Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 36. Harta Ahmad


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan.


***


Bab 36


     Undangan pernikahan Aulia dan Ahmad sudah jadi dan tinggal membagikannya. Undangan untuk tamu undangan milik Aulia dan Ahmad sudah dipisahkan. Rencananya sore ini Ahmad mau datang sendiri untuk mengambil itu.


      Aulia senang karena ternyata Ahmad suka semua makanan yang sering dia buatkan untuknya. Semenjak tahu kalau calon suaminya itu suka bolu buatannya. Aulia juga sering memberikan makanan olahan yang dia buat. Selain untuk kakek Yusuf dan nenek Halimah, Aulia juga menyisihkan untuk Ahmad dan akan menyuruh tukang ojek untuk mengantarkan ke tokonya. 


Terima kasih untuk lapis legit dan bolu pelangi ini. Seperti biasa, rasanya enak dan saya suka.


^^^Alhamdullilah kalau Mas Ahmad suka.^^^


      Meski hanya pesan singkat yang akan di dapat oleh Aulia dari Ahmad. Dia merasa sudah senang. 


     Aulia itu tipe orang yang suka berbuat baik dan membahagiakan orang lain. Melihat orang lain bahagia, itu sudah membuatnya juga ikut bahagia. Hal ini juga kadang sering dimanfaatkan oleh orang lain kepada kebaikan Aulia dari dulu. Meski kadang sebaliknya, saat dia butuh bantuan atau bersedih, orang yang dulu sering dibantu oleh Aulia itu mengabaikan atau beralasan tidak bisa.


      Kenapa Aulia sulit melupakan Rangga meski sempat membencinya, bahkan dia yakin sudah melupakan perasaanya padanya? Meski nyatanya perasaan itu menyusup kembali. Itu karena Rangga adalah salah satu orang yang tulus kepada Aulia sejak dulu. Dia orang yang selalu ada di saat Aulia dalam keadaan apapun. Keduanya dulu saling melengkapi, memberi, menerima, dan membantu. Belum ada laki-laki yang bisa seperti Rangga kepadanya atau perlakuan Aulia kepada laki-laki lain seperti kepada Rangga.


      Ahmad bukanlah laki-laki sempurna, tetapi Aulia ingin menyempurnakan hidupnya bersama dengan dia. Aulia yakin kalau bersama Ahmad, hidupnya akan terasa sempurna, saling melengkapi satu sama lainnya. Laki-laki yang selama ini ditunggu olehnya.


"Ha-yo, me-la-mun!" Mutiara menepuk bahu Aulia dan itu membuat tubuh si empunya terlonjak.


"Ish, Ara. Kamu mengejutkan aku," gerutu Aulia menahan malu.


"Pas-ti la-gi mem-ba-yang-kan Mas Ah-mad," kata Mutiara sambil tersenyum lebar menggoda Aulia.


"Ish, sok tahu! Aku sedang mau carikan kamu jodoh. Kira-kira siapa, ya? Jodoh yang cocok untuk Ara …." Aulia sudah punya bayangan ingin menjadi mak comblang buat asistennya itu.


"Ara ni-kah nan-ti sa-ja," balas Mutiara sambil pergi meninggalkan dapur yang ada di toko sambil membawa banyak keripik yang sudah dikemas untuk dipajang di etalase toko.


"Bilang saja suka sama—"


"Ja-ngan bi-lang!" Mutiara menengokan kepala dari arah pintu dan Aulia tertawa.


***

__ADS_1


      Waktu terus bergulir dan hari pernikahan Aulia dan Ahmad tinggal dua minggu lagi. Barang untuk hantaran pun sudah selesai dibeli, surat undangan sudah selesai di cetak tinggal dibagikan. Baju untuk pasangan pengantin juga sudah dipilih. Ahmad juga sudah menghafal untuk proses ijab qobul nanti.


"Pak Slamet, apa kabar?" tanya Ahmad kepada laki-laki yang sudah berumur, terlihat dari kulitnya yang berkeriput dan rambutnya yang beruban banyak.


"Puji Tuhan. Baik, Nak Ahmad. Sudah lama kita tidak bertemu," jawab Pak Slamet.


"Iya, Anda terlalu sibuk dengan mengadilan," kata Ahmad sambil tersenyum tipis dan laki-laki tua itu tertawa.


      Pak Slamet adalah seorang pengacara sekaligus teman bapaknya Ahmad dulu. Dia yang menangani kasus kecelakaan keluarga Ahmad dulu. Dia juga yang mengamankan aset harta peninggalan orang tua Ahmad dibawah pengawasan kakek Yusuf. Sampai Ahmad berusia 17 tahun. Sekarang pun jika membutuhkan jasanya, Ahmad sering minta pada Pak Slamet.


