Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 58. Aulia Jadi Pendiam


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip bacanya agar terbaca oleh sistem. Semoga hari kalian menyenangkan dan bahagia selalu.


***


Bab 58


     Mendengar nama Gus Fathir disebut oleh Aulia Adan Annisa, membuat Alvan penasaran. Dia ingin tahu sosok itu seperti apa. 


'Apa Gus Fathir itu orang seperti Ahmad?' batin Fathir.


     Saat Alvan membaca buku, dia tertidur tanpa sadar. Sampai Aulia membangunkan dirinya untuk sholat Ashar. 


"Ini jam berapa?" tanya Alvan sambil melirik ke arah handphone miliknya yang jauh dari jangkauan tangannya.


"Hampir jam empat sore," jawab Aulia.


"Apa? Aku sudah tertidur berapa lama?" tanya Alvan sambil berusaha memindahkan tubuhnya ke kursi roda.


"Mana saya tahu Tuan. Anda 'kan tadi tidak keluar lagi sejak masuk ke kamar setelah pulang dari Masjid. Aku juga baru pulang dari pesantren," kata Aulia.


     Ternyata harapan Alvan untuk bertemu dengan Fathir tidak terlaksana karena saat keluar dari kamar, dia melihat banyak tumpukan dus oleh-oleh. Dia sungguh penasaran dengan laki-laki yang bisa saja menjadi saingan cintanya.


     Aulia sudah memberikan tanda dan nama-nama pada dus yang berisi barang dan makanan. Aulia juga sudah menyiapkan koper milik Alvan dan memasukan baju yang bersih.


"Apa semua barang milik aku sudah di masukan kembali ke dalam koper?" tanya Alvan.


"Iya. Hanya baju yang sedang Tuan pakai dan satu setel lagi yang akan dipakai untuk besok," jawab Aulia.


"Lalu, baju untuk aku gunakan setelah mandi nanti mana?" tanya Alvan.


"Astaghfirullahal'adzim. Kok, aku sampai lupa." Aulia menepuk jidatnya. Lalu, dia pun membuka kembali koper baju milik Alvan.


***


     Akhirnya, Aulia bisa membawa kakek Yusuf dan nenek Halimah bersamanya ke Kota Kembang. Tentu setelah dibujuk pakai rayuan maut oleh Aulia dan Annisa.


     Sampai pulang Alvan masih penasaran dengan sosok Fathir. Apalagi Aulia kini agak berbeda, dia lebih diam dan tidak banyak memprotes apa yang dirinya katakan. Hal ini malah membuat Alvan gereget.


"Kamu kenapa?" tanya Alvan sebelum Aulia pulang ke rumahnya.

__ADS_1


"Ada apa, Tuan?" Aulia tanya balik.


"Kamu aneh sejak kemarin," balas Alvan sambil menatap penuh selidik.


"Itu mungkin perasaan Tuan saja. Aku merasa tidak berubah. Masih tetap Aulia," ucap Aulia.


"Tapi—"


"Tuan, aku harus cepat pulang. Kasihan kakek dan nenek, pastinya mereka ingin beristirahat," potong Aulia dan masuk ke dalam mobil.


"Benar, kamu berubah. Apa sudah terjadi sesuatu, ya?" gumam Alvan sambil melihat mobil Aulia yang pergi meninggalkan pekarangan rumahnya. 


"Bahkan tawaran aku untuk pakai sopir pengganti saja dia menolaknya. Pastinya dia juga merasa capek, jika langsung menyetir," lanjut Alvan masih berdiam diri di tempatnya.


***


     Kakek Yusuf dan nenek Halimah menempati kamar milik Aulia dahulu karena Aulia tidur di kamar bekas kedua orang tuanya. Halaman rumah Aulia juga kini rimbun oleh pohon-pohon agar udara lebih segar dan sejuk.


     Aulia juga berniat mempekerjakan seorang asisten rumah tangga untuk membantunya dan mengawasi kakek Yusuf dan nenek Halimah. Selian itu, orang ini juga merupakan seorang yang benar-benar membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidupnya dan anak-anaknya.


"Nenek … Kakek, kenalkan ini Bi Eneng. Dia akan membantu Aulia, tapi sampai sore hari. Kalau ada apa-apa bilang saja pada Bi Eneng," kata Aulia saat malam hari setelah mereka makan malam.


