Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 45. Bertemu Mami Siska dan Tuan Kenzo


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia selalu.


***


Bab 45


     Namanya dipanggil oleh Rangga membuat Aulia menegang. Dia bingung harus apa saat ini.


      Rangga masih menatap Aulia dengan intens. Dia yakin kalau wanita bercadar itu adalah Aulia.


"Loh, Rangga, ya? Apa kabar?" tanya Fathir sambil tersenyum.


"Alhamdulillah, baik," jawab Rangga.


"Aulia, bukannya kamu sedang terburu-buru? Cepatlah pergi!" titah Fathir sambil tersenyum.


"Benarkan kamu, Aulia?" Rangga masih merasa itu adalah Aulia kekasihnya.


"Iya, dia cucu Ustadz Yusuf, tetangga aku. Kamu ingat dulu sama laki-laki yang duduk di samping kamu yang punya calon istri bernama Aulia. Dialah orangnya," jelas Fathir.


"Ya, aku pernah bertemu beberapa kali dengannya. Setiap melihat kamu aku selalu teringat akan kekasihku," ujar Rangga.


"Saya permisi duluan," kata Aulia yang jantungnya berdebar. Dia takut ketahuan oleh Rangga kalau itu adalah dirinya.


     Aulia berjalan dengan cepat meninggalkan masjid. Menuju rumah makan karena perutnya sudah kelaparan. Setelah lelah beradu debat dan argumen dengan Alvan, bertemu dengan Fathir, dan terakhir terkejut dengan pertemuannya bersama Rangga.


      Aulia memilih meja paling pojok dan memunggungi orang-orang sehingga tidak ada yang melihat wajahnya saat makan. Niatnya dia mau makan di rumah tadinya, tetapi keadaan mengharuskan dia makan secepatnya.


"Permisi, apa boleh saya ikut makan di sini?" tanya seseorang yang berdiri di samping Aulia.


      Aulia pun melirik kepada pemilik suara. Ternyata seorang wanita paruh baya yang pernah bertemu dengannya kemarin.


"Mami Siska? Silakan!" Aulia tersenyum.


"Eh, kamu …?" Mami Siska ragu akan sosok gadis yang sedang tersenyum kepadanya.


"Saya Aulia," balas Aulia.


"Oh, Tuhan. Kamu, Aulia. Maaf mami tidak bisa langsung mengenali diri kamu," ucap Mami Siska sambil duduk di hadapan Aulia.


"Tidak apa-apa," pungkas Aulia.

__ADS_1


       Keduanya pun makan dan sesekali mereka mengomentari makanan yang mereka makan. Aulia selesai lebih dahulu karena tadi memang sedikit lagi.


      Obrolan keduanya terhenti saat handphone milik mami Siska berbunyi. Wajah wanita itu terlihat panik dan dengan cepat membereskan barang yang dibawanya tadi.


"Ada apa Mami Siska?" tanya Aulia.


"Suami saya sedang dirawat di rumah sakit. Katanya stok darah B sedang kosong di rumah sakit, dan di PMI juga kebetulan habis juga. Mami harus mencari pendonor," jawab mami Siska.


"Kalau golongan darah B, Aulia juga bergolongan darah B," kata Aulia.


"Benarkah?" tanya mami Siska senang.


"Iya, Mami Siska. Jika, suami Mami memerlukan darah B, Aulia bersedia mendonorkan darah," jawab Aulia dengan senyum lembutnya.


"Terima kasih Aulia, kamu baik sekali!" ujar mami Siska sambil memegang tangan Aulia.


    Mereka pun pergi ke rumah sakit yang tidak begitu jauh dari rumah makan tadi. Mami Siska juga tadi pergi hanya untuk makan siang saja dan akan kembali ke rumah sakit untuk menunggui suaminya yang sedang sakit.


***


"Syukurlah Anda cepat mendapatkan pendonor dan lihat keadaan Tuan Kenzo sekarang! Wajahnya sudah tidak pucat lagi," ucap dokter.


     Seperti Aulia yang punya gaya hidup sehat, maka kualitas darahnya pun bagus dan langsung terasa segar saat darah itu masuk ke dalam tubuh suaminya mami Siska. Biasanya satu kantong labu darah cukup jika kualitas darahnya seperti itu.


"Aulia terima kasih banyak, ya." Mami Siska memeluk tubuh Aulia.


"Aulia merasa senang bisa menolong Tuan Kenzo. Bukannya kita sesama manusia harus saling tolong menolong," ucap Aulia dengan tatapan hangatnya.