"Iya, selain itu aku juga sedang mengurus pernikahan putriku," balas Pak Slamet.


"Wah, Grace mau menikah?" tanya Ahmad.


"Iya. Akhirnya dia bisa juga melupakan Gus Fathir. Meski calon suaminya bule Australia, tidak apalah yang penting seiman," jawab Pak Slamet.


      Putrinya Pak Slamet adalah salah satu mahasiswi di kampus tempat Fathir mengajar. Kebaikan dan ketampanan Fathir, menjadikannya idola dikalangan mahasiswi di sana. Salah satunya adalah Grace, yang sering mengejar-ngejar Fathir secara terang-terangan.


"Ada apa? Tumben, nih!" tanya Pak Slamet.


"Saya mau mengurus harta milik aku untuk pengalihan nama," jawab Ahmad.


"Aulia, calon istriku," jawab Ahmad.


"Baiklah, apa berkas-berkas semuanya sudah di siapkan?" tanya Pak Slamet.


"Sudah. Semuanya sudah ada di dalam tas ini. Saya ingin semua dikerjakan secepatnya. Kalau bisa satu minggu ini sudah selesai," balas Ahmad sambil tersenyum jahil.


"Mana mungkin bisa selesai dalam satu Minggu," ujar Pak Slamet dengan tatapan kesal.


"Ya, pokoknya usahakan selesai secepatnya sebelum saya menikah," pinta Ahmad.


"Bapak dan anak sukanya main cepat-cepat-cepat. Kalian pikir mengurus yang seperti ini seperti memasak yang hitungan menit bisa langsung selesai," gerutu Pak Slamet.


***


      Aulia belakangan ini sering memimpikan Yusril, bapaknya. Dia menjadi merindukan mendiang ayahnya itu.

__ADS_1


"Kek, Aulia sudah lama tidak mengunjungi makam bapak. Apa boleh Aulia pulang dulu, sambil sekalian memberi tahu Pak RT juga tetangga Aulia di kampung halaman?" Aulia berharap bisa pergi.


"Boleh, sama siapa kamu akan pergi ke sana?" tanya kakek Yusuf.


"Mungkin sendirian, Kek," jawab Aulia.


"Tidak boleh. Seorang perempuan tidak boleh bepergian jauh seorang diri tanpa ditemani oleh mahramnya. Kakek dan Ara yang akan antar kamu ke sana," ujar kakek Yusuf.


"Nenek juga mau ikut," lanjut nenek Halimah yang datang sambil membawa pisang goreng dan bolu pisang yang tadi dibuatkan oleh Aulia.


"Apa tidak akan membuat kakek dan nenek capek?" Aulia tahu kalau kedua orang itu sudah sangat tua.


"Dari pada kamu pergi seorang diri," ujar kakek Yusuf.


"Kalau begitu Aulia akan ajak anak-anak yang bekerja di toko saja. Nenek dan kakek jangan capek-capek," ucap Aulia.


"Ya, itu lebih baik," kata kakek Yusuf.


***


"Siapa yang mau ikut aku mudik mau ziarah ke makam kedua orang tua aku?" tanya Aulia kepada teman-temannya yang bekerja di toko.


"Ke Kota Kembang?" tanya beberapa pegawainya.


"Iya," jawab Aulia dengan anggukkan.


"Mau" seru beberapa orang.


"Siapa yang mau ikut angkat tangan?" tanya Aulia.


Ada sekitar empat orang yang mau ikut sisanya menggelengkan kepala. Mereka yang tidak bisa ikut karena sering mabok dalam perjalanan ada juga yang sudah punya agenda sendiri.


"Ara, kamu suruh nenek Mintarsih tinggal di rumah kakek Yusuf selama kita pergi," ujar Aulia.


"Ba-ik," balas Mutiara.


Rencana Aulia di sambut senang oleh pegawainya. Mereka akan pergi berlima naik mobil milik Aulia. Selian mengunjungi makam kedua orang tua Aulia. Mereka juga ingin jalan-jalan ke tempat wisata yang ada di sana dan mereka akan menginap di hotel selama berada di sana karena rumah Aulia masih ada yang mengontrak. Perjalanan akan dilakukan setelah mereka sholat subuh.

__ADS_1


***


Kejadian apa yang akan terjadi selama Aulia kembali ke kampung halamannya? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2