Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 87. Aulia Jatuh Sakit


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 87


Tubuh Aulia panas sekali dan ini membuat Nenek Halimah panik. Tadi, anak gadis itu belum ada di ruang mushola, sesuatu yang belum terjadi sebelumnya. Lalu, beliau pun hendak membangunkan perempuan ini untuk melakukan sholat tahajud bersama. Namun, betapa terkejutnya saat melihat Aulia masih terbaring dengan wajah yang memerah.


"Astaghfirullah, Aulia." Nenek Halimah menyentuh wajah dan leher milik sang gadis.


"Pak! Pak! Tolong Aulia," seru wanita tua itu kepada suaminya.


Tidak lama kemudian datang Kakek Yusuf. Dia pun menyentuh tangan dan wajah Aulia, yang terasa sangat panas.


"Bu, bapak akan ambil air hangat untuk kompres!" kata Kakek Yusuf kepada Nenek Aulia. 


"Biar ibu saja yang ambil, Pak." Nenek Halimah pun beranjak dari kursinya.


"Jangan, lebih baik ibu temani Aulia. Kasih air minum jika dia bangun," ucap Kakek Yusuf.


Nenek Halimah pun membangunkan Aulia agar dia terjaga dan memberinya air minum yang banyak. Meski suhu tubuh Aulia sangat panas, tetapi tidak ada keringatan.


"Minum yang banyak, biar tidak dehidrasi," ujar Nenek Halimah sambil memegang gelas yang sedang diminumkan airnya pada Aulia.


Kepala Aulia terasa sakit dan pandangan juga menguning. Tenggorokan sakit dan sekujur tubuhnya terasa sudah dipukuli.


"Ini air hangatnya," kata Kakek Yusuf sambil membawa baskom air berukuran sedang.


Lalu, Nenek Halimah pun mengompres kening, perut bagian bawah pusar. Kain itu ukurannya memanjang, jadi cukup satu lap untuk mengkompres bagian perut setengah lingkaran. Wanita tua itu pun melafalkan doa untuk Aulia.


"Bismillahil Kabiiri. Nauudzu Billaahil Adhiimi Mm Syarri Irqin Na aarin Wa Min Syarri Harrin Naari."


(Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan nama Allah Yang Maha Besar. Saya berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dari kejahatan yang menguras keringat yang mendidihkan darah dan kejahatan panas api neraka.)


Begitu juga dengan Kakek Yusuf. Beliau membacakan surat Al Fatihah sebanyak 7 kali. Lalu, membacakan doa.


“Imsahil ba’sa rabban nāsi. Bi yadikas syifā’u. Lā kāsyifa lahū illā anta.”


(Artinya: “Tuhan manusia, sapulah penyakit ini. Di tangan-Mu lah kesembuhan itu. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Kau.")


Hari itu pun Kakek Yusuf dan Nenek Halimah sholat di kamar Aulia. Mereka belum bisa membawa Aulia ke dokter. Selain masih terlalu dini hari, mereka juga tidak tahu dokter di lingkungan itu. Niatnya setelah subuh, Kakek Yusuf akan minta tolong kepada Pak RT untuk mengantarkan mereka ke dokter atau rumah sakit.

__ADS_1


***


Aulia akhirnya dibawa ke rumah sakit. Sebab, keadaan demamnya semakin tinggi. Mereka takut ada sesuatu yang terjadi pada Aulia nantinya.


Perempuan itu mendapat penanganan begitu masuk ke UGD. Kini Aulia sudah berada di ruang rawat inap. Dia dipasang selang cairan infus di tangan kanannya.


"Apa Alvan sudah dihubungi?" tanya Nenek Halimah.


"Sudah. Tadi bapak bilang Aulia tidak bisa masuk kerja karena sedang sakit," jawab Kakek Yusuf yang kini ikut duduk di samping brankar. 


Pasangan manula itu bergantian membaca Alquran di samping Aulia. Mereka juga tiada hentinya mendoakan dan meminta kesembuhan untuk Aulia.


***


Alvan buru-buru mandi begitu mendengar kabar Aulia jatuh sakit dan saat ini sedang berada di rumah sakit. Betapa kalutnya pikiran dia saat ini. Sebab, hari kemarin perempuan itu tidak banyak bicara seperti biasanya. Dia mengira kalau hal itu dikarenakan masih canggung, tidak ada pikiran kalau Aulia sedang tidak enak badan. Bahkan saat pulang pun dia memintanya ikut ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Alasannya karena sang mami ingin bertemu dan membicarakan sesuatu yang penting dalam urusan wanita.