"Kamu adalah gadis terbaik yang pernah mami kenal. Kamu sudah beberapa kali menolong mami. Entah harus bagaimana mami membalas kebaikan kamu ini," tukas mami Siska. Dia sungguh suka kepada kepribadian Aulia.


"Tidak perlu, Mami Siska. Aulia melakukan ini semua ridho lillahi ta'ala. Biar Allah yang membalas perbuatan Aulia ini," kata Aulia.


"Ah, rasanya mami ingin menjadikan kamu menantu mami," ujar mami Siska sambil tersenyum. Aulia hanya tersenyum tipis.


    Posisi Ahmad dalam hatinya belum ada yang menggeser. Sosok laki-laki idaman dirinya. Setidaknya dia mencari calon suami yang tidak jauh seperti Ahmad.


     Setelah sholat Ashar, Aulia pulang ke rumahnya dan mengirimkan barang-barang yang tadinya mau dijadikan oleh-oleh kepada para pegawai dan tetangga di kampung halaman satu lagi. Aulia memilih pengirim jasa yang dipercaya olehnya terjamin pelayanan dalam pengiriman barang.


"Besok kerja aku pakai baju apa, ya? Aku nggak pernah kerja kantoran. Jadi, tidak tahu setelan gamis muslimah saat kerja kantor seperti apa," gumam Aulia sambil membuka-buka internet mencari referensi baju kerja.


"Mana baju yang aku bawa hanya gamis untuk sehari-hari," lirih Aulia.

__ADS_1


***


     Setelah sholat Subuh dan dilanjutkan dzikir pagi dan mengaji Al Qur'an. Aulia segera membuat sarapan, lalu mandi. Dia harus pergi ke rumah Alvan jam 06.30 dan menyiapkan segala keperluannya.


     Bermodalkan alamat dan peta digital, akhirnya Aulia sampai juga ke sebuah rumah yang besar dan rindang oleh tumbuh-tumbuhan dan juga rumput hijau. Aulia minta izin pada satpam rumah untuk masuk, setelah mengenalkan dirinya. Ternyata satpam itu sudah tahu akan kedatangan dirinya.


"Nona masuk saja langsung, tuan Alvan biasanya sudah bangun," kata pelayan wanita.


"Apa? Mana boleh seperti itu tiba-tiba masuk ke kamar laki-laki," ujar Aulia terkejut saat wanita paruh baya memakai baju seragam.


"Itu sudah biasa di sini, Nona. Karena itu juga perintah tuan Alvan," tukas pelayan itu lagi.


    Aulia pun masuk ke dalam lift menuju lantai 3, tempat kamar tuannya. Para pelayan di sana pun berbisik-bisik begitu Aulia masuk ke dalam lift.


"Siapa wanita itu? Kenapa tuan Alvan mengizinkan dia masuk ke kamarnya?" tanya pelayan lainnya.


"Iya, biasanya kita dilarang masuk ke dalam kamar dan ruang kerjanya, kecuali kepala pelayan," sahut pelayan lainnya.


"Iya. Mana wanita itu pakai cadar, lagi," ujar yang lainnya.


***


     Aulia mengetuk pintu kamar Alvan dan mengucapkan salam. Sudah lebih dari 10 menit 30 detik Aulia berdiri di sana. Pintu kamar itu tidak dibuka juga, maka dia pun menghubungi Alvan lewat telepon.


"Tuan, saya sudah berdiri di depan pintu kamar Anda sudah lebih dari sepuluh menit," kata Aulia begitu Alvan mengangkat teleponnya.


^^^"Bukannya kamu di suruh langsung masuk ke dalam kamar aku," balas Alvan.^^^


"Tuan, itu perbuatan tidak baik. Harus ada adab saat kita masuk ke tempat pribadi seseorang. Aku minta izin masuk, lalu Anda memberikan izin, baru aku bisa masuk. Begitu adabnya, Tuan," ujar Aulia menahan diri dan mengingatkan dirinya harus sabar.


^^^"Oh, kalau begitu kamu boleh masuk," kata Alvan di seberang sana.^^^


    Aulia pun masuk ke kamar Alvan. Kamar yang luas dan berwarna putih abu. Hal yang membuat Aulia kesal kepada Alvan tambah lagi.


"Astaghfirullahal'adzim, Tuan! Apa yang sedang Anda lakukan?" teriak Aulia.


"Kenapa reaksi kamu seperti itu?" tanya Alvan tanpa merasa bersalah.


***


Apa yang sedang Alvan lakukan? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2