tidak tertarik kepada Tuan," balas Aulia jujur karena dia tidak mau memberikan harapan palsu.


"Apa karena aku cacat?" tanya Alvan ingin menguji Aulia.


"Astaghfirullahal'adzim. Tuan, Anda salah kalau aku menilai seseorang dari fisiknya. Aku melihat Tuan itu sebagai orang yang sedang berusaha memperbaiki diri. Sedangkan rasa ketertarikan yang Tuan maksud tadi itu adalah rasa tertarik secara sek_sualitas antara laki-laki dan perempuan, 'kan? Aku tidak mempunyai rasa seperti itu kepada Anda," jawab Aulia.


"Apa kamu belum bisa melupakan laki-laki yang bernama Ahmad itu?" tanya Alvan dengan nada sarkasme tanpa sadar.


     Aulia terdiam, hatinya terasa tersayat saat mendengar ucapan atasannya barusan. Mata dia mulai berkaca-kaca dan dengan cepat Aulia membalikan badan, lalu pergi meninggalkan Alvan.


"Astaghfirullahal'adzim. Apa yang sudah aku lakukan!" lirih Alvan memukul kepalanya dengan cukup keras.


      Alvan sadar sudah mengatakan sesuatu yang sudah melukai perasaan Aulia. Dia pun menyusul Aulia hendak meminta maaf kepadanya.


Brug!


     Alvan yang hendak berbelok tanpa sengaja bertabrakan dengan Mutiara, sampai perempuan itu jatuh ke lantai. Betapa terkejutnya dia karena sudah membuat orang lain jatuh.


"Maaf, Ara." Alvan mengulurkan tangannya berniat hendak membantu Mutiara.


     Aulia yang mendengar suara benturan, mengalihkan perhatiannya kepada lantai satu. Betapa terkejutnya dia melihat sahabatnya jatuh di lantai. Dia pun turun kembali dan hendak membantu Mutiara bangun.


      Rasa keterkejutan Alvan bertambah saat melihat wajah Mutiara yang niqobnya terlepas. Sehingga dia bisa melihat dengan jelas wajah yang selalu tertutupi oleh kain.


"Tante Marni?" gumam Alvan.


      Mata Mutiara membulat karena terkejut saat Alvan menyebut sebuah nama yang tidak asing olehnya. Wanita yang tega meninggalkan dirinya demi suami barunya.


      Aulia yang kebetulan sudah sampai di sana bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Alvan. Dia tidak tahu nama siapa itu, tetapi melihat reaksi Mutiara yang berbeda, dia yakin nama itu ada kaitannya dengan masa lalu sang sahabat.


      Mutiara langsung memasang kembali niqob miliknya dan pergi ke lantai atas. Aulia bisa melihat kalau mata Mutiara mengeluarkan air mata. Aulia pun menyusul Mutiara naik ke lantai atas.

__ADS_1


      Masih dalam keterpakuannya, Alvan diam sambil menatap ke atas melihat dua orang perempuan yang pergi dengan terburu-buru. Hal ini malah membuat Alvan semakin penasaran dengan Mutiara.


'Apa Ara punya hubungan kerabat dengan Tante Marni? Aku tidak begitu kenal dekat dengan keluarganya. Yang aku tahu dia punya anak perempuan satu orang,' batin Alvan.


***


      Mutiara masuk ke dalam kamarnya dan Aulia pun mengetuk pintu minta izin masuk. Terlihat kalau Mutiara menangis di samping ranjang. Aulia pun mendekati dan memeluk tubuhnya.


"Ada apa?" tanya Aulia.


     Belum juga Mutiara menjawab pintu diketuk dari luar dan terdengar suara Annisa yang baru datang dari pesantren. Jadinya sekarang berkumpul perempuan tiga orang.


"Kamu, kenapa?" tanya Annisa.


"Ara apa ada yang terluka? Mana … biar aku obati,?" tanya Aulia sambil mengusap punggungnya.


"Kamu terluka, Ara?" Kini Annisa yang bertanya dengan panik.


     Mutiara menggelengkan kepala. Hal ini malah membuat Aulia dan Annisa merasa cemas. Sampai akhirnya tertidur pun Mutiara tidak bicara apa-apa.


***


     Dikarenakan rasa penasaran yang tinggi, membuat Aulia ingin bertanya kepada Alvan, apa yang sudah terjadi tadi. Maka, dia pun mencari atasannya itu.


      Aulia jadinya merasa enggan untuk bertanya. Namun, Annisa terus mendorong-dorong tubuhnya untuk menghampiri Alvan.


"Ada apa?" tanya kakek Yusuf saat melihat dua perempuan yang sedang bisik-bisik.


