
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan bahagia selalu.
***
Bab 62
Saat hendak pulang dari kantor ada telepon masuk ke handphone milik Alvan. Dia melihat kalau yang menghubunginya adalah sang ibu.
"Assalamu'alaikum, mami."
^^^"Wa'alaikumsalam."^^^
"Ada, Mi? Tumben telepon sore hari."
^^^"Mami ingin kamu datang ke rumah setelah pulang dari kantor!"^^^
"Tidak bisa, Mi. Aku punya jadwal padat hari ini."
^^^"Sebentar saja. Jangan bantah!"^^^
"Mami ini suka sekali maksa. Aku—"
^^^"Datang kalau nggak mau Mami bongkar rahasia kamu sama Aulia!"^^^
"Wah, mami bisanya main ngancam."
^^^"Ini demi masa depan kamu juga. Bakal nyesel kamu kalau nggak nurut sama mami."'^^^
"Iya, deh. Aku ke rumah mami nanti. Aku tidak mau jadi anak durhaka karena membantah keinginan orang tuanya."
^^^"Nah, bagus itu! Kamu juga tahu."^^^
"Kan, aku sudah belajar sama Aulia, Mi. Tidak boleh melawan orang tua. Turuti keinginannya selama itu tidak bertentangan dengan perintah Allah."
^^^"Aduh, anak mami semakin jadi orang baik saja. Mami dukung deh, kamu sama Aulia!"^^^
"Bener, nih, Mi!"
^^^"Kalau kamu nggak mau, akan mami jodohkan Aulia sama David. Dia sebentar lagi juga pulang ke Indonesia."^^^
__ADS_1
"Jangan, dong, Mi!"
^^^"Ya sudah, makanya kamu datang ke rumah mami nanti sepulang kerja!"^^^
***
Aulia menatap ke arah luar jendela karena ini jalur yang berbeda dari biasanya mereka pulang. Namun, kawasan Kota Kembang tidak asing baginya yang dulu suka kelayapan bersama Rangga dan teman-temannya juga. Meski begitu dalam waktu 5 tahun lebih ini, banyak perubahan di beberapa tempat.
Mata Aulia menyipit saat mereka memasuki perumahan elit yang bangunannya bagus-bagus dan megah juga luas. Dia tahu kawasan ini, dulu punya teman yang tinggal di dekat sini.
Saat mobil Alvan akan memasuki sebuah rumah yang besar dan megah. Aulia melihat dua orang yang sedang bertengkar. Mereka bicara dengan saling berteriak. Dia bisa mendengar dan melihat secara jelas apa yang sedang terjadi di sana karena mobil Alvan berhenti di sana .
"Karmila. Kamu tidak boleh bicara kasar kepada mamaku!" teriak Rangga.
"Aku tidak akan bicara kasar, jika dia tidak memulai duluan bicara kasar sama aku!" balas Karmila berteriak.
"Seharusnya kamu maklumi mama tadi. Dia marah karena kita sudah menutupi hasil tes itu selama dua tahun," ucap Rangga.
"Maklum, kata kamu! Seharusnya mama kamu yang memaklumi aku dan bahkan seharusnya bersimpati kepada aku. Karena aku ini wanita cacat yang tidak bisa hamil." Telunjuk Karmila menunjuk-nunjuk dadanya masih sambil berteriak.
"Tapi tidak seharusnya juga kamu membalas seperti tadi. Mana ada orang yang suka di bilang biiiip biiiip." Rangga menatap tajam pada istrinya.
"Aku juga punya hati dan perasaan yang akan sakit dan terluka jika disebut wanita mandul tidak berguna. Kamu pikir aku akan diam saja saat ada orang melukai harga diriku? Aku juga tidak mau terlahir jadi seorang wanita mandul. Pastinya semua perempuan di dunia ini ingin merasakan hamil dan punya anak." Karmila menunjuk pada Rangga.
"Seharusnya kamu dan keluarga kamu yang instrospeksi diri. Dulu, kamu sudah menghamili kekasih kamu dan tidak mau bertanggung jawab. Bahkan mama kamu menyuruhnya untuk menggugurkan bayi itu. Lihat akibatnya sekarang! Kalian tidak bisa diberikan cucu lagi. Baru tahu rasa!" Karmila tersenyum miring dan meremehkan kepada Rangga.
Rangga sangat terkejut karena hal ini tidak ada yang tahu kecuali keluarganya dan keluarga Aulia. Dia yakin tidak ada orang lain yang tahu.