"Kenapa kemarin, Aulia tidak bilang kalau sedang sakit," gumam Alvan dengan tangan yang sibuk memasangkan jam tangan.


"Aku harus cepat-cepat ke rumah sakit," lanjutnya sambil menggunakan sepatu miliknya. 


Saat hendak membuka pintu depan rumah, Mami Siska memanggilnya. Namun, Alvan malah berteriak kalau dia harus buru-buru pergi.


***


Begitu juga dengan Gus Fathir. Dia baru saja sampai di rumah ke rumah Aulia. Ibu RT bilang kalau Aulia sedang berada di rumah sakit. 


"Ke rumah sakit mana Aulia dibawa?" tanya Gus Fathir pada wanita paruh baya itu.


"Sepertinya ke rumah sakit umum, karena kata bapak Aulia harus dirujuk ke rumah sakit oleh dokter," jawab Bu RT.


Dengan dibawanya Aulia ke rumah sakit, itu membuktikan kalau sakitnya parah. Tentu saja ini membuat Gus Fathir merasa terkejut, karena semalam dia dan Aulia masih berkirim pesan. 


"Terima kasih, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Gus Fathir.


"Assalamu'alaikum," lanjut laki-laki berpenampilan rapi.


"Wa'alaikumsalam," balas Bu RT dengan arah pandangan terus kepada Gus Fathir yang masuk ke dalam mobil.


"Apa Ustadz Fathir itu calon suaminya Aulia, ya?" gumamnya.


***

__ADS_1


Gus Fathir dan Alvan datang bersamaan di parkiran rumah sakit. Keduanya merasa kalau mereka akan menjenguk Aulia.


"Assalamu'alaikum," salam Gus Fathir.


"Wa'alaikumsalam," balas Alvan saling berjabatan tangan.


Keduanya tidak bicara apapun, mereka langsung menuju ke resepsionis atau bagian informasi yang ada di dekat pintu masuk utama. Alvan dan Gus Fathir bertanya pada seorang wanita berseragam putih, secara bersamaan.


"Nona Aulia berada di ruang mawar nomor 5.11," balas wanita itu dengan gugup karena di tanya oleh dua orang laki-laki tampan.


"Terima kasih," balas keduanya, lalu mereka pun berjalan cepat ke arah lift.


Lagi-lagi mereka bersamaan saat memencet tombol. Meski dalam hati mereka tidak suka bisa bersamaan datang menjenguk Aulia. Namun, apa boleh buat sudah takdirnya mereka bertemu di sana.


Begitu pun saat hendak membuka pintu ruang rawat inap itu. Keduanya bersamaan memegang handle pintu.


Tidak mau saling mengalah, keduanya masuk saling dorong agar bisa lebih dahulu sampai ke sana dan bertemu Aulia. Betapa senangnya mereka saat melihat gadis itu sedang duduk sambil berdzikir. Terlihat dari tasbih yang sedang digerakkan di tangan kanannya.


"Gus Fathir … Alvan? Kalian tidak kerja hari ini?" tanya Kakek Yusuf merasa heran dengan kedua laki-laki yang kini berdiri di dekat pintu.


"Saya sedang libur," jawab keduanya bersamaan.


Aulia melihat ke arah mereka berdua. Alisnya mengkerut, tanda dia merasa heran.


'Bukannya sekarang ini hari Kamis. Biasanya Gus Fathir masuk ke kampus. Begitu juga dengan Tuan Alvan, yang biasanya selalu bekerja  keras. Tidak ada tidak hari libur baginya. Apalagi bolos di jam kerja.' (Aulia)


***


Apa yang akan terjadi di sana? Saat ada dua laki-laki dewasa yang ingin memberikan perhatian kepada Aulia? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku yang lainnya.


CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku


Shine dan Amira yang mengharapkan kehadiran buah hati mereka. Masih dalam bayang-bayang musuh yang mengintai sang ahli waris. Mereka mengira kalau musuh sudah dibereskan semuanya. Namun, ternyata itu salah.


Bagaimana cara Shine melindungi Amira dan buah hati yang sekarang menjadi target baru incaran para musuh mereka?


Apakah semua akan selamat? Atau akan ada yang jadi korban?


__ADS_1


__ADS_2