"Kita sedang ingin bertanya pada Tuan Alvan. Kenapa Mutiara bisa menangis?" jawab Aulia.


      Kakek Yusuf dan nenek Halimah melihat ke arah Alvan. Mereka juga penasaran kenapa Mutiara sampai bisa menangis.


"Tadi kami tanpa sengaja bertabrakan dan Ara jatuh. Lalu, cadarnya terlepas," jelas Alvan.


      Mereka berpikir kalau Mutiara merasa malu karena wajahnya terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya. Namun, hal itu dulu biasa saja bagi Mutiara karena dia memakai niqob setelah menikah.


"Tadi Tuan bilang, Tante Marni. Siapa dia?" tanya Aulia.


"Marni?" tanya kakek Yusuf dan nenek Halimah.

__ADS_1


"Iya, Kek … Nek. Tadi Aulia mendengar Tuan Alvan menyebutkan nama itu," jawab Aulia.


     Kini semua orang menatap ke arah Alvan. Mereka minta penjelasan kepadanya.


"Tante Marni itu adalah salah satu istri dari rekan kerja sama dengan saya," jawab Alvan terjeda karena harus menarik napasnya, "dia juga adalah mertua teman aku. Jadi, tahu betul bagaimana wajahnya. Dan saat melihat Mutiara tadi tanpa sadar aku mengucapkan nama dia."


"Pak, bukannya nama ibunya Mutiara yang sudah menelantarkan Ara itu bernama Marni, juga?" tanya nenek Halimah mengingat-ingat.


"Iya, namanya Marni dan dia pergi dengan suaminya dengan membawa semua harta milik Mutiara," jawab kakek Yusuf.


"Siapa nama suaminya, Nak?" tanya nenek Halimah kepada Alvan.


"Nama suaminya, Pak Barata dan putrinya bernama Karmila," jawab Alvan.


"Apa?" Kakek Yusuf dan nenek Halimah sangat terkejut mendengarnya.


"Astaghfirullahal'adzim. Apa yang dirasakan oleh Ara sekarang pastinya sangat sedih sekali," lirih nenek Halimah.


"Memangnya apa hubungan mereka dengan Ara?" tanya Alvan dan itu juga yang ada dalam benak Aulia dan Annisa.


"Marni itu adalah nama ibu kandung Ara dan Barata adalah nama bapak tiri Ara, serta perempuan yang bernama Karmila itu adalah saudara tiri Ara," jawab kakek Yusuf.


"Apa? Jadi, mereka adalah orang-orang yang sudah menyiksa Ara sampai jadi cacat seperti itu!" pekik Aulia dan Annisa sehati.


"Apa? Ara cacat?" Alvan tidak tahu keadaan Ara yang sebenarnya seperti apa. Dia juga jarang bicara secara langsung dengannya.


"Iya. Mereka begitu kejam menyiksa seorang anak kecil yang lemah dan tidak berdaya. Bahkan mereka merebut harta anak yatim itu," ujar Annisa dengan geram karena masih teringat jelas dalam ingatannya bagaimana keadaan Ara dulu.


"A-pa? Bagaimana bisa hal itu terjadi?" tanya Alvan sangat terkejut karena mereka itu orang-orang yang terpandang dan perusahaannya juga maju.


     Annisa dan Aulia yang geram pun menceritakan bagaimana keadaan Mutiara yang sebenarnya. Mereka juga menceritakan kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh sahabat mereka.


"Sungguh tega! Mereka sangat kejam. Aku tidak percaya kalau mereka bisa melakukan hal seperti itu, jika bukan kalian yang berbicara. Aku rasa semua orang yang mengenal keluarga itu pun tidak akan percaya," desis Alvan menahan amarahnya.


"Mereka itu harus dikasih pelajaran, biar tahu rasanya bagaimana sakitnya jika diperlakukan seperti itu. Menjadikan orang lain menjadi cacat? Rasanya aku ingin membalaskan penderitaan Ara," lanjut Alvan.


"Balas dendam itu tidak baik. Biarkan saja Allah yang membalasnya. Kita ini makhluk lemah sedangkan Dia Maha Kuat. Pastinya balasan dari Allah lebih adil bagi Ara. Kita lebih baik doakan untuk kebahagiaan Ada agar di sisa hidupnya dia terus hidup bahagia dengan dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai dan menyayangi dirinya," ucap kakek Yusuf mengingatkan.


***

__ADS_1


Apa yang akan dilakuan oleh Aulia dan Alvan saat tahu keberadaan orang-orang yang sudah membuat hidup Ara menjadi penuh penderitaan? Tunggu kelanjutannya, ya!


Aku ucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman yang sudah bersedia menyumbangkan namanya untuk novel berikutnya.


__ADS_2