"Oh, semoga Bi Eneng bisa betah tinggal bersama kakek-kakek dan nenek-nenek ini," ucap kakek Yusuf.


"Tentu saja pastinya betah atuh, Kek. Apalagi, Aulia itu orang baik. Saya mah bisa dikasih kerja di sini saja sudah merasa senang," balas Bi Eneng sambil tersenyum ramah.


"Suami Bi Eneng bekerja di mana?" tanya nenek Halimah. Dia takut kalau saat suami Bi Eneng pulang ke rumah, perempuan itu masih berada di rumahnya.


"Saya janda beranak lima, Nek. Suami saya sudah meninggal lama, saat si bungsu masih dalam kandungan. Kini dia sudah PAUD," jawab Bi Eneng.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun," balas kakek Yusuf dan nenek Halimah.


"Itu kenapa Aulia ingin mempekerjakan Bi Eneng, Kek. Dia itu seorang janda dan memiliki anak yang masih kecil-kecil, paling besar itu kelas satu SMP. Pekerjaan Bi Eneng yang serabutan, tentu saja kadang tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya," ucap Aulia.


"Bagus, Nak. Kamu sudah memikirkan kebaikan untuk orang keluarga orang lain," kata kakek Yusuf.


***


     Aulia seperti biasa pagi-pagi setelah mengaji, dia memasak untuk sarapan dirinya dan kedua orang tua yang kini tinggal bersamanya. Setelah itu, dia pergi ke rumah Alvan dan mengurus Tuannya itu.

__ADS_1


     Sekarang Aulia lebih menjaga ucapannya. Dia takut jika ada perkataannya dapat melukai perasaan orang lain. Maka, dia memilih membatasi ucapannya.


"Tuan, saya sudah selesai membuat sarapan dan makan siang saya tidak membuat karena nanti akan ada jadwal makan siang bersama rekan kerja," kata Aulia sambil melihat jadwal yang sudah diberikan oleh Mario semalam.


"Hn," balas Alvan yang sudah siap untuk keluar dari kamarnya.


    Aulia pun mendorong kursi roda menuju lift. Lagi-lagi Alvan diam-diam memperhatikan Aulia dari pantulan dinding lift.


     Saat di kantor pun Aulia tidak terlalu banyak bicara. Dia malah terlihat seperti semangat mengerjakan semua tugasnya yang menumpuk di atas meja.


     Alvan sungguh merasa sangat diabaikan oleh asistennya. Saat dia ingin memanggil Aulia, telepon di meja kerjanya berbunyi.


"Ya, ada apa, Yukari?" tanya Alvan.


^^^"Ada Tuan Rangga dan Tuan Barata ingin bertemu dengan Anda saat ini," jawab Yukari.^^^


"Suruh mereka masuk," ucap Alvan.


     Mendengar nama Rangga dan Barata disebut oleh Yukari, membuat Alvan teringat akan sosok perempuan yang pendiam di kampung kakek Yusuf. Suara ketukan di pintu membuat Alvan menghentikan pekerjaannya.


     Kedatangan Rangga dan Barata ke dalam kantor Alvan membuat Aulia sangat terkejut. Kini dia bisa melihat sosok ayah tiri Mutiara yang sudah tega menyiksa sahabatnya itu.


     Laki-laki paruh baya yang masih terlihat bugar dan berwajah sangat ramah itu terlihat tersenyum kepada Alvan. Orang-orang tidak akan menyangka kalau laki-laki itu punya kepribadian yang kejam.


"Hai, Alvan," sapa Rangga.


"Selamat siang, Alvan," ucap Barata.


"Hai, Rangga. Selamat siang, Om," balas Alvan.


"Aku dengar kamu kemarin pergi berlibur bersama Aulia," kata Rangga sambil tersenyum menggoda sahabatnya.


"Iya, aku ingin menenangkan hati dan pikiran aku. Lumayan aku sangat betah dan senang saat liburan kemarin," balas Alvan.


"Kemana kamu pergi berlibur kemarin?" tanya Barata penasaran.


'Inikah laki-laki yang sudah membuat hidup Ara menderita?' Aulia mengepalkan tangannya dengan kuat. Tiba-tiba saja rasa benci muncul dalam hatinya.


***

__ADS_1


Akankah Alvan jujur sudah pergi ke mana? Apa yang akan Aulia lakukan setelah bertemu dengan Barata? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2