"Terimalah karma kalian! Dasar manusia-manusia tidak tahu malu," lanjut Karmila dengan sarkas dan membuka pintu mobilnya. Namun, Rangga menahan tangannya agar jangan masuk.
Tentu saja Rangga sangat marah pada istrinya saat mendengar kata-kata ini keluar dari mulutnya. Kemudian dia pun berkata, "Lalu, bagaimana dengan diri kamu? Seorang wanita berstatus istri suka berkeliaran dan tidur bersama laki-laki lain."
Aulia dan Alvan hanya terbengong melihat pertengkaran pasangan suami istri itu. Mereka tidak tahu kelanjutan yang terjadi di sana karena mobil keburu masuk ke dalam gerbang rumah orang tua Alvan.
'Hubungan rumah tangga kak Rangga sangat tidak harmonis. Bahkan mereka tidak malu bertengkar di tempat umum dan dilihat oleh orang lain. Semoga kak Rangga secepatnya bisa mengatasi masalah dalam kehidupan rumah tangga mereka,' batin Aulia.
'Si Karmila itu mandul? Syukurin deh, bahaya kalau punya anak, bisa-bisa nanti di siksa seperti Ara. Kenapa aku malah senang mengetahui kalau si Karmila juga punya cacat dalam hidupnya,' batin Alvan.
***
__ADS_1
Mami Siska dan papi Kenzo sangat senang menyambut kehadiran putra mereka. Apalagi ada Aulia ikut mereka ke sana.
"Mami dengar dari dokter, kalau kamu memulai lagi terapi yang sempat terhenti. Benarkah itu?" tanya Mami Siska.
"Iya, Aku memulai lagi terapinya," jawab Alvan.
"Bagus, Sayang. Mami tahu kalau kamu itu pasti bisa jalan kembali jika berusaha dengan gigih dan ada kemauan," ucap mami Siska.
"Apa yang menyebabkan kamu mau melakukan terapi lagi?" tanya papi Kenzo.
"Eh, itu … ada sesuatu yang membuat aku harus bisa jalan lagi. Lagian aku tidak mau hidupku selalu merepotkan orang lain," jawab Alvan.
"Mi, tuh 'kan, apa kata papi. Alvan kini jadi cerewet," ujar papi Kenzo sambil melirik ke arah istrinya.
"Benar, juga. Kamu sekarang berubah, Sayang. Mami suka itu," lanjut mami Siska.
"Maksud Papi dan Mami, apa?" tanya Alvan tidak mengerti.
"Dulu itu kamu irit bicara. Apalagi setelah kecelakaan itu, hampir tidak bicara saking jarangnya. Sampai-sampai kami juga menduga kalau kamu itu selain menjadi lumpuh, kamu juga kehilangan kemampuan berbicara," jawab papi Kenzo.
"Betapa senangnya kami saat mendengar suara kamu dulu," tambah mami Siska.
"Papi dan Mami, terlalu berlebihan," sanggah Alvan.
"Tapi mami senang, mendengar kamu jadi suka berbicara seperti ini. Benarkan, Pi?" Mami Siska melihat ke arah suaminya meminta dukungannya.
"Iya, kamu sudah lebih manusiawi sekarang," jawab papi Kenzo.
"Sepertinya, ini semua berkat Aulia," kata Alvan.
Aulia yang sejak tadi duduk terdiam di sofa tunggal, terkejut saat Alvan menyebut namanya. Dia tidak mengerti apa hubungan dirinya dengan atasannya itu kini suka bicara. Setahu dia, tuannya itu memang suka bicara padanya. Bahkan menurut Aulia, laki-laki itu lebih cerewet dibandingkan dengan Fathir.
"Kenapa aku?" tanya Aulia sambil mengerutkan keningnya karena tidak mengerti.
"Gara-gara kamu suka mengomel tiap hari, aku pun jadi ketularan," jawab Alvan tanpa merasa malu sebab ulah dirinyalah Aulia menjadi ngomel terus.
'Astaghfirullahal'adzim. Aku tidak akan mengomel, jika tuan tidak melakukan hal-hal yang membuat aku kesal,' batin Aulia.
"Apa? Kamu suka diomeli sama Aulia!" mami Siska memekik.
__ADS_1
***
Apa yang akan terjadi di rumah orang tua Alvan? Tunggu kelanjutannya, ya!